Longsoran terjadi saat tim bergerak menuju puncak, di bawah Camp III, tepatnya di jalur utama yang menghadap ke barat. Waktu kejadian dilaporkan sekitar pukul 09.00 waktu setempat, meski sejumlah laporan menyebut sekitar tengah hari pada 30 Juli .
Saksi menggambarkan longsoran itu sebagai “tsunami salju dan es” yang bergerak cepat dan menelan para pendaki . Kontak tim dengan base camp terputus setelah kejadian tersebut.
Ekspedisi itu beranggotakan 10 orang: Purja, lima pendaki Nepal lainnya, seorang pendaki Pakistan, seorang pendaki Oman, seorang warga Amerika Serikat, dan seorang pendaki dari China. Mereka merupakan bagian dari operasi pendakian Elite Exped . Laporan awal menyebut tim memilih bertahan di ketinggian meski kondisi gunung memburuk, tetapi alasan lengkap di balik keputusan tersebut belum jelas .
Yayasan Nimsdai mengonfirmasi bahwa seluruh 10 pendaki meninggal . Elite Exped mengumumkan kematian Purja pada 1 Agustus, mengakhiri ketidakpastian setelah ia sempat dilaporkan hilang .
Tim penyelamat Angkatan Darat Pakistan menemukan dan mengevakuasi empat jenazah pada Jumat, 31 Juli . Enam jenazah lainnya kemudian ditemukan, termasuk jenazah Purja . Ia berusia 43 tahun.
Di antara korban lain terdapat dua rekan pendakian dan pemandu yang dipercaya Purja, yakni Pur Bahadur Gurung, yang dikenal dengan nama “Yukta”, dan Nima Sherpa .
Militer Pakistan mengerahkan helikopter untuk membantu pencarian, sementara tim penyelamat darat yang didukung Angkatan Darat Pakistan menyisir lokasi longsoran dan berupaya mengevakuasi para pendaki .
Cuaca buruk menghambat penerbangan helikopter dan memperlambat proses pencarian serta pengangkutan jenazah . Divisi komunikasi Angkatan Darat Pakistan mengoordinasikan operasi dan menyampaikan perkembangan jumlah jenazah yang ditemukan melalui pernyataan resmi .
Purja meraih perhatian dunia melalui Project Possible pada 2019. Ia menaklukkan seluruh 14 puncak dunia dengan ketinggian lebih dari 8.000 meter—yang kerap disebut sebagai “delapan ribuan”—dalam waktu enam bulan enam hari. Catatan itu memangkas rekor sebelumnya lebih dari tujuh tahun . Purja tercatat sebagai orang ke-39 yang menyelesaikan pendakian seluruh 14 puncak tersebut .
Perjalanannya diabadikan dalam film dokumenter Netflix 14 Peaks: Nothing Is Impossible, yang memperkenalkan sosoknya kepada penonton global . Sebelum berkarier sebagai alpinis, Purja bertugas sebagai tentara Gurkha dan kemudian menjadi anggota Special Boat Service (SBS), satuan elite Angkatan Laut Kerajaan Inggris . Atas jasanya dalam dunia pendakian gunung, ia dianugerahi gelar Member of the Order of the British Empire (MBE) .
Pada 2021, Purja memimpin tim yang mencatat pendakian musim dingin pertama K2 bersama tim yang seluruhnya berasal dari Nepal . Tiga tahun kemudian, ia menorehkan dua rekor dunia baru untuk pendakian seluruh 14 puncak delapan ribuan tanpa oksigen tambahan, dengan catatan waktu dua tahun empat bulan 28 hari .
Menurut catatan kariernya, Purja mengoleksi 52 pendakian ke puncak-puncak setinggi 8.000 meter dan 18 Guinness World Records .
Nirmal Purja—yang akrab dipanggil “Nimsdai” atau “Nims”—meninggal saat memimpin ekspedisi di gunung yang menjadi bagian dari fase berikutnya dalam karier pendakiannya. Elite Exped, perusahaan pemandu yang ia dirikan bersama, menjadi penyelenggara pendakian tersebut .
Tragedi Broad Peak mengakhiri hidup salah satu figur paling berpengaruh dalam pendakian gunung ketinggian ekstrem. Ia meninggalkan jejak berupa berbagai rekor, film yang menginspirasi penonton di seluruh dunia, serta yayasan yang berfokus mendukung komunitas Nepal.