Sebagai bagian dari skema tersebut, masing-masing dari 211 asosiasi anggota FIFA ditawari pembayaran satu kali sebesar US$20 juta apabila mendukung proposal sebelum tenggat 19 September 2026 .
Namun, rencana itu tidak bertahan lama. Hanya empat hari setelah diumumkan, tekanan dari konfederasi, klub-klub besar, dan lingkaran internal FIFA membuat Infantino membatalkannya. Pada 1 Agustus 2026, FIFA mengonfirmasi bahwa FFE tidak akan dilanjutkan .
Penolakan paling keras datang dari UEFA, badan sepak bola Eropa yang menaungi 55 asosiasi nasional. UEFA menyatakan akan memboikot seluruh kompetisi FIFA jika proposal tersebut diteruskan. Mereka menyebutnya “tidak bertanggung jawab” dan menegaskan bahwa “jiwa dan tata kelola sepak bola bukan untuk dijual” .
Dalam pertemuan darurat, seluruh 55 anggota UEFA menyatakan penolakan secara bulat. UEFA menilai proposal tersebut telah melewati “garis berbahaya” karena diajukan tanpa transparansi dan konsultasi yang memadai .
CONCACAF—konfederasi yang menaungi 41 asosiasi di Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia—menolak proposal itu setelah menggelar pertemuan darurat pada 30 Juli 2026 .
Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) juga menyatakan keprihatinan serius. Mereka mengatakan telah dikejutkan oleh rencana tersebut dan mempertanyakan proses FIFA yang dianggap tidak melibatkan konfederasi sejak awal .
Dengan UEFA, CONCACAF, dan AFC berada di kubu penentang, proposal FFE menghadapi penolakan dari bagian-bagian penting dalam struktur sepak bola internasional.
Di tingkat klub, Real Madrid dan Juventus secara resmi bergabung dalam barisan penentang pada 31 Juli 2026, menurut laporan Bloomberg. Argumen utama mereka adalah bahwa FIFA tidak memiliki kewenangan hukum atau konstitusional untuk memisahkan bisnis komersialnya, memasukkan hak kompetisi ke sebuah perusahaan berorientasi laba, lalu menjual kepemilikannya kepada investor luar .
Menurut sudut pandang tersebut, FIFA adalah asosiasi yang dibentuk oleh para anggotanya, bukan pemilik tunggal sepak bola dunia. Karena itu, hak komersial Piala Dunia dan tim nasional dianggap tidak bisa diperlakukan seperti aset perusahaan biasa.
Pejabat sepak bola Jerman, termasuk Presiden DFB Bernd Neuendorf, menyebut proposal itu sebagai “serangan langsung terhadap sepak bola” dan “menjijikkan”. Klub-klub Bundesliga juga berada dalam barisan yang menentang rencana tersebut .
Bayern Munich dan Borussia Dortmund disebut dalam konteks penolakan sepak bola Jerman terhadap proposal itu, tetapi laporan yang tersedia secara khusus menyebut Real Madrid dan Juventus sebagai klub yang bergabung menentang rencana FFE .
Keberatan klub bukan hanya soal kepemilikan, melainkan juga pembagian risiko dan pendapatan.
Klub-klub berpendapat bahwa merekalah yang menanggung biaya nyata ketika pemain dipanggil tim nasional: risiko cedera, pembayaran gaji, serta jadwal pertandingan yang semakin padat. Namun, mereka merasa tidak memperoleh bagian yang adil dari pendapatan komersial yang dihasilkan kompetisi FIFA .
Jika hak-hak tersebut kemudian ditempatkan di perusahaan yang sebagian dimiliki investor swasta, klub khawatir mereka akan semakin jauh dari aliran pendapatan—sementara beban dan risikonya tetap berada di pundak mereka.
Konfederasi-konfederasi regional mengatakan tidak diajak berkonsultasi sebelum proposal diumumkan . Para penentang juga menilai tawaran pembayaran langsung sebesar US$20 juta kepada setiap asosiasi anggota dapat menjadi bentuk tekanan finansial agar federasi mendukung rencana tersebut tanpa perdebatan yang memadai .
Pertanyaan lain muncul terkait calon investor utama, yaitu Joshua Kushner, adik ipar Jared Kushner dan pendiri perusahaan investasi Thrive Capital. Kendaraan investasi Thrive Eternal, yang terkait dengan Thrive Capital, diperkirakan akan memimpin kelompok investor untuk mengambil saham minoritas di FFE .
Keterkaitan keluarga Kushner dengan lingkaran politik Amerika Serikat membuat proposal ini semakin mendapat sorotan. Namun, sumber yang dekat dengan Thrive Capital membantah adanya politisasi dan menyatakan bahwa Joshua Kushner tidak memiliki hubungan dengan Gedung Putih .
Salah satu tanda paling jelas bahwa proposal itu kehilangan dukungan datang dari dalam FIFA sendiri.
Carlos Cordeiro, penasihat senior Infantino, mantan presiden Federasi Sepak Bola Amerika Serikat, dan anggota White House World Cup Task Force, mengundurkan diri dengan segera pada 31 Juli 2026 .
Cordeiro mengatakan dirinya tidak terlibat dalam penyusunan proposal tersebut dan “secara tegas” menolaknya. Ia menyebut FFE sebagai “kesepakatan buruk bagi sepak bola”, bagi asosiasi anggota FIFA, dan bagi masa depan jangka panjang olahraga tersebut .
Ia menjadi orang pertama dari lingkaran internal FIFA yang mengundurkan diri secara terbuka karena rencana itu . Pengunduran diri tersebut memperbesar tekanan terhadap Infantino, terutama karena Cordeiro sebelumnya termasuk penasihat seniornya.
Dalam waktu kurang dari sepekan, penolakan terhadap FFE datang dari berbagai arah:
Gabungan tekanan tersebut membuat proposal FFE sulit dipertahankan. Pada 1 Agustus 2026, Infantino menyerah dan FIFA membatalkan rencana untuk membuka kepemilikan komersial kompetisi-kompetisinya kepada investor eksternal .
Kegagalan FFE bukan hasil dari satu penentang saja. Proposal itu tumbang karena, dalam momen yang jarang terjadi, konfederasi regional, klub-klub besar, pejabat nasional, dan orang dalam FIFA berdiri di sisi yang sama. Pesannya jelas: bagi banyak pemangku kepentingan, masa depan komersial sepak bola tidak bisa diputuskan hanya sebagai transaksi bisnis biasa.