Pendapatan dari layanan berlangganan tumbuh 6,7% secara tahunan pada kuartal kedua, turun dari pertumbuhan 7,9% pada kuartal pertama . Perlambatan ini menjadi perhatian utama investor karena pendapatan berlangganan merupakan salah satu sumber pertumbuhan paling penting bagi industri musik digital.
UMG memang mendapat manfaat dari kenaikan harga layanan streaming melalui kesepakatan Streaming 2.0 dengan platform distribusi musik digital seperti Spotify dan Apple Music. Jadwal perilisan musik yang padat juga membantu penjualan. Namun, laju pertumbuhannya tetap dianggap kurang meyakinkan oleh pasar .
Jika pendapatan langganan dan streaming digabung, pertumbuhannya mencapai 15,4% secara tahunan. Angka tersebut sedikit di bawah ekspektasi analis . Bloomberg mencatat bahwa nilai pendapatan langganan secara nominal sebenarnya melampaui perkiraan, tetapi perlambatan dari kuartal sebelumnya dan kontribusi akuisisi Downtown membuat investor lebih fokus pada pertumbuhan organik UMG .
Pendapatan UMG tumbuh 13,3% menjadi €3,29 miliar pada basis kurs konstan. Namun, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi yang disesuaikan—atau adjusted EBITDA—hanya naik 1,5% menjadi €674 juta .
Akibatnya, margin adjusted EBITDA turun 2,2 poin persentase menjadi 20,5% secara keseluruhan. Jika bisnis Downtown dikeluarkan dari perhitungan, marginnya berada di 21,5%, tetap turun 1,3 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya .
Bagi investor, perbedaan antara pertumbuhan pendapatan dan laba ini merupakan sinyal penting: UMG menghasilkan penjualan lebih besar, tetapi setiap euro pendapatan memberikan keuntungan yang lebih kecil.
Laba bersih turun 84,5% menjadi €222 juta. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi kerugian nonkas sebesar €570 juta akibat penyesuaian nilai wajar investasi, ditambah biaya restrukturisasi yang lebih tinggi .
Kerugian nonkas tidak selalu berarti perusahaan langsung mengeluarkan uang tunai dalam jumlah yang sama. Namun, angka tersebut tetap menekan laba yang dilaporkan dan memperburuk persepsi investor terhadap hasil kuartal tersebut.
Sinyal yang paling mengkhawatirkan bagi pasar datang dari arus kas bebas. Pada semester pertama 2026, UMG hanya menghasilkan €24 juta, dibandingkan €453 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya—penurunan sekitar 95% .
Konversi arus kas bebas terhadap adjusted EBITDA juga turun menjadi sekitar 2%. Investor menilai kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius tentang seberapa besar laba UMG benar-benar dapat diubah menjadi kas .
Penurunan tersebut dikaitkan dengan arus keluar modal kerja yang lebih besar, termasuk pembayaran royalti di muka dan perbedaan waktu pembayaran, belanja modal yang meningkat, serta dampak kas dari akuisisi Downtown .
| Metrik | Hasil Q2 2026 | Perubahan atau catatan |
|---|---|---|
| Pendapatan total | €3,29 miliar | Naik 13,3% secara tahunan pada kurs konstan; hanya naik 6,4% jika tidak memasukkan Downtown |
| Pendapatan langganan | €1,37 miliar | Naik 6,7% secara tahunan, melambat dari 7,9% pada Q1 |
| Pendapatan langganan dan streaming | €1,76 miliar | Naik 15,4% secara tahunan, sedikit di bawah perkiraan analis |
| Adjusted EBITDA | €674 juta | Naik 1,5% pada kurs konstan |
| Margin adjusted EBITDA | 20,5% | Turun 2,2 poin persentase secara tahunan |
| Margin adjusted EBITDA tanpa Downtown | 21,5% | Turun 1,3 poin persentase |
| Laba bersih | €222 juta | Turun 84,5%, termasuk kerugian nilai wajar investasi sebesar €570 juta |
| Laba per saham terdilusi yang disesuaikan | €0,47 | Naik 4,3% secara tahunan |
| Arus kas bebas semester I 2026 | €24 juta | Turun dari €453 juta pada semester I 2025 |
| Pendapatan Recorded Music | — | Naik 16,2%; naik 8,7% tanpa Downtown |
| Pendapatan merchandising | — | Turun 10,7%, dipengaruhi waktu tur dan perilisan produk |
Akuisisi Downtown Music Holdings yang selesai pada April 2025 memberikan tambahan pendapatan yang berarti bagi UMG. Namun, bisnis tersebut memiliki margin lebih rendah dibandingkan bisnis musik rekaman inti UMG. Akibatnya, kontribusi Downtown meningkatkan angka pendapatan sekaligus menekan margin gabungan .
Dengan mengecualikan Downtown, pertumbuhan pendapatan organik UMG hanya 6,4%. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar pertumbuhan utama sebesar 13,3% berasal dari kontribusi akuisisi, bukan semata-mata ekspansi bisnis yang sudah ada .
Selain perbedaan struktur margin, biaya integrasi akuisisi turut membebani kinerja. UMG juga menghadapi biaya hukum yang lebih tinggi, perubahan komposisi pendapatan dan katalog musik, serta kerugian pada segmen merchandising .
Beberapa faktor yang menekan profitabilitas UMG pada kuartal kedua meliputi:
Pendapatan merchandising sendiri turun 10,7% pada kuartal tersebut, terutama karena perbedaan waktu tur dan perilisan produk baru .
Manajemen tetap mempertahankan panduan 2026 untuk pertumbuhan pendapatan organik di kisaran satu digit menengah serta peningkatan margin adjusted EBITDA yang disebut “modest” atau terbatas. Namun, UMG tidak memberikan target arus kas bebas yang terukur .
Kesepakatan kenaikan harga dalam program Streaming 2.0 diperkirakan memberi dukungan pada paruh kedua 2026. UMG juga masih dapat memperoleh manfaat dari penguatan pangsa pasar, jadwal perilisan musik, layanan berbasis AI, dan pengembangan paket berbayar untuk penggemar paling loyal. Meski demikian, perlambatan pertumbuhan pelanggan dan lambatnya peluncuran tier “super-fan” membuat investor tetap berhati-hati .
Sejumlah analis, termasuk JPMorgan dan Citi, memangkas target harga saham. Rata-rata target baru berada di kisaran €18–€20, dibandingkan sekitar €14,90 setelah aksi jual. JPMorgan secara khusus menyoroti kekhawatiran mengenai momentum streaming .
Dua pertanyaan akan menjadi fokus UMG pada semester kedua 2026:
Jika pertumbuhan langganan tetap berada di bawah 7% dan arus kas tidak membaik, pasar dapat kembali menurunkan valuasi UMG. Perusahaan sebelumnya diperdagangkan dengan premi dibandingkan sejumlah perusahaan media lain. Laporan Q2 2026 membuat investor mulai mempertanyakan apakah premi tersebut masih layak dipertahankan .