Apple berhasil mencetak rekor pendapatan untuk kuartal Juni sebesar $109,4 miliar, jauh di atas ekspektasi Wall Street. Laba bersih diperkirakan mencapai lebih dari $30 miliar, melonjak signifikan dari $23,4 miliar pada Q3 2025 . Margin kotor juga melebar menjadi sekitar 46,5%, naik 120 basis poin dari tahun sebelumnya, berkat pengembalian tarif sekitar $800 juta dan biaya komponen yang lebih rendah .
Segmen Services, yang merupakan 'sapi perah' Apple, mencatatkan pendapatan rekor sebesar $30,7 miliar (naik 12% YoY). Namun, angka ini merupakan perlambatan drastis dari pertumbuhan 16% di kuartal sebelumnya dan di bawah ekspektasi analis yang sebesar $31,2 miliar .
Dalam panggilan konferensi dengan analis, CFO Kevan Parekh mengidentifikasi tiga penyebab utama :
Ini juga merupakan pertama kalinya sejak 2022 segmen Services mengalami penurunan secara kuartalan, dari $30,98 miliar di Q2 2026 menjadi $30,7 miliar .
Hambatan regulasi kini mulai terasa nyata dan langsung berdampak pada pendapatan Services Apple di berbagai negara:
Amerika Serikat: Seorang hakim federal memutuskan Apple bersalah karena melanggar perintah pengadilan (contempt of court) dengan memungut komisi 27% untuk pembelian di luar App Store (dalam kasus Epic Games). Apple mengajukan banding atas putusan ini hingga ke Mahkamah Agung AS . Pada 30 Juni 2026, Mahkamah Agung setuju untuk mendengarkan banding Apple, dengan argumen dijadwalkan pada masa sidang 2026-2027 .
Uni Eropa: Komisi Eropa mendenda Apple sebesar €500 juta (~$570 juta) pada April 2025 karena tidak mematuhi Digital Markets Act (DMA) . Sebagai respons, Apple mengubah aturan App Store-nya di Uni Eropa pada Juni 2025 dengan memberlakukan biaya pemrosesan 20% untuk transaksi eksternal dan mengizinkan toko aplikasi pihak ketiga. Regulator Uni Eropa akhirnya menyetujui perubahan ini pada akhir Juli 2026 .
Jepang: Pada Desember 2025, Apple setuju untuk mengizinkan toko aplikasi alternatif dan pemrosesan pembayaran pihak ketiga di Jepang, mematuhi tuntutan Japan Fair Trade Commission berdasarkan Mobile Software Competition Act .
Brasil: Setelah penyelesaian antimonopoli dengan otoritas persaingan usaha Brasil (CADE) pada Desember 2025, Apple membuka iOS untuk toko aplikasi alternatif dan pemrosesan pembayaran pihak ketiga di Brasil pada Juni 2026 .
Jika Services melambat, penjualan hardware justru memecahkan rekor:
Manajemen Apple juga mengumumkan bahwa jumlah langganan berbayar telah melampaui 1,5 miliar secara global .
Apple diuntungkan oleh pengembalian tarif (tariff refunds) dan biaya komponen yang lebih rendah di kuartal ini. Margin kotor yang dilaporkan sebesar 46,5% termasuk keuntungan sekitar $800 juta dari pengembalian tarif . Namun, manajemen memperingatkan bahwa biaya tarif diperkirakan akan naik menjadi sekitar $1,1 miliar di kuartal September, hampir dua kali lipat secara berurutan .
Meskipun pendapatan kuartal ini memecahkan rekor, Apple mengeluarkan perkiraan pendapatan yang hati-hati untuk kuartal fiskal keempat. Manajemen mengutip kendala rantai pasok terkait dengan produksi iPhone generasi terbaru dan kekurangan komponen yang masih berlangsung . Peringatan dini tentang kenaikan biaya tarif yang akan berlipat ganda menjadi alasan utama investor sell-off. Saham Apple akhirnya jatuh sekitar 3% dalam perdagangan setelah jam bursa .
Kuartal Q3 2026 Apple adalah cerita tentang dua sisi mata uang: penjualan hardware yang memecahkan rekor dan melampaui ekspektasi, namun di sisi lain, segmen Services yang melambat menandakan awal dari tekanan regulasi nyata pada model bisnis paling menguntungkan Apple. Dengan Mahkamah Agung AS yang akan memutuskan soal komisi App Store dan banyak pasar yang memaksa ekosistem iOS terbuka, masa depan segmen Services akan menjadi narasi kunci yang harus dicermati pada kuartal-kuartal mendatang.