Divisi MX (ponsel) Samsung mencatat kerugian operasional perdana sebesar 700–800 miliar won ( $544 juta) di Q2 2026, meski pendapatan naik berkat penjualan Galaxy S26 yang solid. Proyeksi Samsung Securities menyebut kerugian divisi MX akan melebar menjadi 15,2 triliun won ($10,1 miliar) pada FY 2027, melampaui rekor...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What was the first-ever operating loss in Samsung's smartphone business in Q2 2026, what were the causes including the "RAMageddon" memory p. Article summary: Here is the full breakdown.. Topic tags: general, general web, user generated, news. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers, clickbait thumbnails, icons, and tiny thumbnail layouts. Make it useful as an illustrative visual, not as factual evidence.
Jakarta — Untuk pertama kalinya sejak Galaxy S generasi pertama dirilis pada tahun 2010, bisnis ponsel pintar Samsung mencatat kerugian operasional kuartalan. Dan penyebabnya bukanlah karena penjualan yang lesu, melainkan ledakan biaya memori yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI) — sebuah fenomena yang oleh para analis dijuluki sebagai "RAMageddon".
Pada kuartal kedua 2026, divisi MX (Mobile eXperience) dan Networks Samsung membukukan kerugian operasional sebesar 700–800 miliar won (sekitar $544–$545 juta). Ini adalah kerugian kuartalan pertama sejak divisi ini dibentuk. Yang lebih mencengangkan, kerugian ini terjadi di tengah pertumbuhan pendapatan divisi yang sama, yang mencapai 33,2 triliun won, didorong oleh penjualan yang kuat dari seri Galaxy S26 dan Galaxy A.
Sektor DX (Device eXperience) yang lebih luas, yang mencakup MX dan peralatan rumah tangga, mencatat kerugian operasional sebesar 800 miliar won dari penjualan 48 triliun won.
Akar masalahnya adalah apa yang oleh para analis dan media disebut sebagai "RAMageddon" atau "chipflation" — sebuah ledakan harga memori DRAM dan NAND flash yang didorong oleh permintaan server AI yang tak terpuaskan. Pusat data AI mengonsumsi sejumlah besar memori bandwidth tinggi (HBM) dan DRAM server, sehingga pasokan memori global menjadi sangat ketat. Divisi chip Samsung sendiri (Device Solutions) telah memprioritaskan pelanggan memori AI yang jauh lebih menguntungkan daripada memasok divisi ponselnya dengan harga yang lebih bersahabat.
Dampaknya terhadap satu unit ponsel sangat terasa: Untuk ponsel seharga $800, porsi biaya memori dilaporkan meningkat dua kali lipat atau lebih. Divisi chip Samsung mencatat laba operasional rekor sebesar 89,2 triliun won di Q2 2026 — peningkatan 250 kali lipat — sambil menjual memori ke unit ponselnya sendiri dengan harga pasar.
Harga kontrak memori mencapai level tertinggi sepanjang masa, yang menekan margin di seluruh industri, tetapi paling keras menghantam Samsung karena ia mengonsumsi memorinya sendiri yang mahal.
Keuntungan operasional total Samsung melonjak sekitar 19 kali lipat secara tahunan ke rekor tertinggi. Ini membuat Q2 2026 menjadi divergensi internal paling ekstrem dalam sejarah perusahaan: bisnis chip mencatat kuartal terbaiknya sementara bisnis ponsel mencatat yang terburuk.
Bisnis ponsel pintar Samsung belum pernah mencatat kerugian operasional kuartalan sejak meluncurkan Galaxy S pertama pada 2010. Divisi ponsel yang lebih luas berhasil melewati perlambatan 2014–2015 (ketika Samsung kehilangan pangsa pasar dari pesaing China), krisis recall Note 7 pada 2016, dan gangguan rantai pasokan akibat pandemi 2020–2021 tanpa pernah jatuh ke zona merah. Rekor selama puluhan tahun itu berakhir di Q2 2026, bukan karena penjualan perangkat yang lemah, tetapi karena ledakan biaya internal yang tidak pernah dipicu oleh krisis sebelumnya.
Industri ponsel menghadapi tekanan margin yang struktural. Produsen memori (Samsung, SK Hynix, Micron) mengalokasikan sebagian besar kapasitas pabrik baru untuk HBM dan DRAM server, sehingga membatasi pasokan untuk DRAM dan NAND konsumen. Harga DRAM dan NAND telah naik ke level tertinggi sepanjang masa, meningkatkan biaya bill of materials (BOM) bagi setiap produsen ponsel. Pesaing seperti Apple dan OEM China menghadapi tekanan yang sama, tetapi Samsung sangat terpukul karena divisi chipnya sendiri membebankan harga pasar kepada unit ponselnya.
Ditambah lagi, merek-merek China (Xiaomi, Oppo, Vivo) terus merebut pangsa pasar di segmen menengah dan premium, menekan volume dan daya tawar harga Samsung.
Presiden divisi MX, Roh Tae-moon (TM Roh), menghadapi tekanan internal dan eksternal yang semakin besar. Karyawan mengirim surel protes yang mempertanyakan kompensasi eksekutif—puluhan miliar won dalam bentuk bonus kinerja—sementara divisi mereka mencatat kerugian pertama.
Para kritikus berpendapat bahwa Roh gagal mendiversifikasi pasokan memori atau melakukan lindung nilai atas biaya komponen meskipun ada peringatan awal pada 2025 tentang lonjakan harga.
Ada seruan untuk mengganti Roh, dengan investor dan analis mempertanyakan apakah ia adalah pemimpin yang tepat mengingat kerugian ini terjadi meskipun ada rekor pra-pemesanan Galaxy S26.
Roh juga dikritik karena kurangnya inovasi perangkat keras di lini Galaxy S26, sehingga lebih sulit untuk membenarkan kenaikan harga yang dapat mengimbangi inflasi biaya.
Menurut Samsung Securities (afiliasi pialang grup Samsung) dan analis lainnya, prospeknya sangat berat:
Bisnis yang dulunya menjadi mesin keuntungan utama Samsung kini menghadapi kerugian yang belum pernah terjadi sebelumnya, sepenuhnya didorong oleh selera besar boom AI terhadap komponen yang sama yang digunakan di setiap ponsel Galaxy.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Divisi MX (ponsel) Samsung mencatat kerugian operasional perdana sebesar 700–800 miliar won ( $544 juta) di Q2 2026, meski pendapatan naik berkat penjualan Galaxy S26 yang solid.
Divisi MX (ponsel) Samsung mencatat kerugian operasional perdana sebesar 700–800 miliar won ( $544 juta) di Q2 2026, meski pendapatan naik berkat penjualan Galaxy S26 yang solid. Proyeksi Samsung Securities menyebut kerugian divisi MX akan melebar menjadi 15,2 triliun won ($10,1 miliar) pada FY 2027, melampaui rekor kerugian divisi semikonduktor saat krisis chip 2023.