OpenAI memilih peneliti dari "institusi akademik terpilih" di seluruh dunia . Beberapa institusi yang sudah dikonfirmasi pada tahap awal:
Daftar lengkap institusi peserta belum dipublikasikan dan akan bertambah seiring berjalannya program.
Ini adalah poin krusial. OpenAI menjamin beberapa lapis perlindungan:
OpenAI menyatakan program ini adalah cara untuk mendemokratisasi akses ke alat AI canggih yang biasanya mahal dan sulit dijangkau . Tujuannya membantu peneliti "mempercepat penemuan di berbagai disiplin ilmu" sambil tetap menjaga kendali peneliti atas proses riset
.
Namun, di balik niat mulia ini, ada keuntungan strategis: membangun kebiasaan jangka panjang di kalangan akademisi untuk menggunakan ekosistem OpenAI, menciptakan keunggulan kompetitif atas rival seperti Anthropic (Claude) dan Google DeepMind.
Program ini tidak luput dari kritik tajam. Para peneliti menyuarakan beberapa kekhawatiran serius:
Dengan kata lain, program ini seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, ia membuka pintu lebar bagi eksplorasi ilmiah. Di sisi lain, ia membawa risiko-risiko yang perlu diwaspadai dengan sangat serius oleh komunitas riset global, termasuk Indonesia.