Pengamatan JWST menjadi analisis kimia terperinci pertama terhadap bulan-bulan dalam dan cincin Neptunus . Dengan spektrograf inframerahnya, para astronom menganalisis spektrum—pola “warna” cahaya inframerah—yang dipantulkan oleh Larissa, Galatea, Proteus, dan cincin planet tersebut .
Hasilnya tidak seperti dugaan awal. Alih-alih menemukan es air yang umum pada banyak benda di wilayah luar Tata Surya, para peneliti melihat tanda jelas filosilikat kaya magnesium . Mineral lempung ini penting karena:
Agar lempung dapat terbentuk, material asalnya kemungkinan berada jauh di dalam tubuh induk yang lebih besar. Bulan-bulan besar dapat menghasilkan panas internal yang mencairkan sebagian es dan memicu reaksi kimia pembentuk mineral lempung .
Temuan komposisi ini berkaitan dengan teka-teki lama tentang Triton. Bulan terbesar Neptunus itu mengorbit planetnya dalam arah retrograde, atau berlawanan dengan arah rotasi Neptunus .
Selama puluhan tahun, orbit yang tidak biasa tersebut dipandang sebagai bukti bahwa Triton tidak terbentuk di sekitar Neptunus. Triton kemungkinan merupakan objek dari Sabuk Kuiper—wilayah di luar orbit Neptunus yang juga menjadi asal Pluto—yang kemudian tertangkap oleh gravitasi planet .
Menurut tim Caltech, proses penangkapan itu kemungkinan mengacaukan sistem bulan Neptunus yang sudah ada. Pengaruh gravitasi Triton diduga menghancurkan generasi awal bulan-bulan besar dan kaya es yang mengorbit Neptunus dalam arah normal atau prograde .
Setelah tabrakan dan kehancuran besar tersebut, gravitasi secara bertahap menarik puing-puing yang tersisa hingga kembali berkumpul. Larissa, Galatea, Proteus, dan bulan-bulan dalam lainnya kemungkinan terbentuk dari proses akresi ulang material itu .
Karena ukurannya jauh lebih kecil daripada tubuh induknya, bulan-bulan hasil pembentukan ulang tersebut tidak mampu menghasilkan panas internal yang cukup untuk mencairkan es dan membentuk lempung. Mereka hanya mewarisi material kaya lempung dari bagian dalam dunia-dunia besar yang telah hancur .
Skenario ini menjelaskan kombinasi yang tampak janggal: JWST menemukan lempung, tetapi tidak menemukan es air. Kerak es asli dari bulan-bulan besar kemungkinan tercerai-berai dalam peristiwa kehancuran, sementara material dari bagian dalamnya menjadi lebih terekspos dan kemudian membentuk bulan-bulan kecil yang terlihat sekarang .
Penangkapan Triton merupakan hipotesis utama, tetapi para peneliti belum menutup kemungkinan lain. Mineral lempung tersebut juga bisa berasal dari objek Sabuk Kuiper besar yang terdiferensiasi—benda yang bagian dalamnya telah memisahkan diri menjadi lapisan-lapisan berbeda—dan berukuran sebanding dengan Pluto.
Jika objek itu melintas terlalu dekat dengan Neptunus, gaya pasang surut planet dapat merobeknya. Apa pun pemicunya, kesimpulan pentingnya tetap sama: material yang kini terlihat pada bulan-bulan dalam dan cincin Neptunus kemungkinan berasal dari bagian dalam sesuatu yang ukurannya jauh lebih besar .
Temuan ini mengubah cara ilmuwan memahami satelit Neptunus. Bulan-bulan dalamnya tidak lagi tampak sebagai benda es purba yang relatif utuh dan terbentuk bersamaan dengan planet. Mereka lebih mungkin merupakan penyintas dari perombakan besar-besaran sistem Neptunus .
Pola serupa mungkin pernah terjadi di sekitar planet raksasa lain, termasuk Uranus dan Saturnus. Pengamatan inframerah JWST dapat menjadi cara baru untuk menyelidiki apakah bulan-bulan kecil dan cincin di sistem tersebut juga menyimpan jejak kehancuran kuno .
Penemuan ini menunjukkan kemampuan JWST dalam mempelajari benda-benda kecil dan redup di wilayah luar Tata Surya. Pada panjang gelombang inframerah, teleskop ini dapat mendeteksi mineral dan es yang sulit terlihat dengan instrumen lain, sehingga para ilmuwan bisa merekonstruksi peristiwa yang berlangsung miliaran tahun lalu .
Dengan kata lain, bulan-bulan kecil Neptunus bukan sekadar benda yang mengitari planet biru itu. Permukaannya menyimpan catatan kimia tentang sebuah sistem bulan yang mungkin pernah jauh lebih besar—dan tentang bagaimana Triton mengubahnya secara dramatis.