Di hari yang sama, Managing Director MAS Chia Der Jiun menyampaikan peringatan tegas: penurunan tajam dalam belanja terkait AI bisa "melemahkan secara tajam" pertumbuhan global dan mengekspos kerentanan di pasar keuangan . Ia menyebut keberlanjutan ledakan investasi AI global sebagai "ketidakpastian utama" bagi pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keuangan .
MAS menyoroti bahwa lonjakan investasi ke pusat data, chip, dan infrastruktur komputasi telah menjadi penopang ketahanan ekonomi, tetapi pembalikan arah yang tiba-tiba bisa menghantam pertumbuhan global, menekan nilai aset, dan mengganggu stabilitas pasar keuangan . Bank sentral Singapura itu juga memperingatkan bahwa ledakan AI yang berkepanjangan bisa memicu inflasi, menciptakan risiko dua sisi . Peringatan ini disampaikan bersamaan dengan keputusan mengejutkan MAS untuk mengetatkan kebijakan moneternya pada 27 Juli .
Fitch Ratings menerbitkan Prospek Risiko Global Kuartal III pada 28 Juli, yang menyatakan bahwa ledakan AI dan risiko koreksi pasar telah muncul sebagai risiko kredit global utama . Fitch mencatat bahwa ledakan AI telah "terjalin erat dengan pertumbuhan ekonomi global dan pasar modal AS" .
Fitch memperingatkan bahwa valuasi teknologi yang meroket dan belanja terkait AI yang belum pernah terjadi sebelumnya mungkin melampaui keuntungan masa depan yang tidak pasti, sehingga menciptakan risiko penyerapan pasar . Fitch secara terpisah melaporkan bahwa prospek kredit AS semakin bergantung pada kepercayaan investasi AI, sementara sektor yang berorientasi konsumen dan pasar kredit swasta menghadapi hambatan yang semakin berat .
Pada 24 Juli, Moody's Ratings memperingatkan bahwa demam investasi AI menggerus kualitas kredit para hyperscaler terbesar—Amazon, Alphabet, Microsoft, Meta, dan Oracle . Moody's melaporkan bahwa belanja dengan "kecepatan triliunan dolar per tahun" menekan arus kas bebas dan meningkatkan risiko neraca, bahkan bagi perusahaan yang paling kaya kas sekalipun . Moody's secara khusus menyebut Microsoft dan Oracle menghadapi tekanan jangka pendek pada arus kas bebas akibat komitmen belanja modal AI .
Moody's memproyeksikan bahwa belanja modal di enam perusahaan hyperscaler utama akan mencapai $785 miliar pada tahun 2026 dan berpotensi naik menjadi sekitar $1 triliun pada tahun 2027 .
Laporan Stabilitas Keuangan Bank of England pada 7 Juli menandai valuasi saham terkait AI yang teregang sebagai kerentanan yang bisa memicu koreksi pasar yang tajam . Laporan itu juga mencatat bahwa AI mutakhir (frontier AI) meningkatkan risiko siber dan operasional bagi sistem keuangan . Komite Kebijakan Keuangan (FPC) mengamati peningkatan substansial dalam penggunaan leverage di pasar ekuitas .
Bank for International Settlements (BIS) memperingatkan pada 28-30 Juni bahwa persaingan ketat di antara perusahaan teknologi mendorong pengeluaran investasi AI ke tingkat yang tidak berkelanjutan, yang bisa membahayakan profitabilitas dan menyebabkan penurunan mendadak yang berpotensi menjerumuskan beberapa ekonomi ke dalam resesi .
Sebuah studi BIS selanjutnya pada 15 Juli menemukan bahwa ledakan AI saat ini telah melampaui setiap gelembung teknologi sebelumnya dalam sejarah. Lima hyperscaler terbesar menargetkan belanja modal sekitar $725 miliar untuk tahun 2026, dengan sekitar 75% diarahkan ke infrastruktur khusus AI . BIS juga menyoroti "pengaturan pembiayaan sirkuler" yang menciptakan lingkaran valuasi tertutup tanpa titik referensi eksternal—sebuah struktur yang tidak memiliki preseden dalam booming teknologi sebelumnya .
Dana Moneter Internasional (IMF): Pada 30 Juni dan lagi pada 23 Juli, IMF memperingatkan bahwa investasi AI yang didanai utang oleh perusahaan teknologi besar menimbulkan risiko sistemik yang lebih besar daripada valuasi saham yang tinggi. Leverage bisa memperkuat tekanan keuangan jika keuntungan mengecewakan .
Bank Sentral India (RBI): Pada 30 Juni, RBI memperingatkan bahwa koreksi tajam di pasar ekuitas global yang didorong oleh valuasi saham terkait AI yang tinggi bisa merembet ke pasar domestik, karena investasi terkait AI kini merambah segmen pasar modal lainnya .
Rentetan peringatan dari hampir semua regulator keuangan dan lembaga pemeringkat utama dunia ini menunjukkan bahwa ledakan investasi AI telah memasuki fase yang genting. Skala belanja—lebih dari $1 triliun dalam gabungan belanja modal oleh hyperscaler pada 2025 dan 2026—jauh melampaui pendapatan yang dihasilkan oleh aplikasi AI, menciptakan kerentanan struktural .
Peringatan-peringatan ini bukanlah tentang teknologi AI itu sendiri, melainkan tentang arsitektur keuangan yang mendukungnya: pasar ekuitas yang terkonsentrasi, struktur utang yang tidak transparan, pembiayaan dengan leverage, dan ekonomi global yang semakin bergantung pada belanja modal satu sektor saja. Seperti yang dikatakan Fitch, skala investasi AI kini cukup besar sehingga jika terjadi kemerosotan, dampaknya akan terasa jauh melampaui sektor teknologi .