Boom AI telah memicu gelombang investasi besar yang kian banyak dibiayai melalui utang. Belanja modal terkait AI mencapai sekitar 1% dari produk domestik bruto (PDB) di negara-negara yang paling terekspos terhadap perkembangan ini .
Pinjaman kredit swasta kepada perusahaan AI meningkat dari hampir nol pada 2016 menjadi sekitar US$200 miliar pada 2025 . BIS juga mencatat pertumbuhan pesat pinjaman dana kredit swasta kepada perusahaan perangkat lunak. Nilai pinjaman yang masih berjalan telah melampaui US$500 miliar, atau sekitar 19% dari total pinjaman langsung, pada akhir 2025 .
Penerbitan obligasi korporasi oleh perusahaan teknologi besar yang mengoperasikan infrastruktur AI—sering disebut hyperscaler—melampaui US$100 miliar pada 2025. Sebagian besar merupakan utang jangka panjang untuk mengunci pendanaan pembangunan pusat data selama beberapa tahun .
Porsi perusahaan terkait AI dalam kapitalisasi pasar saham Amerika Serikat meningkat dari 24% pada 2022 menjadi 40% pada 2025. Perubahan ini menciptakan efek kekayaan dan perubahan nilai perdagangan yang cukup besar, tetapi dampaknya berbeda-beda antarnegara .
Peringatan tersebut muncul di tengah kekhawatiran yang lebih luas mengenai keberlanjutan investasi AI. Dalam Annual Economic Report pada 28 Juni 2026, BIS menyebut kemungkinan jatuhnya investasi AI sebagai salah satu ancaman paling mengkhawatirkan bagi kemakmuran global, bersama inflasi dan tekanan fiskal .
BIS memperingatkan bahwa skala boom investasi saat ini memiliki kemiripan dengan episode-episode sebelumnya yang pada akhirnya berbalik arah. Pembalikan investasi semacam itu dapat memicu penurunan ekonomi secara luas dan bahkan resesi di sejumlah negara .
Dampaknya tidak hanya akan terasa di perusahaan teknologi. Jika investasi AI melambat tajam, tekanan dapat merambat ke pasar kredit, valuasi saham, belanja perusahaan, dan pertumbuhan ekonomi. Besarnya paparan juga tidak sama di setiap negara, sehingga respons kebijakan moneter menjadi semakin rumit.
BIS mendorong pendekatan moneter yang bertahap dan bergantung pada data. Bank sentral disarankan tidak mengandalkan model berbasis AI sebagai pengganti penilaian manusia.
Ketidakpastian mengenai manfaat produktivitas, serta sulitnya memisahkan dampak permintaan dan pasokan secara langsung, membuat BIS memperingatkan agar bank sentral tidak mengambil langkah kebijakan secara prematur. Mereka perlu menunggu sinyal siklus ekonomi yang lebih jelas sebelum mengubah suku bunga .
Dengan kata lain, tantangan bank sentral bukan sekadar memperkirakan seberapa besar AI akan meningkatkan produktivitas. Mereka juga harus menilai apakah pertumbuhan yang terlihat berasal dari peningkatan kapasitas ekonomi yang berkelanjutan, atau dari lonjakan investasi dan valuasi aset yang suatu saat dapat berbalik arah.