Analisis MERICS dan Hinrich Foundation pada Mei 2025 mengidentifikasi tiga kerentanan yang saling memperkuat: perusahaan China bergerak naik dalam rantai nilai dan menekan daya saing perusahaan Jerman; ketergantungan Jerman pada China untuk sejumlah bahan baku penting mendekati 100%; serta investasi perusahaan Jerman di China berpotensi menciptakan pengaruh strategis bagi Beijing .
Germany Trade & Invest (GTAI), badan promosi investasi milik negara Jerman, memproyeksikan defisit perdagangan bilateral dengan China sebesar €87 miliar pada 2025—setara sekitar US$101 miliar. Angka itu melampaui rekor sebelumnya yang sedikit di atas €84 miliar pada 2022 .
Kesenjangan tersebut terjadi ketika ekspor China ke Jerman meningkat, sementara ekspor Jerman ke China menurun. Data yang dihimpun Centre for European Reform juga menunjukkan surplus perdagangan China terhadap Jerman meningkat dari US$12 miliar menjadi US$25 miliar antara 2024 dan 2025, sehingga total defisit Jerman diperkirakan sekitar US$94 miliar .
Perubahan ini menekan model ekonomi Jerman yang selama bertahun-tahun mengandalkan ekspor barang bernilai tinggi. Persaingan China kini tidak lagi terbatas pada produk berbiaya rendah, tetapi juga merambah kendaraan, mesin khusus, bahan kimia, elektronik, dan sektor manufaktur berteknologi tinggi .
Pada 13 November 2025, Bundestag—parlemen federal Jerman—secara resmi membentuk Komisi untuk Meninjau Hubungan Ekonomi Jerman-China yang Relevan bagi Keamanan . Usulan tersebut diajukan oleh faksi koalisi CDU/CSU dan SPD, lalu disetujui dengan dukungan AfD. Partai Hijau dan Partai Kiri memilih abstain .
Komisi ini beranggotakan 13 pakar. Tugasnya mencakup pemeriksaan atas:
Keanggotaannya melibatkan perwakilan asosiasi industri, serikat pekerja, lembaga riset, dan pakar independen . Pembentukan komisi tersebut menandai pergeseran dari strategi China 2023 yang dinilai masih berupa arahan luas menuju mandat politik dan legislatif dengan rekomendasi yang dapat diterjemahkan menjadi kebijakan .
Kekhawatiran Berlin muncul bersamaan dengan tekanan yang lebih luas di Eropa. Pada 9 Februari 2026, Komisi Tinggi Strategi dan Perencanaan Prancis, atau Haut-Commissariat au Plan, menggambarkan ekspansi industri China sebagai “mesin penggilas” yang mengancam industri Eropa .
Lembaga tersebut memperkirakan hingga 55% produksi manufaktur Uni Eropa dapat terpapar persaingan China dalam jangka menengah jika tren saat ini berlanjut. Sektor yang disebut termasuk otomotif, mesin, bahan kimia, peralatan industri, baterai, dan elektronik . Untuk Jerman, tingkat paparan yang diperkirakan bahkan sekitar 70%, sedangkan Italia sekitar 60% .
Laporan Prancis menyebut produsen China dapat membuat barang dengan kecepatan kira-kira empat kali lebih tinggi dan biaya sekitar seperempat dari pesaing Eropa . Sebagai respons, laporan itu mengusulkan dua opsi yang sangat agresif: tarif menyeluruh sebesar 30% terhadap seluruh impor China ke Uni Eropa, atau depresiasi euro sebesar 20–30% terhadap renminbi .
Pada 27 Juli 2026, UCIMU, asosiasi produsen mesin perkakas Italia, mendesak Uni Eropa segera memperkuat langkah perlindungan perdagangan terhadap persaingan produsen China .
Menurut UCIMU, ekspor mesin perkakas pengerjaan logam China meningkat tajam. Pada saat yang sama, pangsa ekspor Italia di pasar dunia dan penjualannya ke China menurun . Asosiasi itu memperingatkan bahwa tanpa tindakan Eropa yang lebih kuat, posisi strategis industri mesin perkakas—sektor bernilai tinggi dan penting bagi kapasitas manufaktur—akan semakin tergerus .
Sebelumnya, pada 26 Mei 2026, Prancis, Italia, dan Spanyol bersama sejumlah negara Uni Eropa lainnya juga menyerukan reformasi pertahanan perdagangan yang lebih cepat dan tegas untuk menghadapi impor murah China .
Brussels telah mulai menerapkan sejumlah langkah defensif. Mulai 1 Juli 2026, Uni Eropa menggandakan tarif impor baja menjadi 50% dan memangkas kuota impor bebas bea hingga setengahnya. Pada tanggal yang sama, blok tersebut juga mengenakan biaya €3 untuk setiap paket kecil yang masuk ke wilayah Uni Eropa, sebuah kebijakan yang terutama berdampak pada platform seperti Shein dan Temu .
Komisi Eropa juga membahas perubahan kebijakan yang lebih luas untuk melindungi industri Eropa dari lonjakan ekspor China dan dampak yang disebut sejumlah pihak sebagai kelebihan kapasitas industri . Negara-negara anggota masih harus menyeimbangkan perlindungan industri dengan risiko memicu konflik dagang yang lebih besar dengan Beijing.
China secara konsisten menolak tuduhan Uni Eropa dan Amerika Serikat bahwa produksi industrinya mengalami kelebihan kapasitas—terutama di sektor kendaraan listrik, baja, dan teknologi hijau. Dalam pernyataan resmi dan pengarahan pers sepanjang 2025–2026, Beijing menyatakan bahwa tingkat produksinya didorong oleh permintaan pasar, inovasi, dan keunggulan komparatif, bukan produksi berlebih yang diarahkan negara.
Penolakan tersebut menjadi salah satu titik perselisihan utama dalam dialog dagang China-Uni Eropa. Di satu sisi, pemerintah dan pelaku industri Eropa melihat lonjakan ekspor China sebagai ancaman terhadap kapasitas manufaktur mereka. Di sisi lain, Beijing menilai kritik tersebut sebagai upaya membatasi daya saing perusahaan China.
Jerman kini berusaha mengubah hubungan dagangnya dengan China dari ketergantungan yang sulit dikendalikan menjadi hubungan yang risikonya dapat dipetakan dan dikurangi. Defisit rekor €87 miliar, pembatasan ekspor tanah jarang, dan meningkatnya daya saing perusahaan China mendorong Berlin memperkuat pengawasan melalui komisi Bundestag.
Tekanan itu tidak berhenti di Jerman. Peringatan Prancis bahwa hingga 55% manufaktur Eropa dapat terpapar persaingan China, desakan industri mesin perkakas Italia, serta kenaikan tarif dan biaya impor oleh Uni Eropa menunjukkan bahwa perdebatan tentang China telah bergeser dari isu perdagangan biasa menjadi persoalan ketahanan industri dan keamanan ekonomi Eropa.