Goldman Sachs berargumen bahwa sedang terjadi pergeseran struktural di Asia. Gelombang investasi AI dan lonjakan ekspor semikonduktor menciptakan surplus transaksi berjalan yang memecahkan rekor di Korea Selatan dan Taiwan. Hal ini menghasilkan aliran masuk valas yang berkelanjutan dan seharusnya memperkuat mata uang mereka. Bank ini menyebut fenomena ini sebagai "AI-driven super surplus" .
Di saat yang sama, kenaikan biaya energi menghantam neraca eksternal negara-negara pengimpor energi bersih yang tidak terpapar gelombang AI. Hasilnya, menurut Goldman, adalah pasar mata uang dengan dua jalur berbeda, di mana kinerja bergantung pada satu pertanyaan kunci: Apakah Anda pemasok AI atau pembeli energi?
Goldman Sachs mengidentifikasi tiga mata uang ini sebagai pilihan utama mereka di Asia .
Won Korea Selatan: Goldman memperkirakan surplus transaksi berjalan Korea akan mendekati $300 miliar (13,9% PDB) — sebuah rekor — karena ekspor chip yang didorong AI lebih dari cukup untuk mengimbangi dampak kenaikan biaya energi . Ekonom Goldman yang dipimpin Andrew Tilton juga memperkirakan Bank of Korea akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin sebanyak dua kali di paruh kedua 2026 untuk meredam overheating, yang akan semakin mendukung won .
Dolar Taiwan: Surplus transaksi berjalan Taiwan diperkirakan mencapai sekitar 25% PDB, salah satu yang tertinggi di dunia . Goldman menggambarkan dirinya "lebih bullish dari konsensus pasar" terhadap pertumbuhan Taiwan, merujuk pada integrasi mendalamnya ke dalam rantai pasok AI dan semikonduktor canggih .
Ringgit Malaysia: Malaysia diuntungkan sebagai simpul kunci dalam rantai pasok AI (perakitan chip, pengujian, investasi pusat data). Goldman memperkirakan ringgit akan menguat ke 3,95 per dolar AS, level tertinggi dalam tujuh tahun, seiring masuknya modal ke proyek infrastruktur terkait AI . Ringgit telah menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terbaik di Asia, dan Goldman memperkirakan tren ini akan berlanjut .
Goldman Sachs memiliki pandangan bearish secara struktural terhadap ketiga mata uang ini, mengklasifikasikannya sebagai "pengimpor energi yang bukan penerima manfaat AI" yang rentan terhadap guncangan terms of trade .
Alasan inti: Ekonomi-ekonomi ini adalah pengimpor energi bersih dengan sedikit keterpaparan terhadap ledakan AI/semikonduktor. Biaya komoditas dan energi yang lebih tinggi mengikis neraca transaksi berjalan mereka, sementara bank sentral mereka memiliki ruang terbatas untuk menaikkan suku bunga tanpa merusak permintaan domestik .
Baht Thailand: Goldman menyoroti kerentanan Thailand terhadap kenaikan biaya energi dan ekonomi yang bergantung pada pariwisata yang menghadapi hambatan dari dolar AS yang kuat dan ketidakpastian perdagangan global. Baht diperkirakan akan kembali melemah .
Rupiah Indonesia: Tekanan datang dari tagihan impor energi Indonesia, defisit transaksi berjalan yang melebar, dan risiko pembiayaan eksternal. Rupiah dipandang akan berkinerja buruk secara struktural dibandingkan dengan mata uang yang terkait AI .
Peso Filipina: Goldman menegaskan kembali sikap bearishnya terhadap PHP, dengan alasan tantangan makroekonomi yang berkelanjutan termasuk ketidakseimbangan eksternal dan cadangan devisa yang terbatas .
Goldman memasukkan dolar Singapura ke dalam kelompok mata uang terkait AI yang telah berkinerja lebih baik dibandingkan mata uang Asia lainnya, namun sikapnya lebih terukur .
Bank ini mencatat bahwa bank-bank sentral kemungkinan akan meningkatkan alokasi mereka ke SGD sebagai bagian dari diversifikasi cadangan dari dolar AS . Namun, Otoritas Moneter Singapura (MAS) mempertahankan managed float yang ketat, yang membatasi apresiasi yang berlebihan. SGD diklasifikasikan sebagai "penerima manfaat tetapi bukan pilihan utama" — didukung secara struktural tetapi dengan potensi kejutan positif yang lebih kecil dibandingkan tiga pilihan bullish .
Goldman Sachs memiliki pandangan apresiasi jangka panjang yang sangat bullish terhadap yuan, menyebutnya sebagai salah satu "highest conviction" trade mereka .
Perkiraan undervaluasi: Goldman mengatakan yuan 20–25% undervalued terhadap dolar AS berdasarkan model fundamental tertimbang perdagangan yang memproyeksikan nilai tukar optimal yang diperlukan untuk mempertahankan surplus eksternal China .
Jalur jangka pendek: Pada Mei 2025, Goldman menaikkan perkiraan yuannya menjadi 7,20 per dolar AS untuk 3 bulan, 7,10 untuk 6 bulan, dan target 12 bulan 7,00 per dolar AS seiring dengan perkembangan negosiasi perdagangan AS-China .
Lebih jauh ke depan: Hingga pertengahan 2026, Goldman mempertahankan pandangan USD/CNY 12 bulan di 6,50, mengantisipasi apresiasi yuan yang bertahap namun berkelanjutan yang didorong oleh kekuatan ekspor China yang luar biasa, surplus eksternal, dan potensi diversifikasi cadangan bank sentral ke dalam yuan .
Proyeksi Goldman Sachs untuk mata uang Asia adalah cerminan langsung dari satu tema dominan: divergensi neraca perdagangan yang didorong oleh AI. Bank ini melihat won, dolar Taiwan, dan ringgit sebagai penerima manfaat dari pergeseran struktural yang akan berlangsung selama bertahun-tahun, sementara baht, rupiah, dan peso tetap tertekan oleh biaya energi. Yuan, di sisi lain, berdiri sendiri sebagai mata uang yang sangat undervalued yang diperkirakan Goldman akan menguat seiring waktu.
Bagi para trader dan investor, pesan utamanya jelas: pada 2025–2026, pasar mata uang Asia bukanlah satu perdagangan tunggal — ini adalah taruhan pada ekonomi mana yang menjual peralatan untuk revolusi AI.