Pemerintah Rusia, lewat Rosselkhoznadzor (badan pengawas pertanian), beralasan ini demi keamanan pangan dan fitosanitasi . Namun pengamat menilai waktu penerapannya—tepat sebelum pemilu parlemen Armenia 7 Juni dan di tengah makin dekatnya Yerevan ke Barat—terlalu mencurigakan. Langkah ini dinilai sebagai cara Moskow menekan Armenia yang mulai ngebet bergabung dengan Uni Eropa
.
Pada 27 Juli 2026, suasana panas di sambungan telepon antara Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Menurut rilis resmi pemerintah Armenia dan sejumlah sumber berita:
Akibatnya tidak main-main. Data Komite Statistik Armenia menunjukkan volume perdagangan bilateral Armenia-Rusia merosot 20,5% dalam lima bulan pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya .
Penurunan ini bukan cuma karena larangan langsung, tapi juga efek perlambatan arus perdagangan. Rusia selama ini adalah mitra dagang terbesar Armenia, terutama untuk produk pertanian segar . Para eksportir kelimpungan, terutama untuk produk yang mudah rusak (perishable) seperti buah dan sayur, yang tidak bisa menunggu terlalu lama.
Uni Eropa bereaksi cepat dan tegas. Pejabat tinggi UE menyebut aksi Rusia sebagai “nothing short of economic coercion” (pemaksaan ekonomi) dan “unacceptable” (tidak bisa diterima) .
Di balik perang dagang ini, ada isu pelik soal masa depan keanggotaan Armenia.
Putin mendesak: Dalam pertemuan di Moskow pada 1 April 2026, Putin memperingatkan bahwa Armenia tidak bisa sekaligus menjadi anggota UE dan EAEU . Ia menekan Pashinyan untuk menggelar referendum nasional agar rakyat Armenia memilih di antara dua blok
.
Pashinyan menolak halus: Ia berulang kali mengatakan bahwa referendum “tidak masuk akal” (meaningless) selama Armenia belum mengajukan aplikasi resmi keanggotaan UE . Dalam pernyataannya akhir Juni: “Referendum akan diadakan ketika ada subjek referendum. Paling tidak, subjek itu adalah aplikasi resmi Armenia untuk bergabung dengan UE.”
.
Ia juga menegaskan Armenia akan tetap bekerja di EAEU dengan tenang dan percaya diri, sementara perdebatan soal UE berjalan terus .
Inisiatif dari bawah: Kelompok pro-Rusia bernama Eurasian Alliance pernah mengajukan inisiatif referendum “dari bawah” untuk menolak keanggotaan UE, tetapi ini murni gerakan non-pemerintah .
Sampai akhir Juli 2026, situasi Armenia seperti di antara dua batu. Di satu sisi, Rusia terus menekan lewat larangan dagang yang melanggar aturan EAEU sendiri. Di sisi lain, membuka pelukan dari Brussels dengan dana segar dan janji pasar bebas. Pashinyan memilih jalan diplomasi: menekan Putin lewat jalur hukum EAEU sambil perlahan mendekat ke Uni Eropa—tanpa terburu-buru menggelar referendum yang diminta Moskow. Pertarungan dagang ini belum usai, dan Armenia menjadi panggung baru persaingan antara Timur dan Barat.