Jeda serangan dimulai 24 Juli 2026 setelah AS menghentikan dua minggu serangan. Baik AS maupun Iran sama sama menahan diri untuk tidak melancarkan serangan balasan.

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: Search & fact-check with cited sources for What explains the current four-day pause in U.S.-Iran hostilities, the deepening political rift i. Article summary: Here is a fact-checked breakdown of each element of your question, based on current reporting.. Topic tags: general, news, general web, user generated. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers, clickbait thumbnails, icons, and tiny thumbnail layouts. Make it useful as an illustrative visual, not as fa
Berikut adalah analisis mendalam berdasarkan laporan terkini mengenai jeda empat hari konflik AS-Iran, perpecahan politik di Teheran, dan isu-isu yang belum terselesaikan.
Jeda dimulai pada Jumat, 24 Juli 2026, ketika militer AS menghentikan serangan selama dua minggu terhadap Iran. Hingga Senin, 27 Juli, kedua belah pihak tidak melancarkan serangan untuk malam ketiga berturut-turut . Alasan resmi dari Washington adalah bahwa Trump memberi diplomasi "ruang gerak", menurut Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz
. Trump juga mengatakan penghentian itu dilakukan atas permintaan Teheran
. Iran pun menahan diri dari serangan balasan selama periode ini
.
Di belakang layar, laporan menunjukkan bahwa kekhawatiran akan menipisnya amunisi di kedua belah pihak juga membatasi eskalasi lebih lanjut . Jeda ini telah mendorong kenaikan pasar saham dan obligasi global serta menekan harga minyak
.
Catatan ahli: Para analis menggambarkan penghentian ini sebagai "jalan buntu yang saling menyakitkan" (mutually hurting stalemate) yang bersifat sementara, bukan gencatan senjata yang tahan lama . Soufan Center mencatat bahwa kedua belah pihak menggunakan jeda ini untuk mencari keuntungan strategis, menyiapkan panggung bagi keseimbangan "tanpa perang, tanpa damai"
.
Jeda ini justru memperlihatkan pertempuran internal yang sengit di dalam kepemimpinan Iran .
Kelompok Moderat / Negosiator: Dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf (negosiator utama Iran), mereka berargumen bahwa negosiasi "bukanlah kompromi" dan diplomasi adalah "bagian dari strategi perlawanan" . Ghalibaf secara terbuka membela perundingan tersebut dari serangan kelompok garis keras
.
Kelompok Garis Keras: Sebuah faksi vokal di Parlemen dan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi berusaha menggagalkan kesepakatan apa pun. Mereka menuduh para negosiator "menyerahkan Iran kepada AS dan Israel" . Eskalasi baru-baru ini di Selat Hormuz dan pemakaman pemimpin tertinggi yang terbunuh memperkuat posisi mereka — pendukung garis keras secara fisik menghadapi pejabat yang mendukung gencatan senjata di prosesi pemakaman dan meneriakkan slogan seperti "Kami memiliki dendam darah dengan Amerika"
.
Perpecahan ini terbilang tidak biasa dan terbuka. Media yang terafiliasi dengan negara saling bertukar tuduhan, dan keretakan telah mencapai "lapisan terdalam dari kelompok garis keras Iran," yang selama ini menampilkan front persatuan .
Kutipan kunci: Debat mengenai negosiasi telah "berkembang menjadi perebutan kekuasaan yang lebih luas di dalam pemerintahan Iran, mengungkapkan keretakan yang meluas dari lembaga pemerintah hingga hierarki ulama" .
Nota Kesepahaman Islamabad ditandatangani pada 17 Juni 2026 oleh Presiden Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif sebagai saksi . Ini adalah kesepakatan sementara 14 poin yang:
Kurang dari sebulan kemudian, serangan kembali dilancarkan dan kedua belah pihak saling menuduh melanggar Nota Kesepahaman . Trump mengatakan dia menganggap gencatan senjata telah berakhir; Iran mengatakan tidak lagi berniat untuk mematuhi Nota Kesepahaman
.
a) Nasib stok uranium yang diperkaya Iran
Nota Kesepahaman menunda negosiasi nuklir ke jendela 60 hari. IAEA telah kehilangan kesinambungan pengetahuan di semua fasilitas nuklir yang dideklarasikan Iran setelah serangan AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026, dan seorang pejabat senior PBB mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa hal ini "tidak dapat dipulihkan" . Pada awal Juni, Iran menghalangi permintaan IAEA untuk memverifikasi kondisi dan lokasi stok uranium yang diperkaya, meskipun mengizinkan inspeksi terbatas di Bushehr
. Pada 10 Juni, Dewan IAEA mengeluarkan resolusi yang menuntut Iran mengungkapkan dan mengizinkan verifikasi stok uranium yang tersisa — Iran belum mematuhinya
.
b) Kembalinya inspektur IAEA
Ini terkait langsung dengan masalah uranium. Iran belum memulihkan akses penuh IAEA. Resolusi dewan badan tersebut secara khusus menyerukan Iran untuk melaporkan stoknya dan "mengizinkan inspeksi untuk memverifikasi jumlah ini" . Hingga akhir Juli, hal itu belum terjadi.
c) Cakupan keringanan sanksi
Nota Kesepahaman membatalkan sanksi minyak untuk 60 hari (memungkinkan Iran melanjutkan penjualan minyak mentah), tetapi ini bersifat sementara dan bersyarat . Pada 21 Juni, AS mengeluarkan pembebasan sanksi 60 hari
. Namun, AS kemudian membatalkan pengecualian sementara tersebut selama eskalasi Juli, yang disebut Iran sebagai pelanggaran perjanjian
. Cakupan permanen keringanan sanksi — termasuk perbankan, pelayaran, dan sektor non-migas — diserahkan untuk negosiasi 60 hari
.
Konsensus ahli: Tanpa kesepakatan akhir mengenai file nuklir (stok, inspeksi) dan kerangka sanksi yang tahan lama, jeda ini dianggap rapuh dan kemungkinan bersifat sementara .
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Jeda serangan dimulai 24 Juli 2026 setelah AS menghentikan dua minggu serangan. Baik AS maupun Iran sama sama menahan diri untuk tidak melancarkan serangan balasan.
Jeda serangan dimulai 24 Juli 2026 setelah AS menghentikan dua minggu serangan. Baik AS maupun Iran sama sama menahan diri untuk tidak melancarkan serangan balasan. Alasan resmi dari Washington: memberi ruang bagi diplomasi. Namun, analis menyebut ini adalah "jalan buntu yang saling menyakitkan" (mutually hurting stalemate) yang rapuh.
Di Teheran, perpecahan semakin terbuka antara kelompok moderat pimpinan Mohammad Bagher Ghalibaf yang ingin bernegosiasi dengan kelompok garis keras yang menolak kesepakatan dengan AS.