Pemicu utamanya adalah sinyal de-eskalasi dalam konflik Amerika Serikat dan Iran. Washington menghentikan sementara serangan udara ke Iran, sementara Teheran memberi sinyal akan menghentikan serangan balasan di kawasan Timur Tengah .
Pasar menilai perkembangan ini dapat membuka jalan bagi kembalinya kerangka gencatan senjata 17 Juni—yang runtuh pada 8 Juli—serta memulihkan lalu lintas energi melalui Selat Hormuz . Kontrak TTF bulan terdekat turun di bawah €58 per megawatt-jam (MWh) saat pembukaan, setelah sempat diperdagangkan di atas €60/MWh pada pekan sebelumnya dan menyentuh level tertinggi dalam empat bulan pada awal Juli .
Namun, penurunan tersebut lebih tepat disebut reli ef berbasis sentimen pasar, bukan tanda bahwa pasokan fisik gas sudah pulih. Berikut faktor yang mendorong penurunan harga dan alasan risiko energi Eropa masih jauh dari selesai.
Ada tiga faktor yang bergerak bersamaan pada Senin. Tidak satu pun di antaranya menghapus kerusakan mendasar pada pasokan energi kawasan.
1. Sinyal de-eskalasi AS-Iran. Penghentian sementara serangan AS dan sinyal penghentian serangan balasan Iran menghapus sebagian premi risiko yang terbentuk selama dua pekan sebelumnya . Inilah pemicu utama penurunan harga.
2. Mengikuti pelemahan harga minyak mentah. Harga gas Eropa ikut turun setelah minyak mentah mengalami aksi jual besar-besaran. Harga Brent melemah karena pasar memperkirakan risiko gangguan pada koridor energi Timur Tengah ikut berkurang .
3. Harapan lalu lintas di Selat Hormuz pulih. Selat tersebut sempat dibuka kembali sebagian setelah gencatan senjata 17 Juni, tetapi kembali terganggu setelah 8 Juli. Setiap sinyal pemulihan lalu lintas kapal menurunkan risiko pengiriman LNG ke Eropa . Pasar berharap dorongan diplomatik dapat membantu mengeluarkan LNG Qatar dari kawasan Teluk Persia .
Dengan kata lain, yang menguap pada Senin adalah premi perdamaian—tambahan harga akibat ketakutan konflik—bukan masalah pasokan yang sebenarnya.
Penyimpanan gas Uni Eropa berada pada level terendah dalam beberapa tahun untuk tahap pengisian kembali seperti sekarang. Angkanya menunjukkan betapa sempitnya ruang pemulihan sebelum musim dingin 2026/27:
Komisi Eropa melalui Kelompok Koordinasi Gas menyatakan pada 1 Juli bahwa belum ada kekhawatiran pasokan langsung untuk musim dingin 2026/27. Kelompok itu juga menilai tingkat pengisian 80% sudah cukup untuk menjamin pasokan musim dingin. Meski demikian, Komisi mengakui stok masih berada “di bawah rata-rata sebelum krisis” .
Jadi, situasinya belum dinilai kritis oleh regulator, tetapi margin keamanannya jelas lebih tipis dibandingkan kondisi normal.
Penurunan harga pada Senin tidak menyelesaikan sejumlah kerentanan struktural. Risiko-risiko berikut masih aktif dan telah terdokumentasi.
Serangan rudal Iran pada Maret 2026 terhadap fasilitas Ras Laffan milik Qatar—khususnya Train 4 dan Train 6—menghilangkan 17% kapasitas ekspor LNG Qatar, atau sekitar 12,8 juta ton per tahun. Perbaikannya diperkirakan membutuhkan 3–5 tahun .
QatarEnergy telah menyatakan force majeure, yaitu kondisi hukum yang memungkinkan perusahaan menangguhkan kewajiban kontrak akibat keadaan luar biasa, dan sedang menyiapkan perpanjangan status tersebut hingga pertengahan Oktober 2026 .
Ini merupakan kehilangan pasokan jangka panjang yang tidak dapat dipulihkan hanya dengan gencatan senjata singkat. Volume LNG yang tersedia bagi pembeli Eropa juga berkurang ketika mereka harus bersaing dengan pembeli di Asia .
Dampaknya sudah terlihat pada pengiriman ke Eropa. Perusahaan utilitas Italia Edison mengatakan QatarEnergy menahan empat kargo LNG tambahan yang semula dijadwalkan tiba di terminal Adriatic LNG Italia hingga awal September. Total pengiriman yang terdampak mencapai 21 kargo, setara sekitar 2,7 miliar meter kubik gas alam .
Gencatan senjata 17 Juni sempat membuka kembali Selat Hormuz, tetapi runtuh pada 8 Juli setelah serangan baru AS-Iran kembali terjadi . Lalu lintas tanker sempat pulih menjadi sekitar 30 kapal per hari, sebelum kembali melambat .
Sebuah kapal tanker LNG QatarEnergy juga diserang di selat tersebut pada awal Juli. Insiden ini mendorong Qatar menghentikan sementara upaya untuk meningkatkan produksi LNG . Jika Selat Hormuz kembali ditutup, hampir 20% arus LNG global yang melewati jalur tersebut akan terdampak .
Pola yang terlihat sejauh ini berulang: gencatan senjata, pembukaan sebagian jalur pelayaran, keruntuhan kesepakatan, lalu serangan kembali. Gencatan senjata 17 Juni hanya bertahan tiga minggu sebelum runtuh pada 8 Juli .
Penghentian serangan pada akhir pekan disebut sebagai “halt” atau jeda penghentian, bukan perpanjangan resmi gencatan senjata. Karena itu, pasar memperlakukannya sebagai gencatan senjata yang rapuh, bukan solusi permanen .
Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dilaporkan berulang kali menyerang infrastruktur energi Arab Saudi sepanjang 2026 . Jika gencatan senjata AS-Iran kembali runtuh, ancaman terhadap fasilitas Saudi Aramco dapat meningkat dan mendorong harga minyak serta gas secara bersamaan .
Penurunan harga gas pada Senin memang menjadi kabar baik sementara bagi konsumen dan pelaku usaha Eropa. Namun, pergerakan satu hari tidak mengubah kondisi energi kawasan secara mendasar.
Eropa masih menghadapi kehilangan kapasitas LNG Qatar selama bertahun-tahun, jalur pelayaran Selat Hormuz yang tidak stabil, stok gas sekitar 14 poin persentase di bawah norma musiman, serta ancaman serangan Houthi di kawasan Teluk. Dengan musim dingin 2026/27 semakin dekat, keamanan energi Eropa tetap berada di bawah tekanan serius.