Harga minyak Brent melonjak 7% ke USD 100,65 per barel pada 23 Juli 2026 setelah Houthi menyerang dua kapal tanker Saudi di Laut Merah. Krisis ini menambah tekanan pada Selat Hormuz yang sebelumnya sudah nyaris lumpuh, menciptakan kekhawatiran 'dual chokepoint' yang mengancam pasokan minyak global.

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: Search & fact-check with cited sources for What caused Brent crude to surge above $100 a barrel in late July 2026, how did Houthi attacks on. Article summary: ## What drove Brent above $100 — and the dual-chokepoint crisis. Topic tags: general, news, general web, user generated. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers, clickbait thumbnails, icons, and tiny thumbnail layouts. Make it useful as an illustrative visual, not as factual evidence.
Harga minyak mentah Brent menembus USD 100 per barel pada 23 Juli 2026 setelah pasukan Houthi yang didukung Iran menyerang dua kapal tanker minyak Saudi di Laut Merah. Serangan ini menambah ancaman pada titik cekik (chokepoint) kedua setelah Selat Hormuz yang sudah terganggu. Harga minyak kemudian turun sekitar 4% pada 24 Juli setelah Houthi memberi sinyal tidak akan memberlakukan blokade total, namun analis dari Goldman Sachs dan Barclays melihat potensi risiko kenaikan signifikan di atas USD 120 jika gangguan berlanjut.
Pada 23 Juli, militan Houthi di Yaman mengaku telah menyerang dua kapal tanker minyak berbendera Saudi di Laut Merah menggunakan drone dan rudal . Keesokan harinya, kontrak berjangka Brent ditutup di USD 100,65 per barel — sebuah lompatan 6,96% dalam sehari, yang merupakan level tertinggi sejak akhir Mei
. Serangan ini membuka apa yang disebut Bloomberg sebagai "front baru dalam konflik yang sebelumnya telah menghentikan sebagian besar lalu lintas melalui Selat Hormuz"
.
Selat Hormuz — sudah hampir lumpuh. Sebelum serangan Houthi, konflik AS-Iran telah mengurangi aliran minyak Teluk Persia melalui Selat Hormuz hingga di bawah 45% dari level sebelum perang, secara efektif "hampir menghentikan" perdagangan melalui titik cekik minyak paling penting di dunia .
Selat Bab el-Mandeb / Laut Merah — kini terancam. Serangan Houthi terhadap kapal tanker mengancam Selat Bab el-Mandeb, pintu masuk selatan ke Laut Merah dan jalur maritim alternatif untuk pengiriman minyak yang sebelumnya dialihkan dari Hormuz . Dengan kedua titik cekik terancam, pasar memperhitungkan skenario di mana tidak ada lagi jalur laut yang layak untuk ekspor minyak mentah Timur Tengah.
Penutupan ganda ini menghilangkan jalur alternatif: minyak mentah yang sebelumnya dialihkan melalui Laut Merah untuk menghindari Hormuz kini juga berisiko, menciptakan "tekanan" pada pasokan global . India, misalnya, melihat lebih dari 50% rute impor minyak mentahnya terancam secara bersamaan
.
Pada 24-25 Juli, kelompok Houthi memberi sinyal bahwa mereka tidak akan sepenuhnya memblokade lalu lintas kapal melalui Selat Bab el-Mandeb, mengurungkan kekhawatiran akan penutupan total Laut Merah . Sinyal de-eskalasi ini memicu pembalikan arah yang tajam:
Catatan penting: Skenario dasar Goldman Sachs tetap USD 80/barel; skenario USD 120+ bukanlah perkiraan utama mereka melainkan "skenario risiko" . Barclays secara eksplisit mengatakan risiko "cenderung lebih tinggi tergantung pada berapa lama kebuntuan berlangsung"
. Pasar tetap sangat sensitif terhadap eskalasi — atau de-eskalasi — lebih lanjut di kedua titik cekik.
India menjadi salah satu negara yang paling terkena dampak langsung. Lebih dari 50% impor minyak mentah India transit melalui salah satu dari dua jalur pelayaran yang terancam tersebut . Indeks saham Sensex dan Nifty di India turun pada perdagangan awal menyusul kejutan ini
. Sementara itu, diskon minyak Rusia untuk pengilang India telah menghilang karena tekanan pasokan global
.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Harga minyak Brent melonjak 7% ke USD 100,65 per barel pada 23 Juli 2026 setelah Houthi menyerang dua kapal tanker Saudi di Laut Merah.
Harga minyak Brent melonjak 7% ke USD 100,65 per barel pada 23 Juli 2026 setelah Houthi menyerang dua kapal tanker Saudi di Laut Merah. Krisis ini menambah tekanan pada Selat Hormuz yang sebelumnya sudah nyaris lumpuh, menciptakan kekhawatiran 'dual chokepoint' yang mengancam pasokan minyak global.
Harga sempat merosot 4% setelah Houthi memberi sinyal tidak akan memblokade penuh, namun analis Goldman Sachs dan Barclays memperkirakan potensi kenaikan di atas USD 120 jika gangguan berlanjut.