Serangan-serangan ini adalah gejala langsung dari konflik AS-Iran yang jauh lebih besar yang telah melanda kawasan setelah runtuhnya gencatan senjata Juni 2026.
Konflik telah menyebar jauh melampaui Irak:
Irak — Erbil telah menjadi sasaran berulang. Selain drone 25 Juli, serangan terkoordinasi Iran pada 13 Juli menghantam pembangkit listrik sipil, pabrik desalinasi, dan pangkalan militer AS di seluruh Irak .
Kuwait dan Bahrain — Setelah serangan AS pada 8 Juli, Iran meluncurkan serangan balasan ke Kuwait dan Bahrain, yang sama-sama menjadi tuan rumah pangkalan AS .
Qatar dan Oman — Iran mengaku menyerang kedua negara pada 12 Juli, membingkainya sebagai respons atas pemboman AS yang baru . Pada 17 Juli, Qatar dan Oman terpaksa mengambil tindakan defensif terhadap rudal dan drone Iran .
Yordania — Serangan Iran ke pangkalan militer AS di Yordania menewaskan dua personel militer AS .
Selat Hormuz — Pada 12 Juli, Iran mendeklarasikan Selat Hormuz ditutup setelah AS melakukan putaran ketiga serangan dalam sepekan—eskalasi besar yang mengancam pengiriman minyak global . Houthi yang bersekutu dengan Iran juga mengancam blokade laut terhadap Arab Saudi .
Teluk yang Lebih Luas — Pada 17 Juli, setidaknya enam negara (Bahrain, Irak, Kuwait, Oman, Qatar, Yordania, dan Suriah) telah dipaksa mengambil tindakan defensif terhadap rudal dan drone Iran . Sekutu Teluk menyatakan "kemarahan nyata" karena terjebak dalam baku tembak perang AS-Iran .
Intersepsi drone Erbil pada 25 Juli bukanlah insiden terisolasi, melainkan indikator jelas bahwa konflik AS-Iran sedang berlangsung dan meluas. Setelah gencatan senjata singkat runtuh pada awal Juli, Iran beralih ke penargetan langsung fasilitas diplomatik AS dan negara-negara Teluk sekutu, sementara AS melanjutkan kampanye pemboman malam hari terhadap aset militer Iran. Wilayah Kurdistan Irak, yang menjadi tuan rumah konsulat AS utama dan infrastruktur militer, telah menjadi titik api yang berulang. Penutupan Selat Hormuz mewakili ancaman paling sistemik terhadap pasar energi global, dan perluasan serangan balasan Iran ke setidaknya enam negara tetangga menandakan perang regional yang tidak dapat dihindari oleh negara Teluk mana pun.