Pemicu langsungnya adalah tuduhan IRGC bahwa pesawat pembom strategis B-1 milik AS telah digunakan dari RAF Fairford untuk menyerang wilayah Iran. Menurut versi Iran, langkah itu diambil setelah kapal-kapal AS yang beroperasi di Samudra Hindia menghabiskan persediaan rudal jelajahnya . Pernyataan yang disebarkan melalui kanal Telegram yang berafiliasi dengan IRGC itu juga memperingatkan “monarki Inggris” agar tidak memperluas keterlibatannya di Timur Tengah .
Bagi Tehran, persoalannya bukan sekadar lokasi pangkalan, melainkan fungsi pangkalan tersebut. Jika fasilitas Inggris digunakan sebagai titik keberangkatan serangan terhadap Iran, Iran menganggap Inggris telah membantu operasi militer AS—meskipun London mengklasifikasikan misi itu sebagai defensif .
Pemerintah Inggris merespons dengan menyatakan bahwa angkatan bersenjatanya siap menjaga keamanan negara dan “siap 24/7 untuk membela diri” dari serangan apa pun . London juga menekankan bahwa pertahanan udara dan rudal Inggris menggunakan pendekatan berlapis yang melibatkan Angkatan Laut Kerajaan, Angkatan Darat, Angkatan Udara Kerajaan, serta kerja sama dengan sekutu NATO .
Pada saat yang sama, pemerintah Inggris mempertahankan garis kebijakannya: Amerika Serikat diizinkan menggunakan pangkalan Inggris untuk operasi yang disebut “defensif”, misalnya untuk menghadapi ancaman rudal Iran, tetapi Inggris mengatakan tidak memberikan persetujuan untuk operasi ofensif terhadap Iran .
Perbedaan istilah inilah yang menjadi inti ketegangan. Bagi Inggris, sasaran seperti fasilitas peluncuran rudal dapat dipandang sebagai bagian dari pertahanan. Namun bagi Iran, serangan yang diluncurkan dari wilayah Inggris tetap merupakan tindakan agresi, apa pun label yang digunakan London .
Laporan yang mengutip Bloomberg dan sumber pemerintah menyebut Perdana Menteri baru Inggris, Andy Burnham, menyetujui kelanjutan penggunaan sejumlah pangkalan Inggris oleh pasukan AS untuk misi yang dikategorikan London sebagai serangan defensif terhadap Iran . Kebijakan itu mencakup RAF Fairford dan Diego Garcia, wilayah Britania di Samudra Hindia .
Keputusan tersebut dilaporkan sebagai kelanjutan dari kebijakan pemerintahan sebelumnya di bawah Keir Starmer, bukan perubahan arah yang mendasar . Laporan lain menyebut Washington, termasuk pemerintahan Presiden Donald Trump, menekan pemerintahan baru Burnham agar akses terhadap kedua pangkalan itu tetap dipertahankan .
Dengan demikian, ancaman IRGC muncul tidak lama setelah London menegaskan kembali kerja sama pangkalan dengan Washington. Namun, berdasarkan sumber yang tersedia, rincian operasional mengenai pesawat tertentu, misi tertentu, dan waktu keberangkatan dari RAF Fairford terutama berasal dari klaim Iran atau laporan media—bukan konfirmasi lengkap yang dipublikasikan pemerintah Inggris.
Kronologi dalam sumber yang tersedia menempatkan dimulainya serangan besar AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, bukan Februari 2025 . Pada tanggal tersebut, AS dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi terhadap sejumlah sasaran di Iran, termasuk fasilitas militer, infrastruktur rudal, pertahanan udara, dan pusat komando .
Sejumlah laporan juga menyebut serangan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan sejumlah pejabat senior. Klaim tersebut muncul dalam berbagai laporan mengenai perang 2026, tetapi rincian korban dan perkembangan operasionalnya tetap perlu dibaca berdasarkan sumber masing-masing .
Sebelum eskalasi besar pada 2026, terjadi perang udara selama 12 hari pada Juni 2025. Israel menyerang sasaran di Iran, lalu Amerika Serikat ikut melakukan intervensi ofensif dengan mengerahkan pembom B-2 dan rudal jelajah ke fasilitas nuklir Iran . Gencatan senjata yang rapuh kemudian mulai berlaku pada 24 Juni 2025 setelah upaya diplomatik yang dipimpin AS .
Konflik 2025 itu penting karena menjadi preseden bagi keterlibatan langsung AS dalam perang Israel-Iran. Ketegangan kemudian kembali meningkat pada 2026, ketika serangan AS-Israel meluas dan Iran merespons dengan menyerang Israel serta sejumlah pangkalan AS di kawasan .
Dalam perkembangan berikutnya, Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif. IRGC mengancam akan menutup atau mengganggu jalur strategis tersebut, sementara konflik meluas hingga melibatkan negara-negara Teluk, Yaman, dan pasar energi global .
Pada Juli 2026, AS kembali melancarkan gelombang serangan udara dan laut terhadap pusat komando, sistem pertahanan udara, serta fasilitas pesisir Iran . Operasi yang berkaitan dengan ancaman terhadap Selat Hormuz juga disebut dalam laporan mengenai penggunaan RAF Fairford dan Diego Garcia .
Sumber yang tersedia tidak memberikan verifikasi baru untuk satu pernyataan spesifik Donald Trump tentang ancaman membom infrastruktur Iran dalam periode yang sama. Namun, berbagai laporan menggambarkan pemerintahan Trump sebagai pihak yang meningkatkan skala kampanye militer AS pada 2026, termasuk melalui serangan besar pada 28 Februari dan operasi terhadap fasilitas nuklir, pelabuhan, serta infrastruktur militer .
Karena itu, klaim mengenai “ancaman Trump untuk membom infrastruktur Iran” sebaiknya tidak ditulis sebagai kutipan atau pernyataan terverifikasi tanpa sumber langsung tambahan. Yang dapat ditegaskan dari bahan yang tersedia adalah bahwa operasi militer AS memang meningkat secara signifikan pada 2026.
Klaim bahwa IRGC telah menyerang unit peperangan elektronik AS di Pangkalan Udara Al-Udeid, Qatar, belum dapat diverifikasi melalui sumber yang tersedia dalam pencarian ini.
Ada laporan mengenai serangan balasan Iran terhadap Al-Udeid dalam konteks perang 12 hari pada Juni 2025 . Namun, itu tidak sama dengan konfirmasi bahwa unit peperangan elektronik AS di pangkalan tersebut diserang dalam eskalasi Juli 2026. Klaim khusus tersebut karena itu harus diperlakukan sebagai belum terkonfirmasi.
Ancaman IRGC terhadap RAF Fairford dipicu oleh tuduhan bahwa pangkalan Inggris itu digunakan sebagai titik operasi pembom B-1 AS untuk menyerang Iran. Inggris menegaskan bahwa izin yang diberikannya hanya berlaku bagi misi defensif, tetapi Iran menilai penggunaan wilayah Inggris untuk meluncurkan serangan membuat London ikut bertanggung jawab.
Keputusan Andy Burnham untuk mempertahankan akses AS ke RAF Fairford dan Diego Garcia memperlihatkan kesinambungan kebijakan Inggris, sekaligus memperbesar risiko bahwa fasilitas Inggris dipandang Iran sebagai bagian dari infrastruktur perang AS. Sementara itu, klaim tentang ancaman spesifik Trump terhadap infrastruktur Iran dan serangan terhadap unit peperangan elektronik di Al-Udeid belum sepenuhnya didukung sumber langsung dalam bahan yang tersedia.
| Peristiwa | Tanggal | Status dalam sumber yang tersedia |
|---|---|---|
| IRGC menyebut pangkalan Inggris sebagai “target sah” | 23 Juli 2026 | Didukung BBC dan sejumlah laporan lain |
| Inggris menyatakan siap membela diri | 23 Juli 2026 | Didukung pernyataan pemerintah yang dikutip media |
| Burnham mempertahankan penggunaan pangkalan Inggris oleh AS | 21–22 Juli 2026 | Dilaporkan dengan merujuk Bloomberg dan sumber pemerintah |
| Serangan besar AS-Israel dimulai | 28 Februari 2026 | Sumber yang tersedia menempatkannya pada 2026, bukan 2025 |
| Perang 12 hari dan gencatan senjata | Juni 2025 | Didukung sejumlah kronologi dan laporan |
| Serangan terhadap unit peperangan elektronik di Al-Udeid | Tidak jelas | Belum terverifikasi dalam sumber yang tersedia |