Namun, terdapat kesenjangan persepsi yang mencolok. Meskipun ada kecemasan luas terhadap tren ini, para pekerja tetap menempatkan gaji dan stabilitas kerja di atas kekhawatiran akan otomatisasi saat membuat keputusan karier . Dalam survei Indeed Flex sebelumnya pada Agustus 2025, 59% lulusan baru melaporkan kesulitan mencari pekerjaan entry-level, dan 46% beralih ke pekerjaan sementara karena khawatir AI menggantikan peran tetap . Namun, 54% lulusan baru mengatakan mereka tidak menerima pelatihan atau peningkatan keterampilan terkait AI dari perusahaan , menunjukkan adanya kesenjangan antara kesadaran akan masalah dan tindakan nyata.
Kesimpulan soal persepsi: Kekhawatiran tentang AI menggantikan peran entry-level sangat meluas dan tertinggi di kalangan lulusan baru, tetapi belum menggeser prioritas pekerjaan tradisional dalam pengambilan keputusan sebagian besar pekerja.
Beberapa studi ketat mengonfirmasi bahwa kecemasan tersebut memiliki dasar yang nyata, meskipun efeknya terkonsentrasi dan spesifik berdasarkan usia.
Studi Stanford "Canaries in the Coal Mine" (Brynjolfsson, Chandar & Chen, diperbarui Nov 2025): Menganalisis data penggajian ADP yang mencakup jutaan pekerja AS, peneliti menemukan bahwa pekerja tahap awal (usia 22–25) di okupasi yang paling terpapar AI mengalami penurunan lapangan kerja relatif ~13% sejak akhir 2022 ketika alat AI generatif meluas . Versi terbaru dari makalah ini melaporkan penurunan relatif ~16% ketika memperhitungkan guncangan di tingkat perusahaan . Lapangan kerja untuk pekerja yang lebih tua dan berpengalaman di okupasi yang sama tetap stabil atau malah tumbuh .
Studi Harvard University (2026): Meneliti 62 juta pekerja di 285.000 perusahaan AS, peneliti menemukan bahwa perusahaan yang memanfaatkan AI generatif mengalami penurunan ~80% dalam perekrutan entry-level secara kuartalan sejak 2023 .
Data Revelio Labs: Lowongan pekerjaan entry-level di AS turun 35% sejak awal 2023 .
Analisis Federal Reserve Dallas (Jan 2026): Mengonfirmasi korelasi antar okupasi antara penurunan lapangan kerja dan paparan AI, tetapi hanya untuk pekerja yang lebih muda, dengan dampak kecil pada tingkat pengangguran agregat sejauh ini .
World Economic Forum (Juni 2026): Secara global, 37% pekerja muda bekerja di okupasi dengan paparan AI sedang hingga tinggi—termasuk 69% di Amerika Utara dan 63% di Eropa—dan kontraksi di level entry terlihat di Inggris, AS, dan Swedia .
Nuansa penting: Penurunan ini bersifat relatif—perekrutan entry-level tidak runtuh di mana-mana, tetapi menyusut secara signifikan di bidang yang terpapar AI dibandingkan dengan yang diperkirakan sebelumnya, dan dibandingkan dengan pasar tenaga kerja lainnya. Tingkat pengangguran keseluruhan untuk lulusan perguruan tinggi baru naik menjadi sekitar 5,7% pada Q4 2025 .
Beberapa peneliti terkemuka memperingatkan bahwa tren saat ini, jika tidak diatasi, menciptakan krisis struktural pada pipa talenta.
Andrew McAfee dari MIT (pemimpin bersama Initiative on the Digital Economy) memperingatkan bahwa perusahaan yang mengotomatiskan peran entry-level Gen Z membuat "kesalahan jangka panjang yang mahal." Memotong talenta dari sumbernya tidak hanya mengecilkan tenaga kerja saat ini—tetapi juga menghilangkan tempat pelatihan untuk karyawan senior, manajer, dan spesialis masa depan . Ia berargumen bahwa perusahaan akan kesulitan menemukan pekerja paruh baya yang berpengalaman di kemudian hari jika mereka berhenti merekrut pekerja junior sekarang.
Analisis Wharton School (2025): Organisasi "secara tidak sengaja membongkar jenjang karier yang secara tradisional mengembangkan profesional terampil." AI dapat menggantikan lebih dari 50% tugas di okupasi seperti riset pasar, yang berarti pekerja junior tidak pernah mendapatkan pembelajaran ala magang yang mereka butuhkan .
Pengamatan Harvard Business Review / LinkedIn: "Hilangkan peran entry-level, dan Anda mengurangi jumlah karyawan yang membenarkan manajer menengah"—kompresi pipa ini semakin parah saat Anda naik ke jenjang yang lebih tinggi .
Laporan WEF (Juni 2026): Laporan memperingatkan bahwa penipisan pipa entry-level adalah fenomena global, dan perusahaan yang meninggalkan perekrutan entry-level berisiko melemahkan pipa talenta jangka panjang mereka dan memperlambat adaptasi AI itu sendiri, karena pekerja yang paling memahami alat AI sering masuk melalui peran junior .
| Temuan | Sumber | Tahun |
|---|---|---|
| 62% pekerja percaya AI mengurangi perekrutan entry-level | Survei Indeed Flex | Juli 2026 |
| 59% lulusan baru kesulitan cari kerja entry-level | Survei Indeed Flex | Agustus 2025 |
| ~13–16% penurunan lapangan kerja relatif untuk usia 22-25 di okupasi terpapar AI | Stanford (Brynjolfsson dkk.) | |
| 80% penurunan perekrutan entry-level di perusahaan pengadopsi AI sejak 2023 | Studi Harvard | 2026 |
| 35% penurunan lowongan entry-level AS sejak awal 2023 | Revelio Labs | 2026 |
| Penurunan terkonsentrasi di pekerja muda; pekerja berpengalaman tidak terpengaruh | Stanford, Dallas Fed | 2025–2026 |
| Tingkat pengangguran lulusan baru ~5,7% (Q4 2025) | iCIMS | 2026 |
| Risiko pipa: menghilangkan peran junior menguras kumpulan talenta senior di masa depan | MIT (McAfee), Wharton, WEF |
Kesimpulan keseluruhan: Bukti sangat mendukung pandangan bahwa AI secara terukur mengurangi perekrutan entry-level di okupasi yang terpapar, yang terkonsentrasi pada pekerja yang lebih muda. Survei Indeed Flex menangkap persepsi akurat publik tentang tren ini, meskipun masih ada kesenjangan antara kecemasan umum dan pengalaman pribadi. Peringatan jangka panjang tentang pipa dari MIT, Wharton, dan WEF didasarkan pada ekonomi tenaga kerja yang mapan—jika perekrutan entry-level terus menyusut di bidang yang terpapar AI, pipa talenta untuk peran madya dan senior akan menipis di tahun-tahun mendatang.
| 2025–2026 (diperbarui) |
| 2025–2026 |