Ada tiga bagian laporan yang paling membuat pasar khawatir:
Kekecewaan tersebut datang di tengah sejumlah tekanan yang sudah lebih dulu membebani saham, termasuk gagalnya upaya akuisisi Warner Bros. Discovery senilai sekitar US$83 miliar, kekalahan dalam persaingan penawaran dengan Fox dan pihak lain, serta keputusan salah satu pendiri Netflix, Reed Hastings, untuk meninggalkan jajaran dewan .
| Metrik | Realisasi Kuartal II 2026 | Konsensus Analis | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Pendapatan | US$12,56 miliar | US$12,58 miliar | Sedikit di bawah ekspektasi |
| EPS GAAP | Sekitar US$0,79 | US$0,79 | Sesuai ekspektasi |
| Proyeksi pendapatan 2026 | US$51–51,4 miliar | — | Rentang dipersempit dari proyeksi sebelumnya |
Pendapatan kuartal II mencetak rekor dan sebagian besar sejalan dengan perkiraan. Namun, pasar saham biasanya lebih sensitif terhadap prospek beberapa bulan ke depan daripada sekadar hasil yang baru saja dicapai.
Dalam hal ini, Netflix memproyeksikan pertumbuhan pendapatan kuartal III sekitar 12% secara tahunan. Untuk keseluruhan 2026, perusahaan mempertahankan proyeksi pertumbuhan sekitar 13%–14%, lebih lambat dibandingkan tingkat pertumbuhan di atas 16% yang dilaporkan pada 2025 .
Proyeksi pertumbuhan sekitar 12% pada kuartal III menunjukkan momentum Netflix tidak lagi sekuat sebelumnya. Bagi perusahaan yang selama bertahun-tahun dihargai sebagai mesin pertumbuhan, perlambatan kecil pun dapat memicu penurunan valuasi yang besar.
Investor kini harus menilai Netflix dengan asumsi pertumbuhan 13%–14% per tahun, bukan laju pertumbuhan yang jauh lebih tinggi seperti pada fase ekspansi sebelumnya .
Netflix sebelumnya telah berhenti menjadikan pertumbuhan jumlah pelanggan sebagai metrik utama di pasar yang sudah matang. Kini, perusahaan juga mengurangi frekuensi pengungkapan data jam tontonan menjadi setahun sekali mulai 2027 .
Bagi manajemen, langkah ini dapat menyederhanakan pelaporan. Namun, bagi investor, berkurangnya data membuat kesehatan bisnis lebih sulit dipantau. Sejumlah analis menilai keputusan tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa pertumbuhan Netflix yang sebelumnya melampaui industri mungkin telah mencapai puncaknya .
Netflix tidak lagi secara rutin melaporkan penambahan pelanggan di pasar-pasar matang. Akibatnya, narasi pertumbuhan yang dulu membantu membenarkan valuasi premium saham menjadi semakin lemah.
Bisnis iklan dan peningkatan monetisasi masih dapat menjadi sumber pertumbuhan, tetapi keduanya belum sepenuhnya menggantikan daya tarik metrik pelanggan baru sebagai katalis pasar.
Saham Netflix telah merosot sekitar 46% dari puncak Juni 2025 dan sekitar 45% di bawah rekor tertingginya, sekaligus menyentuh level teknikal terburuk dalam empat tahun . Penurunan sekitar 30% sepanjang 2026 menunjukkan terjadinya valuation de-rating—pasar mulai memberikan valuasi yang lebih rendah karena melihat Netflix sebagai perusahaan matang dengan pertumbuhan lebih lambat.
Beberapa analis telah menurunkan target harga saham, sementara upaya pemulihan Netflix berulang kali gagal bertahan . Dengan kata lain, tekanan yang terjadi bukan hanya reaksi terhadap satu kuartal, melainkan perubahan ekspektasi pasar terhadap profil pertumbuhan perusahaan.
Netflix membeli kembali saham senilai US$4,7 miliar hanya pada kuartal II 2026, nilai pembelian kembali saham kuartalan terbesar dalam sejarah perusahaan .
Konteks yang lebih luas juga penting:
Buyback dalam skala besar biasanya dibaca sebagai sinyal bahwa manajemen menilai saham perusahaan berada di bawah nilai intrinsiknya dan bahwa arus kas bebas masih kuat.
Namun, waktunya juga menimbulkan pertanyaan. Setelah upaya akuisisi Warner Bros. Discovery gagal, buyback dapat dipandang sebagai perubahan strategi alokasi modal: Netflix mengembalikan uang kepada pemegang saham alih-alih membelanjakannya untuk transaksi akuisisi besar . Sebagian analis bahkan melihat program tersebut sebagai upaya menopang harga saham ketika sentimen pasar memburuk.
Kelompok pesimistis menilai kombinasi pertumbuhan pendapatan yang melambat, transparansi data yang berkurang, kegagalan akuisisi, dan ketidakpastian perkembangan bisnis iklan menunjukkan bahwa masa pertumbuhan terbaik Netflix mungkin telah lewat. Sejumlah analis telah menurunkan peringkat atau target harga saham Netflix dalam beberapa bulan terakhir .
Kelompok optimistis menyoroti pendapatan rekor, arus kas bebas yang kuat, margin yang membaik, serta potensi bisnis iklan sebagai pendorong pertumbuhan berikutnya. Mereka berpendapat pasar mungkin terlalu fokus pada perlambatan jangka pendek dan mengabaikan kekuatan finansial Netflix .
Target harga rata-rata 12 bulan dari analis juga cenderung menurun, meski angka agregat terbaru yang dapat dijadikan acuan tidak tersedia dalam hasil pencarian terakhir.
| Skenario positif | Skenario negatif |
|---|---|
| Pendapatan kuartalan mencapai rekor US$12,6 miliar | Pertumbuhan pendapatan melambat menjadi sekitar 12%–14% |
| Otorisasi buyback US$31,8 miliar menunjukkan kapasitas kas yang kuat | Buyback dianggap mengalihkan perhatian dari lemahnya pertumbuhan organik |
| Paket beriklan masih berada pada tahap awal pengembangan | Kecepatan pertumbuhan pendapatan iklan belum pasti |
| Margin operasi sekitar 28% tetap kuat | Tidak ada katalis pertumbuhan pelanggan di pasar matang |
| Arus kas bebas terus solid | Gagalnya kesepakatan Warner Bros. menghilangkan jalur ekspansi transformatif |
| Manajemen menyatakan keyakinan terhadap nilai jangka panjang perusahaan | Transparansi data yang berkurang dapat mengikis kepercayaan investor |
Inti persoalannya bagi investor bukan hanya apakah Netflix masih menghasilkan uang. Perusahaan jelas masih mencatat pendapatan besar dan arus kas yang kuat. Pertanyaan yang lebih menentukan adalah apakah pertumbuhan bisnis iklan dan monetisasi dapat menggantikan perlambatan pelanggan serta mempertahankan valuasi Netflix di masa mendatang.