Namun, salah satu klausul mengenai “manajemen lalu lintas” menjadi titik paling kontroversial. Iran menafsirkan klausul itu sebagai hak untuk mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz—bahkan berpotensi menarik biaya setelah 60 hari. Amerika Serikat dan negara-negara lain menolak tafsir tersebut dan berpendapat bahwa selat harus tetap terbuka bagi semua kapal tanpa pungutan, seperti sebelum perang .
Pada 7 Juli, tiga kapal tanker terkena serangan di Selat Hormuz. Amerika Serikat menyalahkan Iran atas insiden tersebut . Beberapa jam kemudian, militer AS melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran. Washington juga mencabut izin penjualan minyak Iran dan menerapkan kembali sanksi minyak .
Rangkaian langkah itu membuat gencatan senjata yang sudah rapuh praktis tidak dapat dipertahankan. AS kemudian menyiapkan rute alternatif di sepanjang pesisir Oman, di luar kendali Iran .
Pada 8 Juli, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa memorandum dengan Iran telah “berakhir” dan mengatakan dirinya tidak ingin berhubungan dengan Tehran .
Iran kemudian mengambil posisi yang sama kerasnya. Tehran mengatakan gelombang serangan AS yang berulang telah “membatalkan” memorandum tersebut dan menggambarkan konflik sebagai perang yang bersifat eksistensial . Dengan demikian, tidak ada lagi kerangka gencatan senjata yang diakui dan dijalankan secara efektif oleh kedua pihak.
Pada malam kedua kampanye serangan AS yang kembali berlangsung, 9 Juli 2026, serangan menghantam Pelabuhan Shahid Kalantari di Chabahar, Iran. Chabahar merupakan pelabuhan strategis yang didukung India .
Pada 18 Juli, Kedutaan Besar Iran di India mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai “kejahatan perang.” Dalam pernyataannya, kedutaan mengatakan serangan itu menghancurkan sebuah menara pengawasan di pelabuhan. Iran menuduh Amerika Serikat sengaja menyasar infrastruktur sipil dan ekonomi, serta menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa .
Duta Besar Iran untuk India juga menyatakan bahwa proyek Chabahar tetap berjalan meski perang dan sanksi terus berlangsung .
Ada perkembangan penting terkait jabatan Pemimpin Tertinggi Iran. Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan AS-Israel pada Februari 2026, lalu digantikan oleh Mojtaba Khamenei . Jadi, pada saat serangan ke Chabahar terjadi, respons dari pihak kepemimpinan Iran merujuk pada Pemimpin Tertinggi yang baru.
Seorang penasihat militer senior Pemimpin Tertinggi, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, memperingatkan bahwa Iran akan melanjutkan “operasi ofensif skala penuh” apabila serangan AS berlanjut selama dua atau tiga hari berikutnya . Garda Revolusi Iran juga mengklaim telah menyerang sejumlah lokasi militer AS sebagai balasan .
Pada 17–18 Juli 2026, Amerika Serikat dan Iran berada dalam malam ketujuh serangan intensif berturut-turut .
Komando Pusat AS atau CENTCOM mengatakan serangan dimulai pada pukul 19.00 GMT pada 17 Juli. Operasi itu melibatkan pesawat tempur, drone udara, dan kapal perang, dengan sasaran antara lain:
Dalam gelombang serangan sebelumnya, Amerika Serikat menyatakan telah menyerang lebih dari 80 lokasi di Iran . AS juga memberlakukan blokade laut yang ketat di Selat Hormuz .
Iran menyerang sejumlah lokasi militer AS di Kuwait, Yordania, dan Irak. Garda Revolusi Iran sebelumnya mengklaim telah menargetkan 85 lokasi AS di kawasan tersebut . Penasihat militer Pemimpin Tertinggi memperingatkan bahwa Tehran dapat beralih dari aksi pembalasan terbatas ke ofensif skala penuh jika serangan AS berlanjut .
Kesepakatan damai sementara AS-Iran runtuh akibat gabungan beberapa faktor: perbedaan tafsir mengenai pengaturan pelayaran di Selat Hormuz, serangan terhadap kapal tanker, serangan balasan AS, pencabutan izin ekspor minyak Iran, dan pernyataan Presiden Trump bahwa memorandum tersebut telah berakhir .
Iran merespons serangan ke Chabahar melalui kecaman diplomatik dari kedutaannya di India, yang menyebut operasi itu sebagai kejahatan perang . Dari sisi kepemimpinan Iran, Mojtaba Khamenei telah menggantikan Ali Khamenei, sementara penasihat militernya mengancam ofensif skala penuh jika serangan AS tidak dihentikan .
Pada malam ketujuh, tidak ada gencatan senjata baru yang berlaku. Amerika Serikat terus menyerang infrastruktur dan sasaran militer Iran, sedangkan Iran membalas dengan menyasar pangkalan serta lokasi militer AS di berbagai negara kawasan .