Meski demikian, sebagian besar kilang China tidak mengambil seluruh volume minyak Saudi berdasarkan kontrak pasokan berjangka mereka untuk Agustus. Setidaknya dua kilang bahkan tidak mengajukan pengiriman kontrak, sedangkan beberapa lainnya tidak menerima alokasi sementara dari Saudi Aramco .
Faktor pertama adalah lemahnya permintaan domestik. Tingkat operasi kilang China turun ke titik terendah dalam satu dekade karena konsumsi bahan bakar dalam negeri melemah. Pemerintah Beijing juga membatasi ekspor produk minyak olahan untuk menjaga ketahanan energi selama perang Iran .
Akibatnya, para pengolah minyak tidak membutuhkan tambahan bahan baku sebanyak biasanya. Pada Mei, produksi kilang China sudah dipangkas hampir 20% dibandingkan tingkat sebelum perang, menjadi sekitar 8,4 juta barel per hari .
Data impor menunjukkan tekanan tersebut dengan jelas. Impor minyak mentah China pada Juni turun 41,3% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 29,27 juta ton—setara sekitar 7,12 juta barel per hari dan merupakan level terendah sejak Oktober 2016 . Dibandingkan Mei, impor Juni juga turun 12% .
Dalam kondisi seperti itu, diskon besar belum tentu mendorong pembelian baru. Banyak kilang memilih menggunakan persediaan yang sudah ada daripada berkomitmen pada volume tambahan .
Pemangkasan US$11 memang besar, tetapi harga Saudi bukan satu-satunya pertimbangan. Pemasok lain dari Timur Tengah, Afrika, dan benua Amerika menawarkan minyak mentah spot dengan harga yang lebih kompetitif .
Sejumlah pembeli China menemukan alternatif yang lebih murah, sementara yang lain memilih terus mengandalkan stok yang tersimpan . Jadi, meski Arab Light untuk Agustus dijual di bawah patokan Oman/Dubai, minyak Saudi tetap tidak menjadi pilihan paling menarik di pasar .
Masalah berikutnya adalah logistik. Selat Hormuz—jalur sempit yang menghubungkan kawasan penghasil minyak di Teluk dengan perairan internasional—telah sebagian besar tertutup sejak akhir Februari 2026 setelah konflik Amerika Serikat dan Iran pecah .
Ketika kilang China menetapkan pemesanan untuk Agustus pada awal Juli, pertempuran kembali memanas dan lalu lintas kapal tanker di selat itu nyaris terhenti. Pada 9 Juli, hanya dua kapal tanker yang tercatat melintas pada jam-jam awal hari tersebut .
Asuransi untuk kapal yang melewati Hormuz tidak tersedia atau terlalu mahal, sementara awak kapal juga enggan mengambil risiko pelayaran tersebut . Sekitar 80 ranjau masih menghalangi bagian tengah jalur pelayaran pada pertengahan Juni, sehingga operasi normal belum mungkin kembali dalam waktu dekat .
Artinya, bahkan ketika sebuah kilang tertarik membeli minyak Saudi, mengangkut minyak itu keluar dari Teluk hingga tiba di pelabuhan China tetap menjadi proses yang mahal, tidak pasti, dan berisiko secara operasional.
Penurunan pembelian ini bukan semata-mata keputusan sukarela para kilang. Laporan perdagangan menyebutkan setidaknya dua kilang China tidak meminta pengiriman kontrak untuk Agustus, sedangkan beberapa kilang lain tidak menerima volume alokasi sementara dari Saudi Aramco .
Hal itu mengindikasikan bahwa Saudi Aramco sendiri sedang mengelola kapasitas ekspor yang terbatas di tengah blokade atau gangguan Selat Hormuz. Dengan kata lain, pasokan yang tersedia mungkin memang terbatas, terlepas dari ada atau tidaknya permintaan dari pembeli.
Pemangkasan US$11 merupakan langkah penting agar minyak Saudi kembali kompetitif. Namun, diskon itu tidak cukup untuk mengatasi tiga persoalan sekaligus: konsumsi domestik China yang lemah, kebutuhan impor yang merosot, dan risiko pengiriman melalui Selat Hormuz .
Karena kilang tidak membutuhkan banyak minyak tambahan dan pengiriman dari Teluk sulit dilakukan, sebagian besar pembeli China memilih melewatkan pemesanan kontrak Saudi untuk Agustus. Dalam kasus lain, mereka tidak memperoleh alokasi pasokan sama sekali. Sinyal harga Saudi akhirnya kalah oleh realitas permintaan dan logistik.