AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 17 Juni 2026. Nota ini dimaksudkan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dan menjadi kerangka kerja untuk mengakhiri perang yang dimulai dengan serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari . Salah satu poin utama MoU adalah menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz dan membuka kembali jalur air tersebut .
Namun, situasi berubah cepat. Pada 19 Juni, pejabat Iran sudah menarik diri dari perundingan lanjutan. Mereka beralasan serangan Israel terhadap target Hizbullah di Lebanon adalah pelanggaran persyaratan MoU . Gencatan senjata semakin goyah ketika Iran meluncurkan serangan drone ke kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Presiden Trump menyebutnya sebagai "pelanggaran bodoh" . Puncaknya, pada 8 Juli, setelah Iran menyerang pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait, Trump mendeklarasikan kesepakatan sementara tersebut "berakhir" . Pada 10 Juli, Trump secara terbuka menyatakan "Gencatan Senjata TELAH BERAKHIR!" . Hingga 14 Juli, banyak pengamat menyimpulkan Trump telah membatalkan semua langkah penting MoU dalam waktu kurang dari sebulan, membuat kedua negara kembali ke kondisi konflik seperti sebelum MoU .
Berikut adalah kronologi serangan utama:
Selat Hormuz, yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, menjadi pusat konflik. Lalu lintas maritim sudah turun drastis hingga di bawah 10% dari level normal sejak awal April . Pada 7 Juli, tingkat ancaman dinaikkan menjadi "parah" oleh koalisi angkatan laut pimpinan AS. Mereka memperingatkan bahwa "tindakan permusuhan yang disengaja" oleh Iran "kemungkinan besar" terjadi .
Puncaknya, pada 11 Juli, IRGC mendeklarasikan Selat "ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut" setelah menyerang sebuah kapal yang mencoba melintas tanpa izin. Mereka juga memperingatkan akan ada "respons keras" terhadap setiap aksi balasan . Keesokan harinya, IRGC melepaskan tembakan peringatan ke kapal lain yang mencoba melintas. Akibatnya, lalu lintas kapal komersial merosot tajam ke level mendekati rekor terendah—hanya 14 kapal komersial yang melintas dalam satu hari .
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeluarkan serangkaian peringatan yang semakin keras sepanjang konflik ini:
Israel terus menjaga kesiapsiagaan tingkat tinggi. Pada awal 2026, Netanyahu melobi Trump untuk melakukan serangan militer bersama ke Iran . Pada bulan Maret, New York Times melaporkan bahwa Israel berusaha sekuat tenaga menghantam Iran selagi masih bisa, karena khawatir gencatan senjata akan menghentikan operasi mereka . Pada April, Netanyahu menyatakan Israel tetap siap untuk "kembali bertempur" melawan Iran kapan saja . Pada 9 Juli, Netanyahu berbicara langsung dengan Trump mengenai serangan AS ke Iran, saat Gedung Putih bersiap menghadapi eskalasi yang berkepanjangan .
Prospek diplomasi saat ini sangat tidak menentu dan gelap. MoU 17 Juni memang membuka jalan menuju perundingan nuklir baru , namun kesepakatan itu runtuh dalam hitungan minggu di tengah saling tuduh pelanggaran . Sebuah delegasi Iran memang sempat bepergian ke Oman pada pertengahan Juli untuk melanjutkan negosiasi tidak langsung melalui mediator, bahkan saat AS melancarkan serangan lebih lanjut .
Namun, Arms Control Association menilai para negosiator menghadapi "hambatan-hambatan signifikan" menuju kesepakatan akhir, dengan pertempuran yang terus berlanjut di samping meja perundingan . Pelacak konflik global CFR (Dewan Hubungan Luar Negeri AS) mencatat bahwa gencatan senjata tampak "di ambang kehancuran" karena kedua belah pihak saling serang atas tuduhan pelanggaran . Pada 14 Juli, para pengamat menyimpulkan bahwa kedua negara telah "kembali ke kondisi konflik seperti sebelum MoU" .