Yang menarik, pola ini bukan pertama kalinya. Sepekan sebelumnya, pada 7 Juli, saham ASML juga melorot 4,6% setelah laba Samsung yang memecahkan rekor gagal memenuhi ekspektasi pasar yang terlalu tinggi . Artinya, pasar Korea Selatan kini menjadi "pemicu kejut" utama bagi saham ASML.
Di atas semua itu, ada ancaman struktural yang membayangi bisnis ASML: ketidakpastian aturan ekspor ke China. Isu utamanya adalah RUU MATCH Act (Multilateral Alignment of Technology Controls on Hardware Act) yang diusulkan oleh anggota parlemen AS pada April 2026 .
Kombinasi antara krisis jangka pendek dari Korea dan ancaman jangka panjang dari aturan ekspor AS membuat investor ASML berada dalam posisi yang tidak nyaman.
Hari Rabu, 15 Juli 2026, menjadi tanggal yang ditunggu-tunggu. ASML dijadwalkan merilis laporan laba kuartal kedua tahun fiskal 2026 sebelum pasar dibuka . Laporan ini menjadi krusial karena:
Meskipun dilanda tekanan, tidak semuanya suram bagi ASML. Rata-rata dari 43 analis saham masih memberikan rating "Strong Buy" dengan target harga 12 bulan sebesar $1.830,83 . Beberapa bank investasi besar baru-baru ini menaikkan target harga mereka, dipicu oleh sentimen positif seperti:
Kenaikan target harga ini datang dari berbagai bank seperti Deutsche Bank, Goldman Sachs, JPMorgan, Bank of America, dan Morgan Stanley . Wells Fargo bahkan mengeluarkan salah satu upgrade paling agresif pada akhir Juni
.
Saham ASML saat ini berada di antara kekuatan bullish dan bearish yang kuat. Sisi bullish didukung oleh permintaan AI yang luar biasa dan panduan pertumbuhan yang kuat. Sisi bearish didorong oleh risiko geopolitik (MATCH Act) dan volatilitas ekstrem dari pasar Korea Selatan. Hari Senin, 13 Juli adalah contoh sempurna bagaimana guncangan di Korea bisa langsung berdampak pada saham raksasa Belanda ini. Semua mata kini tertuju pada laporan laba Q2 pada 15 Juli untuk menentukan arah selanjutnya.