Laporan menggambarkan 'gelombang kelima' serangan AS pada 9–10 Juli 2026 sebagai operasi besar. Komando Pusat AS menyatakan telah menyerang sekitar 90 target di seluruh Iran, merilis rekaman hitam-putih yang menunjukkan serangan ke landasan pacu bandara dan peluncur rudal . Pejabat Iran melaporkan ledakan di dekat satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir mereka di Bushehr dan beberapa lokasi lain di seluruh negeri
. Gelombang serangan sebelumnya berfokus pada fasilitas militer Iran di dekat pelabuhan selatan dan Selat Hormuz
. Serangan kelima ini menandai perluasan target yang signifikan, bergerak melampaui situs nuklir hingga mencakup infrastruktur militer konvensional dan area di dekat kompleks nuklir Bushehr.
Respons Iran cepat dan multi-front. Iran meluncurkan rudal yang menargetkan sekutu AS, Kuwait dan Bahrain, meskipun pejabat AS mengatakan rudal-rudal tersebut tidak berfungsi atau berhasil dicegat . Iran juga menghentikan komunikasi dengan mediator AS melalui Qatar dan Oman, semakin menandakan runtuhnya jalur diplomatik
. Pejabat Iran secara terbuka menuduh AS menyerang di dekat pembangkit nuklir Bushehr, dan media pemerintah melaporkan ledakan di berbagai provinsi
. Respons ini konsisten dengan ancaman sebelumnya: Pemimpin Tertinggi Iran telah bersumpah pada akhir Juni 2025 untuk menyerang pangkalan AS jika AS menyerang Iran lagi, dan angkatan bersenjata Iran telah menunjukkan jangkauan mereka dengan serangan 23 Juni ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar
.
Sengketa kendali Selat Hormuz adalah penyebab langsung runtuhnya gencatan senjata, dan statusnya tetap menjadi isu sentral yang belum terselesaikan. MOU hanya menyetujui secara prinsip untuk melanjutkan navigasi melalui selat tersebut tetapi tidak menjelaskan pihak mana yang akan mengelola dan mengendalikan jalur tersebut . Pada 12 Juli, Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan selat itu ditutup setelah mengaku melepaskan tembakan peringatan ke sebuah kapal yang mencoba melintasi rute yang tidak sah
. Lalu lintas melalui selat tersebut masih tidak menentu, dan para analis menggambarkan transit Hormuz sebagai 'kemungkinan besar akan tetap tidak dapat diprediksi untuk waktu yang akan datang'
.
Pasar minyak bereaksi secara instan dan keras. Saat gencatan senjata ditandatangani pada pertengahan Juni, minyak mentah Brent turun ke sekitar USD 79,85 per barel, mencerminkan kelegaan pasar . Saat gencatan senjata mulai runtuh pada awal Juli, harga melonjak sekitar 7% dalam satu hari, dengan Brent mencapai USD 79,07 dan West Texas Intermediate meroket
. Lonjakan itu merupakan kenaikan satu hari terbesar untuk kedua acuan sejak April
. Pada 9–10 Juli, harga merosot sekitar 2% ke kisaran USD 76,30 karena kekhawatiran permintaan ekonomi meredam kekhawatiran pasokan
. Namun, kerentanan yang mendasar tetap ada: Brent sempat menyentuh USD 80 per barel pada 8 Juli sebelum mundur
. Baik NPR maupun Politico melaporkan bahwa runtuhnya gencatan senjata memasukkan 'ketidakpastian baru' ke pasar global, dengan harga saham jatuh bersamaan dengan lonjakan minyak
. Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa kembalinya pertempuran mengancam akan memperpanjang krisis energi global dan bahwa permintaan minyak dunia berada di jalur untuk turun untuk pertama kalinya sejak 2020
.
MOU secara efektif sudah tidak berlaku. Trump menyatakannya berakhir pada 8 Juli, dan kedua belah pihak melanjutkan permusuhan aktif . Belum ada kerangka gencatan senjata baru yang diusulkan, dan negosiasi melalui mediator Qatar dan Oman telah terhenti
. Runtuhnya kerangka 60 hari ini juga merusak keringanan sementara sanksi minyak Iran yang telah berlaku, dengan AS mencabut izin tersebut pada 7 Juli
.
Keruntuhan gencatan senjata yang begitu cepat menggarisbawahi kelemahan kritis dalam MOU 17 Juni: kesepakatan itu menghentikan permusuhan dan menyediakan kerangka untuk membuka kembali Selat Hormuz, tetapi meninggalkan isu yang paling kontroversial — siapa yang mengendalikan dan mengelola jalur air tersebut — tidak terselesaikan. Ambiguitas yang dihasilkan memberi kedua belah pihak alasan untuk saling menuduh tidak mematuhi, dan tidak ada yang menunjukkan kesediaan untuk mundur . Bagi pasar energi global, keruntuhan ini berarti era arus minyak Teluk yang tidak terputus telah berakhir, menurut analis Reuters, dan para pedagang perlu memasukkan premi risiko geopolitik yang lebih tinggi ke dalam harga minyak mentah untuk masa mendatang
.