Pengumuman ini secara langsung membantah narasi publik pemerintahan Trump bahwa kampanye AS-Israel telah melumpuhkan kemampuan militer Iran. Dengan mengisyaratkan bahwa produksi drone berjalan tanpa hambatan — dan justru meningkat tiga kali lipat — Iran hendak menunjukkan bahwa bombardir tersebut gagal menghancurkan basis industri drone intinya. Ini adalah kontra-narasi yang disengaja, yang ditujukan baik untuk audiens domestik maupun rival regionalnya.
Pada hari-hari awal perang, Iran membalas dengan ratusan rudal dan lebih dari 1.000 drone yang menargetkan sekutu AS di Teluk . Bahkan sebelum konflik, Iran sudah mampu memproduksi sekitar 10.000 drone setiap bulan . Peningkatan tiga kali lipat dari angka itu berarti kapasitas produksi masa perang Iran bisa mencapai puluhan ribu per bulan. Analis di Center for Strategic and International Studies (CSIS) mencatat bahwa "Iran akan mampu memproduksi lebih banyak jika konflik ini berlanjut," dengan menunjuk pada kesederhanaan dan biaya produksi drone yang murah sebagai keunggulan struktural dalam perang atrisi .
Penilaian intelijen AS melukiskan gambaran yang sangat berbeda dengan sikap publik optimis pemerintahan Trump. Pada 21 Mei 2026, CNN melaporkan bahwa intelijen AS menilai militer Iran "membangun kembali jauh lebih cepat dari perkiraan awal," dan bahkan sudah melanjutkan produksi drone selama masa gencatan senjata . Seorang sumber mengatakan kepada CNN bahwa Iran dapat membangun kembali kekuatan dronenya dalam waktu enam bulan .
Pada awal Mei, Iran telah memulihkan akses operasional ke "sebagian besar" situs rudalnya di sepanjang Selat Hormuz — 30 dari 33 situs . Institute for the Study of War (ISW) mencatat bahwa upaya Iran untuk membangun kembali selama gencatan senjata "konsisten dengan perilaku organisasi militer mana pun yang diberi waktu dan ruang" . Sebuah penilaian pra-perang dari National Intelligence Council pada Februari 2026 telah menyimpulkan bahwa serangan militer besar sekalipun kemungkinan tidak akan berhasil menggulingkan rezim Iran — sebuah temuan yang kini terbukti benar.
Pakistan memainkan peran diplomatik sentral dalam mengakhiri permusuhan aktif. Pada 8 April 2026, Pakistan memediasi gencatan senjata awal selama dua minggu, yang kemudian diperpanjang tanpa batas waktu oleh Presiden Trump pada 21 April . Sejak awal, gencatan senjata ini secara struktural rapuh, dengan pelanggaran yang dilaporkan oleh kedua belah pihak hampir seketika .
Pada 12 Juni, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan bahwa AS dan Iran telah menyetujui kata-kata dalam sebuah kesepakatan untuk mengakhiri perang mereka, yang dirancang oleh mediator yang bekerja untuk memfinalisasi persyaratan . Hasilnya adalah "Nota Kesepahaman Islamabad" — sebuah kerangka gencatan senjata sementara yang memprioritaskan pembukaan kembali Selat Hormuz dan mengakhiri permusuhan langsung, termasuk operasi Israel di Lebanon .
Analis independen menggambarkan Nota Kesepahaman Islamabad sebagai "secara struktural rapuh dan tidak mungkin bertahan lama," seraya mencatat bahwa kesepakatan itu dibuat dengan tergesa-gesa setelah lebih dari 100 hari perang . Pada awal Juli, Iran mengecam pelanggaran "terang-terangan" oleh AS dan Israel, dan nota kesepahaman itu digambarkan "hancur berantakan" .
Gencatan senjata telah berulang kali dilanggar. Pada 7 Juni, Iran meluncurkan rudal ke Israel — serangan pertama sejak gencatan senjata April — yang mempersulit upaya mediasi . Israel melanjutkan operasi militernya melawan Hizbullah selama gencatan senjata, menghujani lebih dari 200 lokasi di Lebanon dalam sehari dan dilaporkan menewaskan 254 orang . Pada awal Juli, AS dilaporkan melakukan "serangan udara yang menghancurkan di seluruh Iran selatan" . Siklus pelanggaran dan pembalasan ini terus membahayakan gencatan senjata.
Rusia dan China telah menyediakan jalur penyelamat krusial yang memungkinkan pemulihan Iran, menurut intelijen AS dan pejabat Barat.
Rusia dilaporkan mengirimkan komponen drone ke Iran melalui Laut Kaspia untuk membantu membangun kembali kemampuan ofensifnya . Pejabat AS mengkonfirmasi bahwa Rusia "mendukung upaya Iran untuk membangun kembali kemampuan militernya selama masa gencatan senjata" . Lebih spesifik lagi, Rusia telah memberikan Iran taktik drone canggih yang diperoleh dari perangnya di Ukraina, termasuk nasihat khusus mengenai cara menyerang target Amerika dan negara-negara Teluk .
China terus memasok Iran dengan komponen yang digunakan dalam produksi drone . Analis mencatat bahwa China "tetap penting bagi industri drone Iran... terutama sebagai sumber besar komponen khusus" . China juga secara aktif mendorong Iran untuk menerima gencatan senjata, dengan menawarkan jaminan keamanan Iran selama pembicaraan .
Sebuah laporan JINSA mendokumentasikan bahwa China dan Rusia melindungi Iran secara diplomatis dan memberikan dukungan intelijen, namun tidak melakukan intervensi militer langsung . Efek kumulatifnya, seperti yang dinilai intelijen AS, adalah bahwa bantuan Rusia dan China merupakan "elemen krusial dari kemampuan Teheran untuk bertahan dari efek berminggu-minggu serangan udara" .
Klaim Iran tentang peningkatan tiga kali lipat produksi drone bukanlah propaganda kosong. Klaim ini konsisten dengan temuan intelijen AS bahwa Iran membangun kembali kemampuannya lebih cepat dari perkiraan, dimungkinkan oleh pengiriman komponen dari Rusia dan rantai pasok China, dan terjadi di bawah naungan gencatan senjata yang dimediasi Pakistan yang telah dilanggar oleh kedua belah pihak secara rutin. Perkembangan ini menggagalkan tujuan strategis inti kampanye AS-Israel: melumpuhkan kekuatan militer Iran hingga tidak lagi mampu mengancam stabilitas kawasan. Sebaliknya, Iran tampaknya muncul dari konflik dengan kemampuan drone yang lebih besar dan lebih teruji, serta kapasitas produksi masa perang yang sudah terbukti.