Dominasi Merek Lokal China yang Tak Terbendung. Produsen China kini menguasai sekitar 70% pangsa pasar mobil penumpang, menekan habis merek asing warisan . Pabrikan mobil listrik seperti BYD, Nio, dan lainnya dengan agresif menawarkan harga miring dan teknologi yang terus diperbarui. Akibatnya, mobil Jerman dianggap sebagai produk "untuk para orang tua" — ketinggalan zaman dan kemahalan .
Lingkungan Kompetitif yang Brutal dan Perang Harga. Mercedes-Benz secara gamblang menyebut "lingkungan kompetitif yang semakin intensif" sebagai penyebab penurunan mereka . Merek premium China mulai menyerang langsung segmen yang selama ini menjadi benteng BMW dan Mercedes.
Mobil Bermesin Bakar Jadi Korban Utama. Asosiasi Mobil Penumpang China (CPCA) mencatat penurunan paling tajam terjadi pada kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE). Pasar dengan cepat beralih ke Kendaraan Energi Baru (NEV) di mana merek China mendominasi .
Penurunan yang dialami merek Jerman jauh lebih curam dibandingkan rata-rata pasar China:
Jawabannya: Tidak. Penjualan global pun ikut merosot.
Bloomberg melaporkan pada Mei 2026 bahwa BMW mencatat "pesanan melonjak di Eropa" yang secara parsial membantu menstabilkan ekspektasi profitabilitas , namun secara volume, tidak satu pun dari ketiga pabrikan ini yang mampu mengimbangi kerugian besar di China. Pasar China secara historis menyumbang sekitar sepertiga dari total penjualan mereka .
Sebagai respons terhadap dominasi industri China, Uni Eropa telah meluncurkan strategi multi-cabang pada 2024–2026: