Birol menggambarkan jaringan listrik Eropa yang sudah tua dan tidak memadai sebagai hambatan kritis. Dalam wawancara 10 Juli 2026, ia menyebut keusangan jaringan listrik Eropa sebagai "kejahatan ekonomi" (an economic crime) . Ia dan Komisaris Energi UE Dan Jørgensen bersama-sama berpendapat bahwa menambahkan rekor jumlah energi terbarukan tidak ada artinya jika jaringan tidak dapat menyalurkan listrik ke konsumen, dan bahwa kendala jaringan serta penundaan koneksi di seluruh negara UE merupakan hambatan utama untuk elektrifikasi yang lebih cepat . Laporan Euronews sebelumnya (Desember 2025) mencatat bahwa 14 negara anggota masih berada di bawah target interkoneksi 2030 mereka, dan Komisi telah mengajukan rencana peningkatan jaringan senilai €1,2 triliun untuk mengatasi kesenjangan tersebut.
Birol secara eksplisit menolak kemungkinan kembali ke gas Rusia. Dalam wawancara yang sama pada 10 Juli 2026, ia "mengecualikan hipotesis untuk kembali ke gas Rusia" dan menekankan bahwa ketergantungan jangka panjang UE pada Moskow di bidang energi adalah akar penyebab tingginya harga listrik saat ini . Versi wawancara berbahasa Prancis mengutipnya mengatakan bahwa kembali ke gas Rusia akan menjadi kesalahan besar, dan bahwa UE yang secara resmi melarang impor gas Rusia mulai tahun 2027 berarti Eropa tidak boleh berbalik arah . Dalam wawancara terpisah pada Mei 2026, ia memperingatkan bahwa melonggarkan sanksi terhadap energi Rusia akan menjadi "kesalahan besar" (major mistake) .
Birol dan IEA berulang kali menunjukkan bahwa listrik di banyak negara UE tetap dua hingga tiga kali lebih mahal daripada gas per unit, yang menghancurkan insentif bagi rumah tangga dan bisnis untuk beralih ke pompa panas, kendaraan listrik, atau proses industri bertenaga listrik . Sebuah analisis Euronews tentang strategi elektrifikasi UE (9 Juli 2026) menyatakan dengan blak-blakan: "listrik tetap jauh lebih mahal daripada gas di sebagian besar negara UE," dan kesenjangan harga ini—ditambah dengan biaya awal yang tinggi—menghambat adopsi . Pekerjaan IEA yang lebih luas menunjukkan bahwa sampai harga listrik terlepas dari volatilitas harga gas, kesenjangan daya saing akan terus berlanjut; Badan Lingkungan Eropa mengonfirmasi bahwa harga gas masih mendorong harga listrik grosir di seluruh UE .
Di berbagai wawancara, Birol membingkai momen saat ini sebagai jendela kritis. Ia menyebut krisis energi yang dipicu oleh gangguan di Selat Hormuz sebagai "ancaman terbesar bagi keamanan energi global dalam sejarah" , dan mengatakan kepada Euronews di Davos (Januari 2026) bahwa "mengelektrifikasi segalanya" sangat penting untuk kemakmuran dan keamanan Eropa . Ia berpendapat bahwa perekonomian dan daya saing industri kawasan bergantung pada pergeseran cepat dari bahan bakar fosil ke listrik bersih, dan bahwa menunggu hanya akan memperdalam ketergantungan dan menaikkan biaya.
Secara terpisah dari Birol, Menteri Lingkungan Turki dan Presiden Terpilih COP31 Murat Kurum telah mengusulkan target global baru untuk elektrifikasi. Pada 9 Juni 2026 di Pertemuan Iklim Juni PBB di Bonn, Kurum mengumumkan target sukarela agar listrik memenuhi 35% dari permintaan energi final dunia pada tahun 2035 . Target ini tidak mengikat dan bukan bagian dari teks negosiasi COP formal, tetapi dirancang untuk menggalang ambisi internasional. Kurum menyebut elektrifikasi sebagai "perbatasan kritis transisi" dan mencatat bahwa listrik saat ini hanya mencakup sekitar 20% dari konsumsi energi final global . Reuters melaporkan bahwa proposal tersebut mendapat dukungan dari beberapa pemerintah, sebagian didorong oleh guncangan keamanan energi akibat konflik Iran .
Semua klaim bersumber dari wawancara Euronews dengan Birol (Juli dan Mei 2026), Reuters, UNFCCC, data Eurelectric, dan Badan Lingkungan Eropa. Tidak ada bukti yang bertentangan ditemukan dalam hasil pencarian.