IEA mengkritik stagnasi tingkat elektrifikasi Uni Eropa yang hanya 23% selama satu dekade terakhir, jauh dari target 32% pada 2030 [4][5][6]. Birol menyebut jaringan listrik Eropa yang usang dan tidak memadai sebagai 'kejahatan ekonomi' yang menghambat transisi energi dan investasi [6][7].

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: Search & fact-check with cited sources for What did IEA chief Fatih Birol say about Europe's electrification progress, including his warning. Article summary: Here is a full fact-checked synthesis of what IEA chief Fatih Birol has said about Europe's electrification progress on each of the points you raised, plus the separate COP31 proposal from Murat Kurum.. Topic tags: general, general web, user generated, news, government. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fak
Berikut adalah sintesis lengkap yang telah diperiksa faktanya mengenai pernyataan kepala IEA, Fatih Birol, tentang progres elektrifikasi Eropa, serta proposal terpisah dari Presiden COP31 Murat Kurum.
Birol berulang kali memperingatkan bahwa tingkat elektrifikasi UE mengalami stagnasi. Dalam wawancara eksklusif dengan Euronews pada 10 Juli 2026, ia menyoroti bahwa pangsa listrik dalam konsumsi energi final Eropa telah mandek di sekitar 23% selama satu dekade terakhir . Data independen dari Eurelectric dan European Council on Foreign Relations mengonfirmasi bahwa tingkat elektrifikasi UE berada di 23,4% pada tahun 2024, tidak berubah selama kira-kira satu dekade
. Target blok itu sendiri, yang pertama kali ditetapkan dalam Clean Industrial Deal, adalah meningkatkannya menjadi setidaknya 32% pada tahun 2030
.
Birol menggambarkan jaringan listrik Eropa yang sudah tua dan tidak memadai sebagai hambatan kritis. Dalam wawancara 10 Juli 2026, ia menyebut keusangan jaringan listrik Eropa sebagai "kejahatan ekonomi" (an economic crime) . Ia dan Komisaris Energi UE Dan Jørgensen bersama-sama berpendapat bahwa menambahkan rekor jumlah energi terbarukan tidak ada artinya jika jaringan tidak dapat menyalurkan listrik ke konsumen, dan bahwa kendala jaringan serta penundaan koneksi di seluruh negara UE merupakan hambatan utama untuk elektrifikasi yang lebih cepat
. Laporan Euronews sebelumnya (Desember 2025) mencatat bahwa 14 negara anggota masih berada di bawah target interkoneksi 2030 mereka, dan Komisi telah mengajukan rencana peningkatan jaringan senilai €1,2 triliun untuk mengatasi kesenjangan tersebut.
Birol secara eksplisit menolak kemungkinan kembali ke gas Rusia. Dalam wawancara yang sama pada 10 Juli 2026, ia "mengecualikan hipotesis untuk kembali ke gas Rusia" dan menekankan bahwa ketergantungan jangka panjang UE pada Moskow di bidang energi adalah akar penyebab tingginya harga listrik saat ini . Versi wawancara berbahasa Prancis mengutipnya mengatakan bahwa kembali ke gas Rusia akan menjadi kesalahan besar, dan bahwa UE yang secara resmi melarang impor gas Rusia mulai tahun 2027 berarti Eropa tidak boleh berbalik arah
. Dalam wawancara terpisah pada Mei 2026, ia memperingatkan bahwa melonggarkan sanksi terhadap energi Rusia akan menjadi "kesalahan besar" (major mistake)
.
Birol dan IEA berulang kali menunjukkan bahwa listrik di banyak negara UE tetap dua hingga tiga kali lebih mahal daripada gas per unit, yang menghancurkan insentif bagi rumah tangga dan bisnis untuk beralih ke pompa panas, kendaraan listrik, atau proses industri bertenaga listrik . Sebuah analisis Euronews tentang strategi elektrifikasi UE (9 Juli 2026) menyatakan dengan blak-blakan: "listrik tetap jauh lebih mahal daripada gas di sebagian besar negara UE," dan kesenjangan harga ini—ditambah dengan biaya awal yang tinggi—menghambat adopsi
. Pekerjaan IEA yang lebih luas menunjukkan bahwa sampai harga listrik terlepas dari volatilitas harga gas, kesenjangan daya saing akan terus berlanjut; Badan Lingkungan Eropa mengonfirmasi bahwa harga gas masih mendorong harga listrik grosir di seluruh UE
.
Di berbagai wawancara, Birol membingkai momen saat ini sebagai jendela kritis. Ia menyebut krisis energi yang dipicu oleh gangguan di Selat Hormuz sebagai "ancaman terbesar bagi keamanan energi global dalam sejarah" , dan mengatakan kepada Euronews di Davos (Januari 2026) bahwa "mengelektrifikasi segalanya" sangat penting untuk kemakmuran dan keamanan Eropa
. Ia berpendapat bahwa perekonomian dan daya saing industri kawasan bergantung pada pergeseran cepat dari bahan bakar fosil ke listrik bersih, dan bahwa menunggu hanya akan memperdalam ketergantungan dan menaikkan biaya.
Secara terpisah dari Birol, Menteri Lingkungan Turki dan Presiden Terpilih COP31 Murat Kurum telah mengusulkan target global baru untuk elektrifikasi. Pada 9 Juni 2026 di Pertemuan Iklim Juni PBB di Bonn, Kurum mengumumkan target sukarela agar listrik memenuhi 35% dari permintaan energi final dunia pada tahun 2035 . Target ini tidak mengikat dan bukan bagian dari teks negosiasi COP formal, tetapi dirancang untuk menggalang ambisi internasional. Kurum menyebut elektrifikasi sebagai "perbatasan kritis transisi" dan mencatat bahwa listrik saat ini hanya mencakup sekitar 20% dari konsumsi energi final global
. Reuters melaporkan bahwa proposal tersebut mendapat dukungan dari beberapa pemerintah, sebagian didorong oleh guncangan keamanan energi akibat konflik Iran
.
Semua klaim bersumber dari wawancara Euronews dengan Birol (Juli dan Mei 2026), Reuters, UNFCCC, data Eurelectric, dan Badan Lingkungan Eropa. Tidak ada bukti yang bertentangan ditemukan dalam hasil pencarian.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
IEA mengkritik stagnasi tingkat elektrifikasi Uni Eropa yang hanya 23% selama satu dekade terakhir, jauh dari target 32% pada 2030 [4][5][6].
IEA mengkritik stagnasi tingkat elektrifikasi Uni Eropa yang hanya 23% selama satu dekade terakhir, jauh dari target 32% pada 2030 [4][5][6]. Birol menyebut jaringan listrik Eropa yang usang dan tidak memadai sebagai 'kejahatan ekonomi' yang menghambat transisi energi dan investasi [6][7].
Birol menolak tegas gagasan kembali ke pasokan gas Rusia dan menyebutnya sebagai 'kesalahan besar' yang akan memperparah krisis energi Eropa [6][15].