Kesepakatan Trilateral 26 Juni 2026 mengkondisikan penarikan bertahap pasukan Israel dari Lebanon selatan dengan syarat 'perlucutan senjata yang lengkap dan terverifikasi' terhadap Hizbullah oleh Angkatan Bersenjata L... Sekjen Hizbullah, Naim Qassem, langsung menolak kesepakatan tersebut dalam waktu 24 jam, menyebu...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: Search & fact-check with cited sources for What are the key political and regional developments surrounding the stalled U.S.-brokered Trilat. Article summary: Here is a detailed, sourced breakdown of the stalled U.S.-brokered Trilateral Framework Agreement of June 26, 2026.. Topic tags: general, government, news, general web, user generated. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers, clickbait thumbnails, icons, and tiny thumbnail layouts. Make it useful as
Pada 26 Juni 2026, Amerika Serikat, Israel, dan Lebanon menandatangani Perjanjian Kerangka Kerja Trilateral (Trilateral Framework Agreement) 14 poin di Washington setelah lima putaran negosiasi langsung . Mekanisme intinya adalah proses resiprokal yang berurutan: Israel secara bertahap akan menarik diri dari Lebanon selatan, dan Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF) akan memulihkan otoritas kedaulatan atas seluruh wilayah Lebanon — tetapi hanya setelah "perlucutan senjata secara lengkap dan terverifikasi dari kelompok bersenjata non-negara" (yaitu Hizbullah) dan pembongkaran infrastruktur terkait
. Bantuan militer AS kepada LAF juga dikondisikan pada kemajuan perlucutan senjata ini
. Kesepakatan ini tidak mencantumkan jadwal spesifik untuk penarikan Israel dan secara eksplisit mengaitkan penarikan tersebut dengan perlucutan senjata Hizbullah — sebuah syarat yang secara konsisten ditolak oleh Hizbullah
.
Sekretaris Jenderal Naim Qassem mengutuk kesepakatan itu dalam waktu 24 jam setelah penandatanganannya. Dalam sebuah pernyataan pada 27 Juni, ia menyebutnya "memalukan, menghina, dan merupakan penyerahan kedaulatan" bagi Lebanon . Qassem menyatakan kerangka kerja itu "batal demi hukum" dan "kesalahan besar" oleh pemerintah Beirut, menuduhnya tunduk pada tuntutan Israel dan Amerika
. Ia secara khusus menolak keterkaitan antara penarikan Israel dengan perlucutan senjata Hizbullah, menyebut syarat itu tidak dapat diterima
. Blok parlementer Hizbullah bergema dengan sikap ini, dengan anggota parlemen Mohammad Raad mengecam "ketundukan total" Beirut
.
Ketua Parlemen Nabih Berri, sekutu lama Hizbullah dan pemimpin Gerakan Amal, muncul sebagai penentang institusional utama. Pada 29 Juni, Berri menyatakan kesepakatan itu "tidak akan lolos" dan "tidak akan dilaksanakan" dalam bentuknya saat ini, dengan alasan tidak menjamin hak-hak Lebanon . Ia memperingatkan bangsa itu agar tidak jatuh ke dalam "fitna" — istilah Arab untuk kekacauan sipil atau kekacauan sosial — mendesak warga Lebanon untuk tidak terlibat dalam konflik internal akibat kesepakatan ini
. Berri mengatakan gerakan Amal-nya akan "menghadapi" kesepakatan itu di Kabinet
.
Anggota parlemen Hizbullah, Mohammad Raad, lebih jauh lagi menyebut kesepakatan itu sebagai "hasutan perang saudara" . Ratusan pendukung Hizbullah turun ke jalan-jalan di Beirut, memblokir jalan dengan ban terbakar untuk memprotes kesepakatan itu
. Gerakan Houthi Yaman juga ikut campur, menyatakan bahwa warga Lebanon berhak "menggulingkan pemerintah boneka dengan cara apa pun"
.
Kesepakatan itu segera menciptakan krisis konstitusional dalam pemerintahan bagi hasil kekuasaan di Lebanon. Menteri-menteri Hizbullah membantah bahwa Kabinet pernah memberikan mandat untuk bernegosiasi dengan Israel, sehingga melemahkan dasar hukum kesepakatan itu . Berri menegaskan kesepakatan itu dicapai "dengan melanggar hukum Lebanon"
. Para diplomat dan pejabat Lebanon secara pribadi mengakui status hukum kesepakatan yang tidak pasti dan kurangnya proses ratifikasi yang jelas; seorang diplomat Barat menggambarkannya sebagai "non-starter" mengingat hambatan politiknya
. Dengan Hizbullah dan sekutunya yang menguasai posisi veto utama dalam pemerintahan, kerangka kerja ini menghadapi kebuntuan institusional yang hampir total
.
Kerangka kerja ini secara luas dipandang sebagai bagian dari strategi AS yang lebih luas untuk mengisolasi Iran dan melemahkan pengaruhnya di Lebanon. Soufan Center menggambarkan kesepakatan itu sebagai upaya untuk "meminggirkan peran Iran dalam urusan dalam negeri Lebanon" . Analis Israel memandangnya sebagai keuntungan strategis dengan "menjauhkan Lebanon dari Iran"
. Namun, kelangsungan kesepakatan itu bergantung pada kepatuhan Hizbullah — dan Hizbullah tetap tertanam kuat dalam poros Iran. Kesepakatan itu menyusul gencatan senjata 19 Juni antara Israel dan Hizbullah yang dimediasi oleh AS, Qatar, dan Iran — menyoroti jalur diplomatik yang bersaing
. Perang itu sendiri telah menewaskan lebih dari 4.200 orang dan mengungsikan ratusan ribu orang sejak Maret 2026
. Presiden Joseph Aoun membela kesepakatan itu sebagai "langkah pertama untuk memulihkan kedaulatan," tetapi posisinya sangat bertentangan dengan Hizbullah dan sekutu parlementernya
.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Kesepakatan Trilateral 26 Juni 2026 mengkondisikan penarikan bertahap pasukan Israel dari Lebanon selatan dengan syarat 'perlucutan senjata yang lengkap dan terverifikasi' terhadap Hizbullah oleh Angkatan Bersenjata L...
Kesepakatan Trilateral 26 Juni 2026 mengkondisikan penarikan bertahap pasukan Israel dari Lebanon selatan dengan syarat 'perlucutan senjata yang lengkap dan terverifikasi' terhadap Hizbullah oleh Angkatan Bersenjata L... Sekjen Hizbullah, Naim Qassem, langsung menolak kesepakatan tersebut dalam waktu 24 jam, menyebutnya 'batal demi hukum', 'memalukan', dan 'penyerahan kedaulatan' Lebanon kepada Israel dan AS.
Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, sekutu dekat Hizbullah, menyatakan kesepakatan itu 'tidak akan lolos' dan memperingatkan bangsa Lebanon agar tidak terjerumus ke dalam 'fitna' atau kekacauan saudara.