Mekanisme batas harga (price cap) minyak Rusia yang dirancang G7 bertujuan memangkas pendapatan perang Moskow sambil menjaga pasokan global. Namun, celah dalam aturan ini justru membuka keran cuan miliaran dolar bagi perusahaan pelayaran Yunani.
Menurut analisis Financial Times yang terbit pada 7 Juli 2026, perusahaan pelayaran Yunani memperoleh setidaknya US$3,8 miliar selama tiga tahun terakhir dari jasa angkut minyak mentah Rusia . Angka ini hanya mencakup rute utama dengan data harga yang tersedia; pendapatan riil kemungkinan lebih besar
. Analisis tersebut menghitung 389 juta barel yang diangkut kapal tanker Yunani; 153 juta barel tambahan tidak masuk perhitungan karena tidak ada data harga
.
Semua ini legal selama mematuhi aturan G7. Sejak Desember 2022, perusahaan Barat boleh menyediakan jasa pelayaran, asuransi, dan logistik untuk minyak Rusia hanya jika dijual di bawah batas harga (saat itu US$60 per barel). Ketika harga minyak Urals alami turun di bawah ambang itu, perusahaan Yunani kembali masuk pasar secara besar-besaran, hingga menangani 40% dari seluruh ekspor minyak mentah Rusia pada pertengahan 2025 .
Penerima manfaat terbesar adalah Dynacom Tankers, milik miliarder Yunani George Prokopiou, yang meraup setidaknya US$915 juta dari pengiriman minyak Rusia sejak Juli 2023 . Perusahaan lain yang juga untung besar: Olympic Shipping & Management (bagian dari Grup Onassis, lebih dari US$404 juta), Stealth Maritime (lebih dari US$200 juta), dan Polembros Shipping (lebih dari US$200 juta)
. Delapan dari 20 perusahaan dengan pendapatan terbesar dari pengiriman minyak Rusia sejak Juni 2023 adalah perusahaan Yunani
.
Kasus ini mengungkap sejumlah kelemahan struktural pendekatan G7:
Batas harga hanya mengikat saat harga pasar di atasnya. Ketika harga minyak Urals alami turun di bawah US$60/barel, perusahaan Yunani bisa menyediakan jasa pelayaran dan asuransi Barat secara penuh tanpa hambatan. Batas harga menjadi tidak relevan . Intinya, price cap hanya efektif saat kondisi pasar sudah membatasi pendapatan Rusia.
Penjualan kapal tanker ke armada bayangan secara besar-besaran. Secara terpisah, pemilik kapal Yunani menjual sekitar 55% kapal tanker yang kini beroperasi di "armada bayangan" (shadow fleet) Rusia, menghasilkan sekitar US$3,7 miliar dari penjualan kapal antara 2022 dan 2024 . Kapal-kapal ini kini beroperasi sepenuhnya di luar yurisdiksi G7, mengangkut minyak Rusia ke Asia, Timur Tengah, dan Afrika tanpa kepatuhan pada batas harga
.
Penegakan tidak konsisten dan terbelah secara geopolitik. Pada pertengahan 2026, hanya Amerika Serikat yang masih aktif menegakkan batas harga US$60/barel . Anggota G7 lain telah memotong ambang mereka di bawah US$50/barel atau berhenti menegakkan sama sekali
. Komisi Eropa bahkan mendesak AS untuk "menegakkan secara ketat" batas harga pada Maret 2026, setelah Washington menangguhkan beberapa sanksi terkait minyak
.
Penyesuaian batas harga selalu tertinggal dari pasar. Paket sanksi ke-18 UE pada Juli 2025 memangkas batas harga dari US$60 menjadi US$47,60 per barel dan memperkenalkan mekanisme penyesuaian dinamis (15% di bawah harga rata-rata Urals enam bulan) . Namun, kritikus menilai ini tetap tidak bisa mencegah pengelakan melalui armada bayangan atau penyedia jasa non-G7
.
Menanggapi celah ini, G7 dan Uni Eropa sedang mempertimbangkan perubahan fundamental: mengganti batas harga dengan larangan total atas semua jasa maritim Barat untuk ekspor minyak Rusia .
Kronologi penting:
Ketidakpastian utama: Larangan jasa maritim membutuhkan persetujuan bulat dari seluruh 27 negara anggota UE dan pengadopsian paralel oleh mitra G7. Hingga awal Juli 2026, langkah ini belum diresmikan . Pelaku industri meragukan efektivitas penegakan larangan tersebut mengingat skala armada bayangan Rusia yang diperkirakan mencapai beberapa ratus kapal tanker yang beroperasi tanpa asuransi Barat
.
Batas harga G7 adalah alat yang dikalibrasi secara hati-hati: bertujuan mengurangi pendapatan Rusia tanpa menyebabkan guncangan pasokan global. Namun, pendapatan perusahaan pelayaran Yunani menunjukkan bahwa kelemahan paling fundamental dari desain ini — memperbolehkan perdagangan legal saat harga pasar rendah — menciptakan celah miliaran dolar bagi pelayar berbasis UE. Larangan jasa maritim yang diusulkan akan menutup celah itu, tetapi juga merupakan eskalasi besar yang akan memaksa Rusia sepenuhnya bergantung pada armada bayangannya, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang penegakan, asuransi, dan risiko tumpahan minyak dari kapal tanker yang tidak diatur.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Perusahaan pelayaran Yunani meraup setidaknya US$3,8 miliar (sekitar Rp 60 triliun) dalam tiga tahun terakhir dengan mengangkut minyak mentah Rusia, menurut analisis Financial Times yang dirilis 7 Juli 2026.
Perusahaan pelayaran Yunani meraup setidaknya US$3,8 miliar (sekitar Rp 60 triliun) dalam tiga tahun terakhir dengan mengangkut minyak mentah Rusia, menurut analisis Financial Times yang dirilis 7 Juli 2026. Celah terjadi karena batas harga (price cap) G7 sebesar US$60 per barel hanya mengikat saat harga pasar di atasnya; ketika harga minyak Urals alami turun di bawah batas itu, perusahaan Yunani bisa beroperasi legal tan...
Uni Eropa kini mengusulkan penggantian price cap dengan larangan total atas jasa maritim untuk minyak Rusia, sebuah langkah yang belum disepakati seluruh anggota G7 dan membutuhkan persetujuan bulat 27 negara anggota UE.