Data SIPRI April 2026 mengonfirmasi bahwa belanja militer dunia naik 2,9% secara riil menjadi $2.887 miliar pada 2025 . Amerika Serikat, China, dan Rusia sendiri menyumbang total $1.480 miliar, atau 51% dari total global . Sementara belanja AS menurun 7,5% setelah bantuan ke Ukraina dihentikan, belanja militer di Eropa melonjak 14% dan di Asia & Oseania naik 8,1% secara riil . Ini mencerminkan komitmen peningkatan kekuatan NATO pasca-2022 dan ketegangan yang meningkat di kawasan Indo-Pasifik. Lima negara dengan belanja terbesar adalah AS, China, Rusia, Jerman, dan India, yang bersama-sama menguasai 58% belanja militer dunia .
Proposal anggaran FY2026 Pentagon, dengan total pertahanan lebih dari $1 triliun, mengalokasikan rekor $179 miliar untuk riset, pengembangan, pengujian, dan evaluasi (RDT&E) . Ini adalah anggaran R&D terbesar dalam sejarah Pentagon. Yang membedakan, anggaran ini tidak membeli sistem jadi—melainkan mendanai teknologi yang akan menentukan generasi perang berikutnya . Defense One mencatat bahwa perubahan dalam anggaran ini berfungsi sebagai "indeks prediktif bagaimana militer berniat bertempur dalam 5 hingga 15 tahun ke depan," menandakan fokus pada senjata berbasis perangkat lunak, otonomi, dan penginderaan berbasis ruang angkasa .
Untuk pertama kalinya dalam sejarahnya, anggaran Pentagon menyertakan pos anggaran khusus untuk AI dan sistem otonom sebesar $13,4 miliar . Forbes mencatat ini adalah pertama kalinya anggaran Pentagon memiliki pos khusus untuk drone dan sistem otonom . Dari jumlah tersebut, $9,4 miliar dialokasikan untuk drone udara, $1,7 miliar untuk platform otonom maritim, $734 juta untuk kemampuan bawah air, dan $210 juta untuk kendaraan darat otonom . Ini merupakan peningkatan sekitar 7 kali lipat dari anggaran AI DoD FY2025 yang sebesar $1,8 miliar . Secara terpisah, Brookings Institution melaporkan bahwa total kewajiban AI federal di seluruh pemerintahan AS naik 966% dari tahun 2024 menjadi $7,2 miliar dalam anggaran 2026 .
Perubahan paling dramatis mungkin adalah peralihan militer AS ke drone yang diproduksi massal dan 'sekali pakai' (expendable). Program Drone Dominance (DDP) menargetkan untuk mengerahkan sekitar 300.000 drone pada tahun 2027, dengan beberapa materi resmi menyebutkan sekitar 340.000 sistem udara tak berawak kecil dalam jendela pengadaan dua tahun . Inisiatif ini memperlakukan drone sebagai "amunisi sekali pakai" daripada platform berbiaya tinggi dan bernilai tinggi . Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengumumkan investasi $56 miliar untuk mencapai target ini . Permintaan anggaran FY2027 mengalokasikan $54,6 miliar untuk Drone and Autonomous Weapons Group (DAWG) saja—peningkatan 243 kali lipat dari $225,9 juta yang dialokasikan pada FY2026 . Saat ini, produksi drone AS diperkirakan 50.000 hingga 100.000 unit per tahun, tetapi Angkatan Darat telah merencanakan untuk memproduksi setidaknya 10.000 sistem udara tak berawak kecil per bulan pada 2026 melalui program SkyFoundry . Pasar drone militer global diproyeksikan tumbuh dari $34,85 miliar pada 2026 menjadi $109,22 miliar pada 2031 .
Rusia telah menggunakan rudal jelajah hipersonik 3M22 Zircon (Tsirkon) dalam pertempuran melawan Ukraina berkali-kali pada 2025-2026. Rudal ini terbang dengan kecepatan sekitar Mach 8 dengan jangkauan hingga 1.000 km dan awalnya dirancang untuk menargetkan kapal induk . Insiden penting meliputi:
Angkatan Udara Ukraina melaporkan bahwa rudal Zircon yang terbang dalam lintasan balistik dapat dicegat oleh sistem seperti Patriot , namun pertahanan udara Ukraina seringkali kekurangan pencegat yang cukup . Ada perdebatan tentang klasifikasi rudal ini: Angkatan Udara Ukraina berpendapat bahwa Zircon tidak memenuhi definisi ketat rudal jelajah hipersonik karena mengikuti lintasan balistik, meskipun Rusia mengklaimnya sebagai hipersonik .
Skala transformasi teknologi ini menghasilkan pasar saham yang sangat bullish di sektor teknologi pertahanan. Forbes melaporkan bahwa sektor dengan pertumbuhan tercepat di bidang pertahanan bukan lagi platform tradisional seperti pesawat atau kapal angkatan laut, melainkan sistem otonom yang ditentukan oleh perangkat lunak . Kombinasi anggaran AI khusus, program pengadaan drone massal, dan permintaan R&D terbesar dalam sejarah Pentagon menandakan pergeseran fundamental dalam cara perang dilakukan dan dimenangkan. Ciri zaman ini sebagai "percepatan teknologi paling agresif dalam pertahanan sejak Perang Dingin awal" memang merupakan komentar analis, bukan sebutan resmi, tetapi datanya—$179 miliar untuk RDT&E, pos anggaran AI sebesar $13,4 miliar, dan rencana untuk ratusan ribu drone—sangat mendukungnya .
Data SIPRI April 2026 mengonfirmasi bahwa belanja militer dunia naik 2,9% secara riil menjadi $2.887 miliar pada 2025 . Amerika Serikat, China, dan Rusia sendiri menyumbang total $1.480 miliar, atau 51% dari total global . Sementara belanja AS menurun 7,5% setelah bantuan ke Ukraina dihentikan, belanja militer di Eropa melonjak 14% dan di Asia & Oseania naik 8,1% secara riil . Ini mencerminkan komitmen peningkatan kekuatan NATO pasca-2022 dan ketegangan yang meningkat di kawasan Indo-Pasifik. Lima negara dengan belanja terbesar adalah AS, China, Rusia, Jerman, dan India, yang bersama-sama menguasai 58% belanja militer dunia .
Proposal anggaran FY2026 Pentagon, dengan total pertahanan lebih dari $1 triliun, mengalokasikan rekor $179 miliar untuk riset, pengembangan, pengujian, dan evaluasi (RDT&E) . Ini adalah anggaran R&D terbesar dalam sejarah Pentagon. Yang membedakan, anggaran ini tidak membeli sistem jadi—melainkan mendanai teknologi yang akan menentukan generasi perang berikutnya . Defense One mencatat bahwa perubahan dalam anggaran ini berfungsi sebagai "indeks prediktif bagaimana militer berniat bertempur dalam 5 hingga 15 tahun ke depan," menandakan fokus pada senjata berbasis perangkat lunak, otonomi, dan penginderaan berbasis ruang angkasa .
Untuk pertama kalinya dalam sejarahnya, anggaran Pentagon menyertakan pos anggaran khusus untuk AI dan sistem otonom sebesar $13,4 miliar . Forbes mencatat ini adalah pertama kalinya anggaran Pentagon memiliki pos khusus untuk drone dan sistem otonom . Dari jumlah tersebut, $9,4 miliar dialokasikan untuk drone udara, $1,7 miliar untuk platform otonom maritim, $734 juta untuk kemampuan bawah air, dan $210 juta untuk kendaraan darat otonom . Ini merupakan peningkatan sekitar 7 kali lipat dari anggaran AI DoD FY2025 yang sebesar $1,8 miliar . Secara terpisah, Brookings Institution melaporkan bahwa total kewajiban AI federal di seluruh pemerintahan AS naik 966% dari tahun 2024 menjadi $7,2 miliar dalam anggaran 2026 .
Perubahan paling dramatis mungkin adalah peralihan militer AS ke drone yang diproduksi massal dan 'sekali pakai' (expendable). Program Drone Dominance (DDP) menargetkan untuk mengerahkan sekitar 300.000 drone pada tahun 2027, dengan beberapa materi resmi menyebutkan sekitar 340.000 sistem udara tak berawak kecil dalam jendela pengadaan dua tahun . Inisiatif ini memperlakukan drone sebagai "amunisi sekali pakai" daripada platform berbiaya tinggi dan bernilai tinggi . Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengumumkan investasi $56 miliar untuk mencapai target ini . Permintaan anggaran FY2027 mengalokasikan $54,6 miliar untuk Drone and Autonomous Weapons Group (DAWG) saja—peningkatan 243 kali lipat dari $225,9 juta yang dialokasikan pada FY2026 . Saat ini, produksi drone AS diperkirakan 50.000 hingga 100.000 unit per tahun, tetapi Angkatan Darat telah merencanakan untuk memproduksi setidaknya 10.000 sistem udara tak berawak kecil per bulan pada 2026 melalui program SkyFoundry . Pasar drone militer global diproyeksikan tumbuh dari $34,85 miliar pada 2026 menjadi $109,22 miliar pada 2031 .
Rusia telah menggunakan rudal jelajah hipersonik 3M22 Zircon (Tsirkon) dalam pertempuran melawan Ukraina berkali-kali pada 2025-2026. Rudal ini terbang dengan kecepatan sekitar Mach 8 dengan jangkauan hingga 1.000 km dan awalnya dirancang untuk menargetkan kapal induk . Insiden penting meliputi:
Angkatan Udara Ukraina melaporkan bahwa rudal Zircon yang terbang dalam lintasan balistik dapat dicegat oleh sistem seperti Patriot , namun pertahanan udara Ukraina seringkali kekurangan pencegat yang cukup . Ada perdebatan tentang klasifikasi rudal ini: Angkatan Udara Ukraina berpendapat bahwa Zircon tidak memenuhi definisi ketat rudal jelajah hipersonik karena mengikuti lintasan balistik, meskipun Rusia mengklaimnya sebagai hipersonik .
Skala transformasi teknologi ini menghasilkan pasar saham yang sangat bullish di sektor teknologi pertahanan. Forbes melaporkan bahwa sektor dengan pertumbuhan tercepat di bidang pertahanan bukan lagi platform tradisional seperti pesawat atau kapal angkatan laut, melainkan sistem otonom yang ditentukan oleh perangkat lunak . Kombinasi anggaran AI khusus, program pengadaan drone massal, dan permintaan R&D terbesar dalam sejarah Pentagon menandakan pergeseran fundamental dalam cara perang dilakukan dan dimenangkan. Ciri zaman ini sebagai "percepatan teknologi paling agresif dalam pertahanan sejak Perang Dingin awal" memang merupakan komentar analis, bukan sebutan resmi, tetapi datanya—$179 miliar untuk RDT&E, pos anggaran AI sebesar $13,4 miliar, dan rencana untuk ratusan ribu drone—sangat mendukungnya .