| Biaya baterai jadi penghalang utama profitabilitas | Platform khusus dan efisiensi skala mengubah situasi |
Laporan media keuangan China yang meliput wawancara yang sama bahkan mencatat bahwa margin kotor mobil kompak ini sudah mencapai dua digit, mendekati atau bahkan melebihi margin beberapa model bensin .
Keberhasilan ini bukanlah kebetulan. Renault sejak awal merancang strategi jitu dengan mengembangkan platform khusus untuk mobil listrik kecil, yaitu AmpR Small (dulu dikenal sebagai CMF-B EV). Platform ini punya beberapa keunggulan:
Hasilnya, mobil-mobil ini laris manis di Eropa. Pesanan yang kuat memungkinkan Renault mencapai margin positif per unit meskipun harga jualnya lebih rendah .
Catatan penting: Meskipun ada kabar bagus dari mobil kompak, target margin operasional Renault Group secara keseluruhan untuk 2026 justru turun. Ini perlu diluruskan agar tidak salah paham.
Penurunan margin ini justru disebabkan oleh strategi Renault yang gencar menjual lebih banyak mobil listrik (seperti R5 dan Twingo). Meskipun masing-masing untung, secara keseluruhan, peningkatan volume mobil 'murah' ini menekan margin rata-rata grup. Pelajaran pentingnya: kisah sukses margin mobil kompak ini justru menjadi bukti bahwa strategi elektrifikasi Renault tidak serta-merta menekan profitabilitas. Jika bisa untung dari mobil murah, jalan menuju target margin grup di akhir dekade ini jadi lebih realistis .
Hanya beberapa pekan sebelum pengumuman mengejutkan tentang margin, Renault baru saja meluncurkan pembaruan besar untuk Megane E-Tech Electric . Pembaruan ini adalah langkah untuk membuat Megane tetap kompetitif:
Artinya, Renault tidak hanya mengandalkan mobil murah. Mereka juga terus memoles lini atasnya agar lebih efisien dan mampu bersaing.
Pengakuan Provost ini sinyal kuat bagi pabrikan Eropa lainnya, termasuk potensi pengaruhnya terhadap persaingan global.