Ini bukan peringatan pertama Cooper tentang bahaya AI. Pada Desember 2025, ia memperingatkan bahwa negara-negara asing menggunakan video buatan AI sebagai "perang informasi" untuk mengikis dukungan Barat terhadap Ukraina, dan bahwa Rusia membanjiri Eropa dengan serangan siber . Pada Sidang Umum PBB September 2025, ia menjadikan pengelolaan AI untuk kebaikan bersama sebagai prioritas utama Inggris
.
Pada 1 Juli 2026, Panel Ilmiah Independen Internasional PBB tentang AI merilis laporan awal berjudul "Penilaian Berbasis Bukti tentang Peluang, Risiko, dan Dampak AI" . Laporan ini dirancang untuk menjadi dasar bukti ilmiah bersama bagi negara-negara anggota PBB dalam merumuskan kesepakatan tata kelola AI
.
Temuan utama laporan ini sangat mencengangkan: Kemampuan AI berkembang lebih cepat dari pemahaman ilmiah dan kemampuan pemerintah untuk mengaturnya . Tidak ada jaminan bahwa teknologi ini tidak akan menyebabkan bencana besar
.
Beberapa temuan kunci lainnya:
Laporan ini juga menyoroti konsentrasi kekuasaan AI: Amerika Serikat menguasai sekitar tiga perempat bakat AI, model, dan infrastruktur komputasi teratas di dunia .
Dialog Tata Kelola AI Global pertama dibentuk berdasarkan Resolusi Majelis Umum PBB A/RES/79/325 yang diadopsi pada 26 Agustus 2025 . Dialog ini dibuka pada 6 Juli 2026 di Palexpo International Convention Centre, Jenewa, bertepatan dengan KTT AI for Good ITU dan Pekan Digital
.
Dialog ini diketuai bersama oleh negara-negara anggota PBB, dengan Egriselda López, Perwakilan Tetap El Salvador untuk PBB, sebagai salah satu ketua . UNESCO dan ITU bertindak sebagai Sekretariat PBB bersama
.
Forum dua hari ini mencakup segmen tingkat tinggi, sesi tematik, dan acara sampingan, dengan melibatkan pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat sipil . Panel Ilmiah Independen PBB tentang AI mempresentasikan laporan awalnya sebagai dasar diskusi
.
Beberapa hasil yang diusulkan antara lain:
Uni Eropa (UE) menetapkan tujuan inti dialog: sinergi, universalitas, inklusivitas, dan supremasi hukum internasional, serta menekankan perlunya menghindari fragmentasi lebih lanjut dalam tata kelola AI global .
Dialog ini dianggap sebagai momen multilateral paling signifikan tentang AI sejak diadopsinya Global Digital Compact pada September 2024 . Seperti yang dikatakan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres saat peluncuran Dialog pada September 2025: "Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan mengubah dunia kita – itu sudah terjadi. Pertanyaannya adalah apakah kita akan mengatur transformasi ini bersama-sama – atau membiarkannya mengatur kita"
.