Jumlah tersebut terus meningkat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 515 kasus terkonfirmasi di DRC dan 91 kematian pada 6 Juni, serta 19 kasus terkonfirmasi di Uganda dengan dua kematian . Pada 10 Juni, pemerintah DRC melaporkan 598 kasus terkonfirmasi dan 115 kematian .
Data terbaru yang tersedia pada akhir Juni menunjukkan perbedaan angka antar laporan: Kementerian Kesehatan DRC melaporkan 1.333 kasus terkonfirmasi per 29 Juni, sementara ECDC mencatat 1.460 kasus di DRC per 30 Juni . Perbedaan ini kemungkinan mencerminkan waktu pembaruan dan metode pelaporan yang berbeda. Uganda mencatat 20 kasus terkonfirmasi dan dua kematian; kasus terakhir dilaporkan pada 21 Juni .
Episentrum wabah berada di Provinsi Ituri, terutama di zona kesehatan Rwampara, Mongbwalu, dan Bunia . Dari wilayah tersebut, penularan kemudian terdeteksi di Provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan .
Sejauh informasi dalam sumber yang tersedia, belum ada kasus yang terdokumentasi di Kisangani, Provinsi Tshopo. Dengan demikian, kekhawatiran mengenai penyebaran ke Kisangani belum didukung oleh data kasus yang tercantum dalam laporan-laporan tersebut.
Di Uganda, 15 dari 20 kasus terkonfirmasi memiliki kaitan perjalanan dari DRC, sedangkan lima kasus lainnya berkaitan dengan penularan lokal . Uganda menutup perbatasannya dengan DRC pada awal Juni untuk membatasi penyebaran virus .
Laporan awal menyebut tidak ada kasus di luar DRC dan Uganda. Namun, pembaruan ECDC yang lebih baru mencatat satu kasus impor di Prancis dan seorang warga Amerika Serikat yang dievakuasi secara medis ke Jerman setelah tertular di wilayah terdampak DRC .
CDC menyatakan belum ada kasus yang dikonfirmasi di Amerika Serikat dan menilai risiko bagi masyarakat Amerika tetap rendah . ECDC juga menilai risiko bagi populasi umum di Eropa “sangat rendah”, meski negara-negara Eropa diminta memperkuat kesiapsiagaan .
Inilah celah medis paling mendasar dalam wabah kali ini. Belum ada vaksin berlisensi untuk virus Bundibugyo. Vaksin Ebola yang sudah tersedia, termasuk Ervebo, dirancang untuk melindungi dari spesies Zaire ebolavirus—bukan Bundibugyo .
Dua terapi antibodi monoklonal yang telah berlisensi, Inmazeb dan Ebanga, juga hanya ditujukan untuk Ebola spesies Zaire dan tidak efektif untuk Bundibugyo . Karena itu, perawatan saat ini terutama berupa terapi suportif, seperti pemberian cairan, pengaturan elektrolit, serta menjaga kadar oksigen dan tekanan darah pasien .
Virus Bundibugyo memiliki tingkat kematian kasus yang dapat mencapai 40% . Para pakar kesehatan internasional telah membahas kandidat vaksin sejak pertengahan Mei . Pada 28 Mei, kelompok ahli yang dibentuk WHO merekomendasikan agar beberapa kandidat terapi diuji dalam penelitian, termasuk antibodi monoklonal MBP134 dan Maftivimab, serta antivirus remdesivir . Namun, belum ada produk yang disetujui dan digunakan secara luas untuk wabah ini.
Kesenjangan tidak hanya terjadi pada vaksin dan obat. GeneXpert, salah satu alat diagnosis garis depan yang paling banyak digunakan, dapat mendeteksi Zaire ebolavirus tetapi tidak mendeteksi virus Bundibugyo .
Akibatnya, konfirmasi kasus dan proses isolasi dapat tertunda. Tes yang mampu mendeteksi berbagai filovirus memang digunakan di laboratorium rujukan, tetapi belum mudah diakses di lokasi-lokasi terpencil .
Wabah berlangsung di kawasan timur DRC yang telah lama dilanda konflik. Lebih dari 130 kelompok bersenjata beroperasi di sebagian wilayah Ituri dan Kivu, sehingga pengawasan, pelacakan kontak, akses ke fasilitas perawatan, dan pemakaman yang aman menjadi jauh lebih sulit . Perpindahan penduduk dan kondisi keamanan yang tidak stabil juga memperumit upaya menemukan kasus baru.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut ketidakpercayaan masyarakat sebagai “hambatan besar” dalam mengakhiri wabah . Ketidakpercayaan ini dapat membuat pelacakan kontak, isolasi, dan penerimaan terhadap perawatan menjadi lebih sulit .
Infrastruktur kesehatan di kawasan timur DRC sudah terbatas. Pemangkasan program kesehatan masyarakat yang didukung Amerika Serikat semakin mengurangi kemampuan untuk mendeteksi dan membendung penularan . International Rescue Committee menyatakan programnya di Ituri menyusut dari lima wilayah kesehatan menjadi hanya dua setelah pemotongan pendanaan .
Pada akhir Mei, hanya sekitar 10% dari anggaran respons sebesar 319 juta dolar AS yang telah tersedia . Kekurangan dana ini membuat respons harus mengejar laju wabah dengan sumber daya yang terbatas.
Bunia, ibu kota Ituri sekaligus salah satu pusat wabah, menghadapi kekurangan pasokan dan gangguan kegiatan ekonomi. Persediaan perlindungan seperti masker dan cairan pembersih tangan juga dilaporkan terbatas .
Penutupan perbatasan DRC-Uganda, berkurangnya transportasi, serta penurunan aktivitas perdagangan dan pariwisata memperbesar dampak ekonomi di kawasan tersebut . Dalam skenario penanganan yang terlambat, pemodelan Institute for Security Studies memperkirakan kerugian dapat muncul melalui turunnya produktivitas, terganggunya perdagangan dan investasi, serta meningkatnya beban fiskal .
Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) memperkirakan wabah ini dapat menimbulkan kerugian hingga 3,6 miliar dolar AS bagi Afrika dan menghilangkan ratusan ribu pekerjaan. Dalam skenario terbaik ketika wabah tetap terkendali di DRC dan Uganda, kerugian diperkirakan sekitar 1 miliar dolar AS. Jika menyebar ke negara lain seperti Rwanda dan Angola, bersamaan dengan kenaikan biaya bahan bakar, kerugian dapat mencapai 3,6 miliar dolar AS dan sekitar 328.000 pekerjaan dapat hilang .
Dampaknya juga mengancam ketahanan pangan. Sebelum wabah ini, sekitar 26,5 juta orang di DRC sudah mengalami kerawanan pangan akut. Pembatasan mobilitas dan penutupan pasar berisiko mengganggu pekerjaan, distribusi pangan, serta pendapatan rumah tangga .
Pada 17 Mei 2026, Direktur Jenderal WHO menetapkan wabah ini sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC), atau Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional . Status ini merupakan tingkat peringatan tertinggi WHO untuk kejadian kesehatan lintas negara, yang mencerminkan cepatnya penyebaran serta risiko khusus dari strain Ebola yang belum memiliki vaksin dan pengobatan berlisensi.
Wabah Ebola Bundibugyo 2026 telah berubah dari kejadian yang terpusat di Ituri menjadi krisis regional. Dalam waktu sekitar satu bulan, jumlah kasus terkonfirmasi di DRC meningkat dari ratusan menjadi lebih dari 1.300 hingga 1.460, dengan penularan di Ituri, Kivu Utara, Kivu Selatan, serta lintas batas ke Uganda .
Meski sejumlah kasus impor telah dilaporkan di luar kawasan terdampak, risiko bagi masyarakat umum di Amerika Serikat dan Eropa masih dinilai rendah . Tantangan terbesar tetap berada di lapangan: tidak adanya vaksin atau terapi khusus, keterbatasan diagnosis, konflik bersenjata, lemahnya layanan kesehatan, ketidakpercayaan masyarakat, dan kekurangan dana.
Jika penularan tidak segera dikendalikan, PBB memperkirakan dampaknya dapat mencapai 3,6 miliar dolar AS dan ratusan ribu lapangan kerja di Afrika .