Akibatnya, aliran modal asing kini terkonsentrasi secara sempit di segelintir raksasa chip AI, menciptakan risiko sistemik yang bahkan diakui oleh raksasa manajer investasi dunia, BlackRock, sehingga mereka memutuskan untuk menurunkan peringkat pasar negara berkembang .
Para analis mengidentifikasi setidaknya lima faktor utama yang mendorong penjualan besar-besaran ini:
1. Aksi Ambil Untung di Saham AI yang Terlalu 'Penuh'
Kenaikan harga saham teknologi yang terkait AI, terutama di Korea Selatan dan Taiwan, sangat luar biasa. Saham Samsung Electronics dan SK Hynix, misalnya, melonjak sekitar 225% year-to-date. Kenaikan setinggi ini membuat bobot saham-saham tersebut dalam portofolio reksa dana global melampaui batas maksimal yang diizinkan, sehingga manajer dana terpaksa menjualnya. Inilah yang disebut sebagai crowded trade yang mulai terurai .
2. Guncangan Harga Minyak Akibat Konflik Timur Tengah
Perang yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran memicu lonjakan tajam harga minyak mentah. Negara-negara Asia yang merupakan importir bersih minyak menjadi pihak yang paling terpukul. Para manajer portofolio global pun harus menyesuaikan model risiko mereka secara drastis .
Pada Maret 2026 saja, investor asing telah menarik $70,3 miliar dari aset pasar negara berkembang, angka terbesar sejak gejolak pandemi Maret 2020, dengan porsi terbesar berasal dari Asia .
3. Kekecewaan pada Laporan Keuangan Broadcom
Laporan keuangan yang mengecewakan dari Broadcom pada Juni 2026 menjadi pemicu langsung aksi jual besar-besaran di saham-saham AI. Penjualan bersih di bulan Juni saja mencapai $27,08 miliar, bahkan melampaui total arus keluar di bulan Mei yang sebesar $24,08 miliar .
4. Kenaikan Imbal Hasil Obligasi Global
Lonjakan inflasi akibat konflik memaksa investor untuk merevisi perkiraan suku bunga. Imbal hasil obligasi AS (30-year Treasury yield) melonjak, membuat aset berpendapatan tetap (obligasi) lebih menarik dibandingkan saham Asia. Dalam satu pekan di akhir Mei, $17,27 miliar ditarik dari saham-saham Asia .
5. Stagnasi Pendapatan di Beberapa Pasar
Di India, pertumbuhan pendapatan perusahaan yang stagnan, pelemahan rupee, dan minimnya peluang investasi langsung di AI menjadi alasan utama investor asing menjual saham. Pada akhir April 2026, jumlah penjualan di India sudah melampaui total penjualan sepanjang tahun 2025 .
Penjualan paling deras terkonsentrasi di tiga pasar yang memiliki eksposur terbesar terhadap saham chip AI :
Krisis ini memaksa bank-bank sentral Asia untuk mengubah arah kebijakan secara drastis. Guncangan minyak Iran memicu ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, sehingga membatasi ruang bank sentral untuk memangkas suku bunga. Korea Selatan bersiap untuk mengambil sikap yang lebih hawkish jika inflasi melebihi target. Bank of Japan (BoJ) juga kesulitan untuk menghentikan kenaikan suku bunganya karena tekanan inflasi dari harga minyak. IMF bahkan mendorong para pembuat kebijakan untuk mempertimbangkan strategi yang tidak konvensional guna mengelola arus keluar modal ini .
Bank investasi global juga menyoroti risiko konsentrasi. HSBC mencatat bahwa TSMC kini menjadi saham yang paling underweight (kekurangan bobot) dalam portofolio dana yang berfokus pada Asia. Ini menunjukkan bagaimana reli saham AI telah mendistorsi strategi pemilihan saham (stock picking) normal . Seorang manajer dana di Reuters menyatakan, "Ketika ekuitas terus unggul, dana akan semakin kesulitan untuk menambah eksposur, yang menyebabkan tekanan jual yang terus-menerus"
.
BlackRock, perusahaan manajer aset terbesar di dunia, mengirimkan sinyal yang kontradiktif, mencerminkan betapa rumitnya situasi ini.
Pertengahan Juni: BlackRock menyatakan bahwa pasar saham India telah "over-punished" atau terlalu dihukum oleh rotasi ke saham AI dan guncangan minyak. Natasha Sarkaria, pimpinan strategi investasi wealth BlackRock untuk EMEA, menegaskan bahwa prospek investasi jangka menengah-panjang India masih utuh berkat demografi, infrastruktur, dan sektor keuangan .
Akhir Juni: Namun, BlackRock berubah haluan. Dalam laporan prospek investasi paruh tahun 2026, BlackRock Investment Institute menurunkan peringkat saham pasar negara berkembang (emerging market) dari "overweight" menjadi "neutral" untuk 6-12 bulan ke depan. Alasan utamanya: risiko konsentrasi pada perusahaan yang terkait AI . Penurunan peringkat ini menyasar pasar seperti Taiwan dan Korea Selatan. Ini adalah pembalikan yang signifikan dari laporan mereka sebelumnya di musim semi, di mana mereka optimistis terhadap negara berkembang
.
Tiga perusahaan – TSMC, Samsung, dan SK Hynix – kini menguasai hampir sepertiga dari indeks MSCI Asia Pacific ex-Jepang . Kondisi ini menimbulkan setidaknya tiga risiko serius:
1. Kerentanan Sistemik terhadap Satu Sektor
Jika ekspektasi belanja modal AI menurun atau pendapatan chip kembali mengecewakan (seperti yang terjadi dengan Broadcom), maka penurunan harga tiga saham ini akan secara tidak proporsional menyeret seluruh indeks Asia . Inilah risiko yang membuat BlackRock menurunkan peringkatnya
.
2. Distorsi dalam Konstruksi Portofolio
Manajer dana aktif sudah sangat underweight TSMC. Hal ini menciptakan lingkaran setan: reli saham AI memaksa mereka untuk terus menjual (rebalancing), sementara penurunan harga memaksa dana pasif (seperti ETF) untuk menjual aset lain demi memenuhi permintaan penebusan (redemption) .
3. Diversifikasi Pasar Asia yang Berkurang
Dengan modal asing yang kabur dari pasar non-AI (seperti India) dan hanya berputar di sekitar segelintir saham chip, pasar negara berkembang sebagai sebuah kelas aset menjadi kurang terdiversifikasi dan sangat berkorelasi dengan sentimen teknologi AS . Pasar seperti India dijual secara tidak proporsional, menciptakan peluang valuasi, tetapi juga membuat mereka kekurangan modal di saat harga minyak tinggi dan nilai tukar melemah
.