Harga spot LNG Asia melonjak dari level sebelum krisis sekitar $10/MMBtu menjadi di atas $20/MMBtu. Pada awal Maret 2026, Japan-Korea Marker (JKM) mencapai sekitar $23,80/MMBtu—level tertinggi dalam tiga tahun—sebelum sedikit melunak karena rencana AS untuk mengamankan transit Hormuz . Shell sendiri mencatat dalam Outlook-nya bahwa krisis mendorong harga spot Asia di atas $20/MMBtu . Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan bahwa pada akhir April, JKM telah naik 51% dari level sebelum penutupan menjadi $16,02/MMBtu, sementara patokan Eropa TTF naik 35% menjadi $14,80/MMBtu .
Shell memperkirakan pertumbuhan akan kembali pada 2027 jika pengiriman melalui Selat Hormuz kembali normal . Outlook ini membingkainya sebagai pemulihan bersyarat: perdagangan macet pada 2026, kemudian pertumbuhan kembali pada tahun berikutnya . Syarat utamanya adalah "jika arus kembali normal pada musim panas ini" . Seorang eksekutif senior Shell, Cedric Cremers, juga menyatakan kekhawatiran pada Maret 2026 bahwa konflik dapat memengaruhi kepercayaan jangka panjang terhadap keandalan pasokan LNG, meskipun volume saat ini mencukupi .
Shell meramalkan bahwa sekitar 180 juta ton per tahun pasokan LNG baru akan memasuki pasar pada 2030, meningkatkan ketersediaan dan keterjangkauan serta membuka permintaan di pasar baru . Gelombang ini dipimpin oleh proyek-proyek di Qatar dan Amerika Serikat, dengan AS memperpanjang keunggulannya sebagai eksportir LNG terbesar dunia . Outlook Shell sebelumnya juga menyoroti bahwa AS berpotensi mencapai 180 juta ton per tahun pada 2030, menyumbang sepertiga dari total pasokan global .
Shell memproyeksikan permintaan LNG global akan meningkat dari 422 juta ton pada 2025 menjadi median sekitar 695 juta ton per tahun pada 2050—kenaikan sekitar 65% . Kisaran yang disebutkan Shell adalah 610–780 juta ton per tahun pada 2050, dengan titik tengah mendekati 695 juta ton . Pendorong utamanya adalah transisi dari batu bara ke gas di Asia, dengan pertumbuhan ekonomi Asia dan target kualitas udara yang mendasari pertumbuhan permintaan struktural . Dokumentasi pemegang saham Shell juga mencatat bahwa prospek perusahaan meluas hingga 2050, dengan permintaan diproyeksikan naik 45–85% dari level 2025 .
Krisis ini mempercepat pergeseran pasar. Eksportir LNG AS merebut pangsa pasar karena pasokan Qatar dan UEA terganggu . Peningkatan output pencairan dari Amerika Utara membantu mengisi kesenjangan . Analisis S&P Global dari Maret 2026 mencatat bahwa pasar Asia-Pasifik menanggung beban terberat dari gangguan ini karena ketergantungan mereka yang besar pada kargo Qatar dan UEA . Penambahan fasilitas pencairan baru di Amerika Utara, peningkatan kinerja di pabrik yang ada, dan impor Asia yang lebih lambat telah mengimbangi sebagian dampak dari berkurangnya pasokan Timur Tengah .
Gas Exporting Countries' Forum (GECF) melaporkan impor LNG Asia turun 4,3% year-on-year pada awal 2026, yang secara langsung disebabkan oleh pemotongan pasokan dari Qatar dan UEA . Penutupan Selat Hormuz menghilangkan sekitar 1,5 juta ton per minggu pasokan (19% dari ekspor global) . Analis pihak ketiga, termasuk Wood Mackenzie, memperkirakan bahwa permintaan Asia menghadapi potensi kekurangan 4–5 juta ton hingga Q3 2026 jika gangguan berlanjut . Outlook Shell memperingatkan bahwa gangguan yang berkepanjangan akan secara signifikan membatasi penyerapan di Asia.
Catatan penting: Banyak angka yang lebih rinci (seperti perkiraan kekurangan permintaan Asia tepat 4–5 juta ton) berasal dari analis pihak ketiga dan pelacak komoditas, bukan langsung dari teks Outlook Shell. Outlook Shell yang diterbitkan sendiri terutama menekankan skenario perdagangan datar, risiko kontraksi, dan lintasan pertumbuhan permintaan jangka panjang.
Harga spot LNG Asia melonjak dari level sebelum krisis sekitar $10/MMBtu menjadi di atas $20/MMBtu. Pada awal Maret 2026, Japan-Korea Marker (JKM) mencapai sekitar $23,80/MMBtu—level tertinggi dalam tiga tahun—sebelum sedikit melunak karena rencana AS untuk mengamankan transit Hormuz . Shell sendiri mencatat dalam Outlook-nya bahwa krisis mendorong harga spot Asia di atas $20/MMBtu . Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan bahwa pada akhir April, JKM telah naik 51% dari level sebelum penutupan menjadi $16,02/MMBtu, sementara patokan Eropa TTF naik 35% menjadi $14,80/MMBtu .
Shell memperkirakan pertumbuhan akan kembali pada 2027 jika pengiriman melalui Selat Hormuz kembali normal . Outlook ini membingkainya sebagai pemulihan bersyarat: perdagangan macet pada 2026, kemudian pertumbuhan kembali pada tahun berikutnya . Syarat utamanya adalah "jika arus kembali normal pada musim panas ini" . Seorang eksekutif senior Shell, Cedric Cremers, juga menyatakan kekhawatiran pada Maret 2026 bahwa konflik dapat memengaruhi kepercayaan jangka panjang terhadap keandalan pasokan LNG, meskipun volume saat ini mencukupi .
Shell meramalkan bahwa sekitar 180 juta ton per tahun pasokan LNG baru akan memasuki pasar pada 2030, meningkatkan ketersediaan dan keterjangkauan serta membuka permintaan di pasar baru . Gelombang ini dipimpin oleh proyek-proyek di Qatar dan Amerika Serikat, dengan AS memperpanjang keunggulannya sebagai eksportir LNG terbesar dunia . Outlook Shell sebelumnya juga menyoroti bahwa AS berpotensi mencapai 180 juta ton per tahun pada 2030, menyumbang sepertiga dari total pasokan global .
Shell memproyeksikan permintaan LNG global akan meningkat dari 422 juta ton pada 2025 menjadi median sekitar 695 juta ton per tahun pada 2050—kenaikan sekitar 65% . Kisaran yang disebutkan Shell adalah 610–780 juta ton per tahun pada 2050, dengan titik tengah mendekati 695 juta ton . Pendorong utamanya adalah transisi dari batu bara ke gas di Asia, dengan pertumbuhan ekonomi Asia dan target kualitas udara yang mendasari pertumbuhan permintaan struktural . Dokumentasi pemegang saham Shell juga mencatat bahwa prospek perusahaan meluas hingga 2050, dengan permintaan diproyeksikan naik 45–85% dari level 2025 .
Krisis ini mempercepat pergeseran pasar. Eksportir LNG AS merebut pangsa pasar karena pasokan Qatar dan UEA terganggu . Peningkatan output pencairan dari Amerika Utara membantu mengisi kesenjangan . Analisis S&P Global dari Maret 2026 mencatat bahwa pasar Asia-Pasifik menanggung beban terberat dari gangguan ini karena ketergantungan mereka yang besar pada kargo Qatar dan UEA . Penambahan fasilitas pencairan baru di Amerika Utara, peningkatan kinerja di pabrik yang ada, dan impor Asia yang lebih lambat telah mengimbangi sebagian dampak dari berkurangnya pasokan Timur Tengah .
Gas Exporting Countries' Forum (GECF) melaporkan impor LNG Asia turun 4,3% year-on-year pada awal 2026, yang secara langsung disebabkan oleh pemotongan pasokan dari Qatar dan UEA . Penutupan Selat Hormuz menghilangkan sekitar 1,5 juta ton per minggu pasokan (19% dari ekspor global) . Analis pihak ketiga, termasuk Wood Mackenzie, memperkirakan bahwa permintaan Asia menghadapi potensi kekurangan 4–5 juta ton hingga Q3 2026 jika gangguan berlanjut . Outlook Shell memperingatkan bahwa gangguan yang berkepanjangan akan secara signifikan membatasi penyerapan di Asia.
Catatan penting: Banyak angka yang lebih rinci (seperti perkiraan kekurangan permintaan Asia tepat 4–5 juta ton) berasal dari analis pihak ketiga dan pelacak komoditas, bukan langsung dari teks Outlook Shell. Outlook Shell yang diterbitkan sendiri terutama menekankan skenario perdagangan datar, risiko kontraksi, dan lintasan pertumbuhan permintaan jangka panjang.