Catatan: Artikel ini menyajikan data dari berbagai sumber, termasuk laporan Axios (30 Juni 2026) yang mengutip laporan lingkungan terbaru Google, serta liputan sebelumnya tentang data 2024.![]()
![]()
![]()
Rekor Tertinggi yang Diungkapkan
Konsumsi listrik, penggunaan air, dan emisi gas rumah kaca (GRK) Google semuanya mencapai level rekor pada 2025 seiring perusahaan berlomba membangun infrastruktur AI, demikian laporan Axios.
Berikut rinciannya berdasarkan data dari laporan 2025 (mencakup aktivitas 2024) dan laporan terbaru 2026 (mencakup aktivitas 2025):![]()
![]()
![]()
| Metrik | Data 2024 / Laporan 2025 | Data 2025 / Laporan 2026 |
|---|
| Konsumsi listrik | Naik 27% year-on-year.![]() | Naik 37% year-on-year, atau sekitar 3,5 kali lebih tinggi dibanding 2019.![]() |
| Emisi gas rumah kaca | Naik 11% pada 2024, capai 11,5 juta metrik ton.![]() ![]() | Naik 18%—kenaikan tahunan terbesar yang pernah dicatat Google.![]() |
| Konsumsi air | Pusat data Google menarik hampir 9,9 miliar galon air dan mengonsumsi 7,9 miliar galon di seluruh dunia pada 2024.![]() | Mencapai rekor baru: 10,9 miliar galon, lebih dari dua kali lipat level 2021.![]() |
Laporan Axios 2026 menggambarkan permintaan listrik Google yang meningkat tajam menjadi 37% year-on-year, setelah sebelumnya naik 27%.![]()
Penjelasan Google atas Kenaikan Tersebut
Google secara terbuka mengaitkan lonjakan ini dengan beberapa faktor:![]()
![]()
- Permintaan pusat data yang didorong AI: Google menyebut emisi yang meningkat terkait dengan energi yang dibutuhkan pusat datanya, yang semakin intensif karena pertumbuhan pesat kecerdasan buatan (AI).
![]()
- Pembangunan infrastruktur AI: Axios melaporkan bahwa rekor konsumsi listrik, air, dan emisi Google terjadi saat perusahaan bergegas membangun lebih banyak infrastruktur AI.
![]()
- Tekanan dari investor: Investor telah mendesak Amazon, Microsoft, dan Google terkait penggunaan air dan listrik di pusat data AS, mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas tentang dampak lingkungan dari pertumbuhan infrastruktur AI.
![]()
Langkah Mitigasi yang Dilaporkan Google
Meskipun terjadi lonjakan, Google juga melaporkan sejumlah langkah mitigasi:![]()
![]()
![]()
- Pengisian kembali air (water replenishment): Google mengisi kembali lebih dari 7 miliar galon air pada 2025 melalui 165 proyek di 97 daerah aliran sungai.
![]()
Targetnya, pada 2030, angka ini akan melampaui 19 miliar galon per tahun.![]()
- Efisiensi energi pusat data: Google mengklaim berhasil mengurangi emisi energi pusat datanya sebesar 12% pada 2024, meskipun permintaan listrik naik 27%.
![]()
Pencapaian ini disebut sebagai hasil dari kontrak energi bersih dan peningkatan efisiensi.![]()
- Fokus pada sumber daya air lokal: Google menegaskan fokusnya pada perlindungan sumber daya air lokal seiring perluasan jejak pusat datanya.
![]()
Konteks Industri yang Lebih Luas
Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang dampak lingkungan dari AI di seluruh industri teknologi raksasa:![]()
![]()
![]()
- Target net-zero terancam: Gelombang laporan keberlanjutan terbaru menunjukkan bahwa lonjakan AI dapat mempersulit perusahaan teknologi untuk mencapai target net-zero pada akhir dekade ini.
![]()
- Investor gelisah: Lebih dari selusin investor meningkatkan tekanan pada raksasa teknologi untuk mendapatkan informasi rinci tentang konsumsi air dan dampak ekologis operasi pusat data mereka.
![]()
- Litigasi iklim meningkat: Pusat data menjadi target yang semakin umum dalam kasus hukum terkait iklim secara global, termasuk kasus yang terkait dengan AI.
Kasus-kasus ini tersebar di AS, Inggris, Chili, dan Irlandia.![]()
- Tentangan komunitas: Oposisi lokal telah menyebabkan Amazon, Microsoft, dan Google menghentikan pengembangan beberapa proyek pusat data bernilai miliaran dolar, didorong oleh kekhawatiran akan penggunaan air, energi, polusi, dan penggunaan lahan.
![]()