Suriah mengecam invasi darat dan tembakan artileri Israel di Quneitra dan Daraa sebagai pelanggaran kedaulatan dan Perjanjian Disengagement 1974. Kementerian Luar Negeri Suriah menyebut operasi Israel sebagai pelanggaran Piagam PBB dan hukum internasional, serta meminta intervensi PBB.

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: Search & fact-check with cited sources for What are the details of Syria's condemnation of recent Israeli military incursions in Quneitra an. Article summary: Here is a detailed, sourced briefing based on the latest available information.. Topic tags: general, general web, education, news. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers, clickbait thumbnails, icons, and tiny thumbnail layouts. Make it useful as an illustrative visual, not as factual evidence.
Berikut adalah ringkasan mendalam berdasarkan sumber-sumber terkini.
Damaskus berulang kali mengecam invasi darat dan tembakan artileri Israel di Quneitra dan Daraa sebagai "serangan Israel baru" dan pelanggaran terhadap kedaulatannya . Kementerian Luar Negeri Suriah menegaskan bahwa operasi ini merupakan:
Posisi resmi Suriah, sebagaimana disampaikan melalui SANA dan portal Kementerian Luar Negeri , juga menyebutkan insiden seperti terbunuhnya seorang warga sipil akibat serangan di rumahnya di Turnejeh (pedesaan Quneitra utara) serta intimidasi terhadap penduduk sebagai bukti "pelanggaran mencolok" Israel
.
Parlemen Arab — Pada 30 November 2025, Parlemen Arab mengecam serangan Israel "dengan keras," dengan menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan Suriah, pelanggaran jelas terhadap hukum internasional dan Piagam PBB, serta ancaman serius bagi keamanan dan stabilitas regional .
Arab Saudi — Kementerian Luar Negeri Saudi telah mengeluarkan beberapa kecaman. Pada 26 Agustus 2025, Saudi mengecam invasi Israel yang sedang berlangsung sebagai "pelanggaran mencolok" terhadap kedaulatan Suriah dan hukum internasional . Pada 21 Maret 2026, Saudi mengecam serangan Israel ke kamp-kamp tentara Suriah sebagai "agresi" dan menyerukan komunitas internasional untuk campur tangan
. Bersama Qatar dan Kuwait, Saudi juga mengecam tur Perdana Menteri Netanyahu di wilayah Suriah yang diduduki sebagai "pelanggaran mencolok"
.
Qatar — Qatar bergabung dengan Arab Saudi dalam mengecam tembakan artileri dan invasi Israel di Suriah selatan, serta menolak segala seruan untuk memecah belah atau memisahkan wilayah Suriah . Media pemerintah Qatar (QNA) juga melaporkan operasi penahanan yang dilakukan Israel di Daraa dan Quneitra
.
Negara lain — Turki dan Kuwait juga mengecam operasi tersebut, dengan Turki menyebut serangan Israel sebagai "eskalasi berbahaya" .
Menyusul jatuhnya rezim Assad pada 8 Desember 2024, Israel menginvasi zona penyangga demiliterisasi di barat daya Suriah (berbatasan dengan Dataran Tinggi Golan yang diduduki) dan terus mempertahankan kehadiran militernya di sana . Gambaran yang lebih luas meliputi:
Skala pelanggaran — Pasukan Israel melakukan setidaknya 1.672 pelanggaran di wilayah Suriah antara Agustus 2025 dan Mei 2026, menurut sebuah organisasi riset dan pemantau Suriah. Maret 2026 menandai puncak dengan lebih dari 321 operasi militer, termasuk penggerebekan darat, serangan udara, tembakan artileri, dan pekerjaan infrastruktur .
Invasi darat dan pos-pos pemeriksaan — Pada 26-29 Juni 2026, Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia melaporkan enam invasi darat ke Daraa dan Quneitra, yang melibatkan penggerebekan rumah, pos pemeriksaan sementara, dan interogasi penduduk . Pasukan Israel mendirikan pos pemeriksaan kendaraan di kedua kegubernuran pada 31 Mei 2026, menghentikan dan memeriksa warga sipil
.
Penahanan warga sipil — Pasukan Israel telah menahan secara sewenang-wenang banyak warga sipil Suriah:
Sejak pertengahan 2025, AS memfasilitasi perundingan tidak langsung antara pejabat Israel dan Suriah untuk membahas keamanan perbatasan dan status Perjanjian Disengagement 1974 .
Perkembangan penting:
Status perjanjian 1974 — Perjanjian tersebut secara luas dianggap telah runtuh dalam praktiknya akibat invasi sepihak Israel ke zona penyangga dan penolakannya untuk menarik diri. Namun, kedua belah pihak terus merujuknya sebagai kerangka hukum dasar untuk setiap pengaturan keamanan di masa depan .
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Suriah mengecam invasi darat dan tembakan artileri Israel di Quneitra dan Daraa sebagai pelanggaran kedaulatan dan Perjanjian Disengagement 1974.
Suriah mengecam invasi darat dan tembakan artileri Israel di Quneitra dan Daraa sebagai pelanggaran kedaulatan dan Perjanjian Disengagement 1974. Kementerian Luar Negeri Suriah menyebut operasi Israel sebagai pelanggaran Piagam PBB dan hukum internasional, serta meminta intervensi PBB.
Parlemen Arab, Arab Saudi, dan Qatar mengeluarkan pernyataan kecaman keras dan menganggap agresi Israel sebagai ancaman serius bagi stabilitas kawasan.