Baku tembak militer baru. Amerika Serikat dan Iran terlibat saling serang di Selat Hormuz yang sangat strategis. AS menyatakan bahwa serangan yang dilakukannya bersifat defensif sebagai respons atas apa yang mereka sebut serangan Iran yang tidak beralasan saat kapal-kapal Amerika sedang keluar dari Teluk . Harga minyak langsung naik setelah insiden ini, dengan laporan terpisah juga menyebutkan harga minyak dan gas melonjak seiring eskalasi konflik . Pertempuran ini menjadi indikasi jelas bahwa gencatan senjata dan jalur negosiasi masih sangat rapuh .
Rapuhnya kesepakatan damai sementara. Kesepakatan yang ditandatangani pada 17 Juni memang mewajibkan Iran untuk mengurangi stok uranium yang diperkaya dan menangguhkan sanksi AS, sehingga Iran bisa mengekspor minyak lebih bebas . Namun, laporan sebelumnya sudah menunjukkan bahwa AS dan Iran masih jauh dari kata sepakat. Hanya ada sedikit kemajuan menuju kesepakatan sementara, dan serangan-serangan baru terus menekan gencatan senjata yang sudah rapuh . Presiden Trump sendiri sempat memperingatkan bahwa kesepakatan dengan Iran "belum final" dan AS bisa "kembali menjatuhkan bom" . Sinyal-sinyal ini membuat pasar tetap memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak.
Gangguan pelayaran di Selat Hormuz. Selat Hormuz menjadi pusat reaksi pasar karena baku tembak AS-Iran terjadi tepat di sana, dan harga minyak langsung meningkat setelah insiden tersebut . Kesepakatan 17 Juni sebenarnya mencakup langkah-langkah untuk melonggarkan sanksi dan membuka kembali selat tersebut. Tapi, dengan adanya pertempuran baru di area yang sama, keraguan pun muncul tentang seberapa cepat arus pelayaran normal bisa kembali .
Negosiasi diplomatik berlanjut, namun penuh ketidakpastian. Laporan dari negosiasi di Swiss menyebutkan bahwa pembicaraan untuk menyelesaikan perjanjian damai sedang berlangsung, dengan mediator melihat adanya "kemajuan yang menggembirakan" . Namun, di sisi lain, laporan sebelumnya juga menekankan bahwa proses negosiasi macet, terjadi bentrok, dan gencatan senjata berada di bawah tekanan. Hal ini membuat pasar masih memandang diplomasi sebagai sesuatu yang tidak pasti, bukan sesuatu yang sudah selesai .
Restart ekspor Ras Tanura Saudi Aramco — faktor penyeimbang. Arab Saudi bersiap untuk memulai kembali pemuatan minyak mentah di terminal raksasa Ras Tanura di Teluk Persia. Langkah ini digambarkan Bloomberg sebagai momen penting dalam pemulihan pasokan Timur Tengah setelah perang dengan Iran . Prospek ini menandakan adanya pemulihan pasokan regional yang akan membantu mengimbangi dampak bullish dari meningkatnya kembali risiko keamanan .
Tidak ada laporan yang mengonfirmasi tentang saluran komunikasi AS-IRGC. Saya tidak dapat memverifikasi dari sumber yang tersedia apakah saluran komunikasi langsung antara AS dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) masih tidak beroperasi pada akhir Juni 2026. Laporan yang ada hanya membahas negosiasi, kerapuhan gencatan senjata, dan upaya menuju perjanjian damai, namun tidak menyebutkan status operasional saluran militer langsung AS-IRGC .
| Faktor | Arah Dampak pada Harga Minyak |
|---|---|
| Baku tembak baru AS-Iran di Selat Hormuz | Bullish (menaikkan), karena harga minyak naik setelah insiden |
| Kerapuhan dan kurangnya kepercayaan pada kesepakatan sementara | Bullish (menaikkan), karena kemajuan yang macet dan serangan baru menekan gencatan senjata |
| Risiko keamanan di Selat Hormuz | Bullish (menaikkan), karena jalur air ini menjadi pusat dari kesepakatan 17 Juni dan baku tembak berikutnya |
| Negosiasi diplomatik yang berlangsung | Sedikit Bearish (menurunkan), karena negosiasi menawarkan jalur menuju de-eskalasi |
| Saudi Aramco restart pemuatan Ras Tanura | Bearish (menurunkan), karena menandakan dimulainya kembali pasokan dari Timur Tengah |
| Tidak ada saluran komunikasi AS-IRGC yang berfungsi | Tidak terverifikasi dari sumber yang tersedia |