Selat Hormuz, jalur laut yang menjadi lintasan seperlima pasokan minyak dunia, kembali menjadi pusat ketegangan yang semakin memburuk. Gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran yang dicapai pada pertengahan Juni 2026 kini berada di ambang kehancuran setelah serangkaian serangan dan aksi balasan. Berikut ringkasan fakta terbaru hingga 28–29 Juni 2026, berdasarkan berbagai sumber resmi dan berita.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dengan tegas membantah klaim AS bahwa jalur komunikasi militer langsung (hotline) telah dibangun antara Teheran dan Washington untuk meredakan ketegangan di Selat Hormuz. Juru Bicara IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Mohebi, menyebut laporan tersebut sebagai "kebohongan belaka" . AS sebelumnya mengusulkan hotline ini untuk mengurangi ketegangan setelah berbulan-bulan konflik. Secara terpisah, seorang sumber keamanan Iran mengakui bahwa saluran komunikasi memang ada, tetapi digambarkannya sebagai politik, bukan militer — dan ditekankan bahwa hal itu tidak mengubah aturan lintas batas
.
Pada 25 Juni 2026, Angkatan Laut IRGC mengeluarkan pernyataan tegas yang menyatakan bahwa pelayaran yang aman melalui Selat hanya dimungkinkan melalui rute yang secara resmi ditunjuk oleh Iran, dan bahwa kapal yang menggunakan rute tidak sah "akan ditindak" . Diplomat tertinggi Iran kembali menegaskan pada 28 Juni bahwa setiap upaya kapal untuk melewati rute pilihan Iran akan "meningkatkan ketegangan"
. Hal ini terjadi sebagai respons atas penolakan Iran terhadap rute alternatif baru yang difasilitasi Oman yang dibuat tanpa persetujuan Teheran
.
Pada 25 Juni, IRGC menyerang kapal kargo berbendera Singapura, M/V Ever Lovely, dengan drone sekali pakai (one-way attack drone) sekitar 8 mil laut tenggara Dahit, Oman. Serangan ini merusak anjungan kapal tetapi tidak menimbulkan korban jiwa . Serangan ini merupakan ujian paling serius bagi kesepakatan sementara yang baru saja dicapai seminggu sebelumnya antara AS dan Iran untuk mengakhiri permusuhan dan membuka kembali jalur air tersebut
.
Sebagai balasan, pada 26 Juni, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyerang empat fasilitas penyimpanan rudal dan drone Iran serta situs radar pesisir di sepanjang Selat dan di Pulau Qeshm . Wakil Presiden JD Vance memperingatkan bahwa serangan lebih lanjut dari Iran "akan dibalas dengan kekuatan"
.
Iran kemudian membalas dengan menyerang kapal dagang lainnya, M/T Kiku, pada 27 Juni, yang memicu putaran baru serangan AS . Presiden Trump mengutuk tindakan Iran sebagai "pelanggaran bodoh" terhadap gencatan senjata
.
Iran telah menegaskan kendalinya atas Selat dengan menetapkan jalur pelayaran yang disetujuinya sendiri dan memperingatkan kapal untuk menjauhi rute alternatif . Oman mendukung rute bypass selatan yang terpisah yang dimaksudkan untuk memungkinkan pelayaran di luar pengawasan langsung Iran, yang oleh IRGC diberi label "sangat berbahaya" dan "tidak dapat diterima"
. Hasilnya adalah persaingan de facto antara dan , dengan Iran mengancam akan mengambil tindakan terhadap kapal mana pun yang menggunakan jalur tidak sah.
Krisis yang dimulai dengan kampanye udara AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 ini, sebagian besar telah memblokir Selat selama berbulan-bulan . Iran sebelumnya mengutip ranjau laut di saluran pelayaran utama sebagai pembenaran untuk mengumumkan rute alternatif pada April 2026
. Organisasi Maritim Internasional PBB (IMO) telah menjalankan rencana evakuasi untuk kapal-kapal yang terdampar, tetapi menghentikannya setelah serangan drone pada 25 Juni untuk mengonfirmasi ulang jaminan keselamatan
. The Washington Institute mencatat bahwa "ancaman ranjau yang tidak pasti" masih menjadi hambatan signifikan untuk kembali ke navigasi normal
.
Catatan: Sumber yang tersedia tidak memberikan jumlah pasti kapal dan awak yang terdampar, serta status rinci operasi pembersihan ranjau internasional.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Per 28–29 Juni 2026, gencatan senjata di Selat Hormuz antara AS dan Iran nyaris runtuh: IRGC menyerang kapal kargo Singapura dengan drone pada 25 Juni, CENTCOM membalas dengan serangan ke depot rudal Iran.
Per 28–29 Juni 2026, gencatan senjata di Selat Hormuz antara AS dan Iran nyaris runtuh: IRGC menyerang kapal kargo Singapura dengan drone pada 25 Juni, CENTCOM membalas dengan serangan ke depot rudal Iran. Iran menegaskan bahwa hanya jalur pelayaran yang disetujui Teheran yang aman, menolak rute alternatif baru yang difasilitasi Oman sebagai 'berbahaya'.
Rencana evakuasi PBB untuk kapal kapal yang terjebak dihentikan sementara setelah serangan drone, meningkatkan kekhawatiran akan keselamatan pelaut dan kelancaran pasokan energi global.