Sebuah studi pilot dari Karolinska Institutet, yang diterbitkan di jurnal NEJM Evidence pada 23 Juni 2025, menyelidiki apakah satu kali infus antibodi penekan sel B, rituximab, dapat memulihkan fungsi ovarium pada wanita dengan insufisiensi ovarium prematur (POI) autoimun—kondisi yang menyebabkan menopause dini dan infertilitas. Hasilnya menggembirakan, namun para peneliti menekankan bahwa ini masih bersifat pendahuluan.
- Pengambilan folikel dan kelahiran: Dari sepuluh wanita yang diobati, tidak ada satu pun yang bisa diambil folikelnya sebelum perawatan. Setelah mendapat rituximab, 5 dari 10 wanita berhasil mengembangkan folikel yang bisa diambil, dan 3 dari 10 wanita tersebut kemudian melahirkan bayi yang sehat
![]()
.
- Cara kerja: Rituximab adalah antibodi monoklonal chimeric yang menargetkan antigen CD20 pada permukaan sel B. Ikatan ini menyebabkan penekanan sel B untuk sementara waktu. Dengan diredamnya serangan autoimun terhadap ovarium, folikel-folikel yang tersisa bisa kembali merespons stimulasi hormon gonadotropin
![]()
.
- Keterbatasan: Studi ini secara eksplisit dirancang sebagai studi proof-of-concept tanpa kelompok kontrol. Jumlah sampel sangat kecil (hanya 10 wanita), dan penelitian tidak menggunakan metode acak atau buta ganda. Akibatnya, tidak ada kesimpulan definitif tentang efektivitas yang bisa ditarik dari studi pilot ini saja .
Comments
0 comments