Namun euforia itu tidak berlangsung lama. Hanya 10 hari setelah resmi menjadi triliuner, pada 24 Juni 2026, harga saham SpaceX dan Tesla mengalami koreksi tajam yang menghapus sekitar $363 miliar dari kekayaannya . Kekayaan Musk jatuh ke $957 miliar (versi Bloomberg) atau sekitar $956,5–970,2 miliar (versi Forbes) .
Ada tiga faktor utama yang membuat kekayaan Musk menguap dalam hitungan hari:
Setelah debut spektakuler di harga $135 per saham, saham SpaceX (kode: SPCX) langsung melonjak ke $160,95 di hari pertama dan sempat menyentuh rekor tertinggi di atas $225 pada 16 Juni . Namun tak lama kemudian, saham tersebut mulai terkoreksi tajam. Analis dari Morningstar bahkan sudah memperingatkan sebelum IPO bahwa SpaceX dinilai "substantially overvalued" — nilai wajarnya kurang dari setengah target IPO sebesar $1,75 triliun .
Dokumen S-1 yang diajukan SpaceX sebelum IPO mengungkap fakta mengejutkan: perusahaan membukukan kerugian bersih $4,9 miliar pada 2025, dan kerugian kuartal I 2026 mencapai $4,28 miliar. Divisi AI-nya sendiri membakar $2,5 miliar per kuartal . Pertumbuhan pendapatan juga melambat dari 33% (2025) menjadi hanya 15,4% di Q1 2026 .
Koreksi saham SpaceX terjadi bersamaan dengan pelemahan harga saham Tesla dan aksi jual besar-besaran di sektor teknologi global karena kekhawatiran gelembung AI dan potensi kenaikan suku bunga .
Yang perlu dipahami, kekayaan Musk hampir seluruhnya adalah "paper wealth" — kekayaan di atas kertas yang belum direalisasi. Kekayaannya terkonsentrasi di dua saham: sekitar 41% saham SpaceX dan 11% saham Tesla (per September 2025) . Karena tidak terdiversifikasi, pergerakan kecil sekalipun pada kedua saham itu bisa mengakibatkan perubahan puluhan miliar dolar dalam sehari. Forbes bahkan mencatat bahwa Tesla sempat kehilangan lebih dari $800 miliar nilai pasarnya di awal 2025 sebelum pulih .
Meskipun kehilangan status triliuner, Musk masih nyaman di posisi pertama dengan selisih yang sangat jauh:
| Metrik | Nilai | Sumber |
|---|---|---|
| Kekayaan puncak (Bloomberg) | $1,32 triliun | |
| Kekayaan saat jadi triliuner (12 Juni) | ~$1,11 triliun | |
| Kekayaan kini (Bloomberg, 24 Juni) | $957 miliar | |
| Kekayaan kini (Forbes, 24 Juni) | ~$956,5–970,2 miliar | |
| Total kerugian puncak ke terendah | ~$363 miliar | |
| Kepemilikan saham SpaceX | ~41% | |
| Kepemilikan saham Tesla | ~11% |
Kasus Elon Musk jadi contoh paling ekstrem dari pola kekayaan modern: kekayaan yang dibangun di atas konsentrasi saham perusahaan teknologi berisiko tinggi dan belum untung. Fluktuasi $363 miliar dalam waktu kurang dari dua minggu — setara PDB negara kecil — membuktikan bahwa kekayaan semacam itu sangat nominal. Meski begitu, dengan $957 miliar, Musk tetap berada di level yang sulit dikejar oleh miliarder lain.
Artikel ini adalah hasil fact-check dari berbagai sumber kredibel termasuk BBC, Bloomberg, Forbes, The Guardian, Fortune, dan dokumen resmi S-1 SpaceX.
Namun euforia itu tidak berlangsung lama. Hanya 10 hari setelah resmi menjadi triliuner, pada 24 Juni 2026, harga saham SpaceX dan Tesla mengalami koreksi tajam yang menghapus sekitar $363 miliar dari kekayaannya . Kekayaan Musk jatuh ke $957 miliar (versi Bloomberg) atau sekitar $956,5–970,2 miliar (versi Forbes) .
Ada tiga faktor utama yang membuat kekayaan Musk menguap dalam hitungan hari:
Setelah debut spektakuler di harga $135 per saham, saham SpaceX (kode: SPCX) langsung melonjak ke $160,95 di hari pertama dan sempat menyentuh rekor tertinggi di atas $225 pada 16 Juni . Namun tak lama kemudian, saham tersebut mulai terkoreksi tajam. Analis dari Morningstar bahkan sudah memperingatkan sebelum IPO bahwa SpaceX dinilai "substantially overvalued" — nilai wajarnya kurang dari setengah target IPO sebesar $1,75 triliun .
Dokumen S-1 yang diajukan SpaceX sebelum IPO mengungkap fakta mengejutkan: perusahaan membukukan kerugian bersih $4,9 miliar pada 2025, dan kerugian kuartal I 2026 mencapai $4,28 miliar. Divisi AI-nya sendiri membakar $2,5 miliar per kuartal . Pertumbuhan pendapatan juga melambat dari 33% (2025) menjadi hanya 15,4% di Q1 2026 .
Koreksi saham SpaceX terjadi bersamaan dengan pelemahan harga saham Tesla dan aksi jual besar-besaran di sektor teknologi global karena kekhawatiran gelembung AI dan potensi kenaikan suku bunga .
Yang perlu dipahami, kekayaan Musk hampir seluruhnya adalah "paper wealth" — kekayaan di atas kertas yang belum direalisasi. Kekayaannya terkonsentrasi di dua saham: sekitar 41% saham SpaceX dan 11% saham Tesla (per September 2025) . Karena tidak terdiversifikasi, pergerakan kecil sekalipun pada kedua saham itu bisa mengakibatkan perubahan puluhan miliar dolar dalam sehari. Forbes bahkan mencatat bahwa Tesla sempat kehilangan lebih dari $800 miliar nilai pasarnya di awal 2025 sebelum pulih .
Meskipun kehilangan status triliuner, Musk masih nyaman di posisi pertama dengan selisih yang sangat jauh:
| Metrik | Nilai | Sumber |
|---|---|---|
| Kekayaan puncak (Bloomberg) | $1,32 triliun | |
| Kekayaan saat jadi triliuner (12 Juni) | ~$1,11 triliun | |
| Kekayaan kini (Bloomberg, 24 Juni) | $957 miliar | |
| Kekayaan kini (Forbes, 24 Juni) | ~$956,5–970,2 miliar | |
| Total kerugian puncak ke terendah | ~$363 miliar | |
| Kepemilikan saham SpaceX | ~41% | |
| Kepemilikan saham Tesla | ~11% |
Kasus Elon Musk jadi contoh paling ekstrem dari pola kekayaan modern: kekayaan yang dibangun di atas konsentrasi saham perusahaan teknologi berisiko tinggi dan belum untung. Fluktuasi $363 miliar dalam waktu kurang dari dua minggu — setara PDB negara kecil — membuktikan bahwa kekayaan semacam itu sangat nominal. Meski begitu, dengan $957 miliar, Musk tetap berada di level yang sulit dikejar oleh miliarder lain.
Artikel ini adalah hasil fact-check dari berbagai sumber kredibel termasuk BBC, Bloomberg, Forbes, The Guardian, Fortune, dan dokumen resmi S-1 SpaceX.