Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh operator kapal. Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global, sehingga keterlambatan kapal tanker dapat memperpanjang gangguan pasokan dan menjaga tarif angkutan minyak tetap tinggi .
Ratusan kapal telah berlabuh di perairan hangat Teluk Persia selama lebih dari tiga bulan. Dalam kondisi kapal yang nyaris tidak bergerak, teritip, kerang, remis, dan alga mendapat permukaan ideal untuk menempel dan berkembang. Proses penumpukan organisme laut pada badan kapal ini dikenal sebagai biofouling .
Pada kapal tertentu, lapisan organisme laut tersebut dapat mencapai luas hingga 150.000 kaki persegi. Lambung yang tertutup endapan tebal akan menambah hambatan air, menurunkan efisiensi bahan bakar, dan mengurangi kecepatan kapal. Karena itu, kapal tidak selalu dinyatakan laik laut sebelum lapisannya dibersihkan .
Pelabuhan juga dapat melarang kapal dengan biofouling berat untuk bersandar. Selain berisiko merusak infrastruktur pelabuhan, organisme yang menempel pada lambung dapat menyebar ke wilayah baru dan menimbulkan persoalan lingkungan, termasuk penyebaran spesies invasif .
Ketika peluang untuk kembali berlayar muncul setelah pengumuman kesepakatan sementara AS-Iran pada 14 Juni, perusahaan pelayaran serentak mencari tenaga ahli untuk membersihkan bagian bawah kapal. Menurut Captain Manandeep Singh Kukreja, kepala surveyor di Prominence Shipping Services LLC yang berbasis di Dubai, pesanan untuk kru pembersih lambung bawah air melonjak lebih dari 30 kali lipat .
Para penyelam yang biasa disebut bottom cleaners harus bekerja di bawah kapal untuk mengikis teritip, alga, lendir, dan organisme laut lainnya. Biaya jasa yang sebelumnya sekitar US$5.000 per kapal meningkat hingga US$8.000 . Lonjakan ini bahkan disebut sebagai “barnacle boom”—ledakan bisnis pembersihan teritip .
Namun, tarif yang lebih tinggi tidak otomatis menyelesaikan masalah. Jumlah penyelam yang memiliki keahlian dan perlengkapan untuk pekerjaan tersebut terbatas, sehingga ratusan kapal tidak dapat dibersihkan sekaligus .
Kapal yang lambungnya sudah bersih pun belum tentu bisa langsung melewati Selat Hormuz. Menurut laporan The Guardian, sekitar 80 ranjau laut masih menghalangi jalur pelayaran utama di bagian tengah selat. Ranjau tersebut ditempatkan sejak konflik dimulai pada 28 Februari .
Pembersihan membutuhkan kapal penyapu ranjau dan drone bawah air. Sejumlah sumber keamanan maritim memperkirakan operasi awal dapat berlangsung selama 40–50 hari sebelum perusahaan pelayaran, pemilik kargo, dan perusahaan asuransi cukup yakin untuk kembali menggunakan jalur tersebut .
Risikonya sangat besar: sebuah supertanker beserta muatan minyak mentahnya dapat bernilai sekitar US$300 juta. Bahkan kemungkinan adanya ranjau saja sudah cukup membuat operator menunda perjalanan .
Selain ancaman fisik, biaya perlindungan kapal menjadi penghalang besar. Sebelum konflik, premi asuransi risiko perang berada di kisaran 0,25% dari nilai kapal. Setelah konflik, angkanya melonjak menjadi sekitar 3% hingga 8%, yang dapat menambah biaya hingga US$8 juta untuk satu kali pelayaran tanker .
Pasar asuransi biasanya cepat menaikkan premi ketika risiko memburuk, tetapi jauh lebih lambat menurunkannya. Salah satu penjamin emisi menggambarkan kondisi ini sebagai pasar yang “cepat naik dan lambat turun” .
Perusahaan asuransi kini menunggu beberapa syarat terpenuhi: stabilitas keamanan yang berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, verifikasi bahwa ranjau telah dibersihkan, serta bukti bahwa jalur pelayaran benar-benar aman . Situasi ini menciptakan lingkaran masalah: pembersihan ranjau membutuhkan kapal dan perlindungan asuransi, tetapi perusahaan asuransi tidak mau menurunkan premi sebelum ranjau benar-benar disingkirkan .
Setelah lambung dibersihkan, ranjau disapu, dan asuransi tersedia, masih ada persoalan kapasitas. Lebih dari 600 kapal yang menunggu tidak mungkin keluar secara bersamaan. Jika semuanya bergerak sekaligus, antrean panjang akan membebani jalur sempit, pelabuhan, fasilitas pengisian bahan bakar, dan layanan maritim di kawasan tersebut.
Para analis memperkirakan arus energi melalui Selat Hormuz pada bulan pertama belum akan melampaui setengah level sebelum perang. Perdagangan kapal secara penuh bahkan diperkirakan baru pulih mendekati akhir 2026 atau setelahnya dalam skenario paling optimistis .
Harga minyak mentah sempat turun di bawah US$80 per barel setelah pengumuman gencatan senjata, karena pasar mengantisipasi pulihnya pengiriman minyak, LNG, dan komoditas lain . Namun, sejumlah analis mengingatkan bahwa penurunan tersebut lebih banyak didorong sentimen pasar daripada bertambahnya pasokan fisik .
Selama kapal masih menunggu, ranjau belum disingkirkan, dan perusahaan asuransi belum menganggap rute itu aman, pasokan minyak belum dapat mengalir seperti biasa. Gangguan tersebut juga telah mendorong tarif angkutan kapal tanker minyak ke level tertinggi dalam beberapa tahun .
Pada akhirnya, pembukaan Selat Hormuz bukanlah sakelar yang bisa langsung menyalakan kembali perdagangan energi. Dunia pelayaran harus terlebih dahulu mengatasi lambung kapal yang penuh biofouling, kekurangan penyelam, ancaman ranjau, premi asuransi yang mahal, dan kemacetan ratusan kapal. Karena itu, pemulihan arus minyak kemungkinan berlangsung bertahap dan jauh lebih lambat daripada pengumuman gencatan senjatanya.