Hanya beberapa pekan sebelum penerbitan utang, tepatnya pada 8 Mei 2026, Dewan Direksi Sony menyetujui program pembelian kembali saham baru . Detailnya:
Ini adalah salah satu program buyback terbesar yang pernah dilakukan Sony. Sebagai bagian dari strategi ini, Sony juga mengumumkan pemusnahan 184.494.319 lembar saham treasuri pada 29 Mei 2026, yang secara otomatis meningkatkan laba per saham (EPS) .
Hingga laporan akhir Mei 2026, Sony telah membeli kembali 19.069.900 saham dengan total nilai ¥67.259.813.688 . Artinya, dalam waktu kurang dari satu bulan, mereka sudah menggunakan sekitar 13,5% dari total anggaran buyback.
Pada 1 Oktober 2025, Sony menyelesaikan pemisahan sebagian (partial spin-off) dari Sony Financial Group Inc. (SFGI), anak perusahaan yang bergerak di bidang jasa keuangan (asuransi dan perbankan) . Transaksi ini dilakukan dengan membagikan lebih dari 80% saham SFGI kepada pemegang saham Sony melalui dividen dalam bentuk saham (dividend in kind)
.
Poin penting:
Tujuan dari spin-off ini adalah untuk mempertajam fokus Sony pada bisnis hiburan, gim, dan pencitraan, sementara bisnis keuangan dapat mengakses pasar modal secara independen .
Meskipun langkah korporasi terlihat agresif, harga saham ADR Sony (SONY) di bursa New York justru mengalami tekanan signifikan:
Penyebab penurunan: Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk kekhawatiran di sektor gim (persaingan siklus konsol, margin tekanan pengembangan gim, serta kekecewaan investor terhadap jadwal rilis konten), koreksi saham teknologi secara luas, dan penyesuaian pasca spin-off.
Ini adalah strategi modal yang cerdas namun berisiko. Sony menerbitkan utang dolar (leverage) dengan suku bunga yang relatif menarik, lalu menggunakan sebagian dari dana tersebut untuk membeli kembali sahamnya (capital return) dalam jumlah besar — strategi yang dikenal dengan leveraged buyback. Ini secara efektif mengurangi jumlah saham beredar, sehingga meningkatkan laba per saham bagi pemegang saham yang tersisa. Di saat yang sama, bisnis inti Sony (gim, musik, film, sensor gambar) tetap menjadi fokus utama setelah bisnis keuangan 'dilepas'. Namun, tekanan dari sektor gim dan penurunan harga saham yang cukup dalam menjadi risiko yang harus diwaspadai investor.