SAMA (Bank Sentral Arab Saudi) mengakumulasi cadangan devisa ke level tertinggi dalam enam tahun, mencapai $496 miliar pada Maret 2026—naik 9,4% dibanding tahun lalu—namun secara bersamaan menarik miliaran dolar dari... Langkah ini mencerminkan pergeseran prioritas SAMA untuk mempertahankan nilai tukar riyal terhada...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: Search & fact-check with cited sources for What actions did Saudi Arabia's central bank (SAMA) take regarding its foreign reserves in recent. Article summary: Here is the full fact-checked picture, organized by your four questions.. Topic tags: general, government, general web, user generated, news. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers, clickbait thumbnails, icons, and tiny thumbnail layouts. Make it useful as an illustrative visual, not as factual evid
Arab Saudi, melalui bank sentralnya (Saudi Central Bank/SAMA), sedang melakukan manuver strategis yang terlihat kontradiktif. Di satu sisi, cadangan devisa Negeri Minyak itu melonjak ke level tertinggi dalam enam tahun. Namun di sisi lain, miliaran dolar ditarik dari perusahaan manajer aset global. Langkah ini menandakan pergeseran mendalam menuju postur yang mengutamakan likuiditas dan pelestarian modal, dengan implikasi signifikan bagi pasar global dan para pengelola dana.
Cadangan devisa SAMA terus menunjukkan tren kenaikan yang stabil. Pada akhir tahun 2025, aset cadangan mencapai SR1,73 triliun ($461 miliar), tumbuh 5,3% dibanding tahun sebelumnya . Pada Januari 2026, cadangan mencapai rekor tertinggi dalam enam tahun, yaitu SR1,78 triliun ($475 miliar), naik 10% secara tahunan
. Lonjakan berlanjut pada Maret 2026, di mana angkanya melesat menjadi SR1,86 triliun ($496 miliar)—level tertinggi sejak Februari 2020, mewakili kenaikan 9,4% year-on-year
.
Di saat yang sama, Bloomberg melaporkan SAMA telah menarik miliaran dolar dari setidaknya dua perusahaan manajemen aset internasional . Dana yang ditarik tersebut diinvestasikan kembali ke aset yang lebih likuid dan berfokus pada pelestarian modal, bukan pada mandat eksternal yang dikelola pihak lain
.
Investasi pada sekuritas luar negeri—yang mencakup 56,6% dari total cadangan pada Maret 2026—tumbuh 9,2% secara tahunan menjadi SR1,05 triliun. Sementara itu, simpanan di bank-bank luar negeri melonjak 36,3% secara tahunan menjadi SAR 460 miliar pada Januari 2026 .
SAMA secara fundamental mengubah model pengelolaan dananya. Mereka beralih dari model yang banyak mendelegasikan pengelolaan ke pihak eksternal (active external mandate model) menuju postur yang mengutamakan likuiditas tinggi dan pelestarian modal. Strateginya adalah membangun bantalan (buffer) yang lebih besar, namun dengan konsentrasi lebih tinggi pada instrumen yang sangat likuid dan langsung dikelola, bukan pada mandat luar negeri dengan durasi lebih panjang .
Bank sentral ini memprioritaskan pelestarian modal dan mempertahankan patokan nilai tukar riyal terhadap dolar AS di atas upaya mencari imbal hasil dari investasi luar negeri . Tekanan likuiditas yang dialami bank-bank lokal Saudi akibat tingginya aktivitas peminjaman menjadi salah satu alasan SAMA mengarahkan kembali dana untuk memastikan kecukupan bantalan domestik
. Langkah penarikan ini menandakan bahwa SAMA "menjadi semakin selektif dalam strategi investasinya" setelah bertahun-tahun mendelegasikan secara pasif kepada perusahaan global
.
Penting untuk dicatat, ini bukanlah sinyal de-dolarisasi. Kepemilikan SAMA atas obligasi Treasury AS justru naik 6% menjadi $134,8 miliar pada Januari 2026. Selain itu, Kerajaan berhasil menerbitkan obligasi dolar senilai $11,5 miliar pada awal Januari yang kelebihan permintaan (oversubscribed) sekitar 2,7 kali . Gubernur SAMA sendiri pada Juni 2026 menyatakan bahwa de-dolarisasi adalah proses "bertahap" dan bukan pergeseran mendadak, seraya mencatat bahwa dolar AS masih mencakup 57% dari cadangan devisa global
.
Pergeseran strategis ini terjadi di tengah memburuknya kondisi fiskal dan strategi multi-aliansi geopolitik. Arab Saudi mencatat defisit transaksi berjalan sebesar -3,1% dari PDB pada tahun 2025, dan diperkirakan melebar menjadi -3,2% pada tahun 2026 . Anggaran TA 2026 memproyeksikan defisit sekitar SR165 miliar (3,3% dari PDB), dengan rencana peminjaman sebesar $57 miliar untuk menutupinya
. Allianz mencatat bahwa "posisi eksternal Kerajaan telah melemah dalam beberapa tahun terakhir"
.
Parlemen Eropa mengkarakterisasi strategi Riyadh sebagai "multi-alignment"—menyeimbangkan kemitraan keamanan jangka panjang dengan AS sambil memperluas hubungan dengan China, Rusia, dan Global South . Risiko konflik regional masih ada, dengan beberapa analis menyoroti penarikan cadangan untuk belanja militer, meskipun Gubernur SAMA menyatakan bantalan tetap "memadai"
.
Kondisi pasar global juga menambah tekanan. Arus modal ekuitas global berubah negatif pada awal 2026 untuk pertama kalinya sejak Januari, menandakan ketatnya likuiditas di tengah konflik geopolitik yang berkepanjangan . Sikap The Fed yang menahan suku bunga juga menambah ketidakpastian makroekonomi
.
Manuver SAMA membawa konsekuensi berganda bagi industri manajemen aset. Sebagai salah satu kumpulan cadangan negara berdaulat terbesar di dunia, penarikan dana senilai miliaran dolar berarti hilangnya pendapatan langsung dari biaya pengelolaan (fee) bagi manajer yang terkena dampak (setidaknya dua perusahaan, dan kemungkinan lebih banyak lagi dalam tinjauan) .
Bank sentral negara Teluk dan pasar negara berkembang lainnya mungkin mengikuti jejak SAMA. Mereka akan menuntut periode lock-up yang lebih pendek, likuiditas yang lebih tinggi, dan persyaratan yang lebih fleksibel—yang pada akhirnya akan menekan margin keuntungan manajer aset pada mandat negara berdaulat .
Pergeseran dari mandat eksternal menuju instrumen likuiditas murni menandakan bahwa negara berdaulat semakin enggan mentolerir periode lock-up di pasar privat, aset alternatif, atau obligasi berdurasi panjang di tengah ketidakpastian geopolitik .
Bagi manajer aset yang memiliki hubungan signifikan dengan SAMA, kini mereka menghadapi risiko reinvestasi dan kebutuhan untuk menunjukkan kemampuan pengelolaan likuiditas yang unggul agar dapat mempertahankan hubungan tersebut . Namun, peningkatan kepemilikan langsung SAMA pada obligasi Treasury AS memberikan bantalan likuiditas bagi pasar tersebut, meskipun mengurangi jumlah modal yang tersedia untuk mandat pengelolaan aktif
.
Strategi ganda SAMA—membangun bantalan cadangan sambil memusatkan kepemilikan pada instrumen likuid—mencerminkan postur defensif dan hati-hati. Hal ini terjadi saat Arab Saudi menghadapi defisit fiskal kembar, ketidakpastian geopolitik, dan kebutuhan pendanaan besar-besaran untuk transformasi ekonomi ambisius Visi 2030. Bagi manajer aset global, pesannya jelas: mandat negara berdaulat akan semakin mengutamakan likuiditas dan fleksibilitas di atas imbal hasil, dan era delegasi pasif ke perusahaan eksternal mungkin akan berganti dengan pengelolaan yang lebih selektif dan langsung.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
SAMA (Bank Sentral Arab Saudi) mengakumulasi cadangan devisa ke level tertinggi dalam enam tahun, mencapai $496 miliar pada Maret 2026—naik 9,4% dibanding tahun lalu—namun secara bersamaan menarik miliaran dolar dari...
SAMA (Bank Sentral Arab Saudi) mengakumulasi cadangan devisa ke level tertinggi dalam enam tahun, mencapai $496 miliar pada Maret 2026—naik 9,4% dibanding tahun lalu—namun secara bersamaan menarik miliaran dolar dari... Langkah ini mencerminkan pergeseran prioritas SAMA untuk mempertahankan nilai tukar riyal terhadap dolar AS dan memperkuat likuiditas perbankan domestik, bukan sebagai sinyal de dolarisasi; kepemilikan SAMA atas oblig...
Manajer aset global menghadapi tekanan besar: kehilangan pendapatan dari mandat negara berdaulat yang ditarik, tuntutan persyaratan likuiditas yang lebih ketat, serta potensi imbas dari bank sentral negara Teluk lainn...
Loading comments...
Comments
0 comments