LLM bisa menyamai atau melampaui akurasi survei manusia. Peneliti dari ETH Zürich dan University of Mannheim menunjukkan bahwa large language models (LLM) dapat memprediksi apa yang akan dibeli seseorang dengan akurasi sekitar 90% dari akurasi manusia, menggunakan 9.300 respons survei nyata tanpa perlu melakukan satu pun survei baru . Ini menandakan bahwa pemodelan konsumen sintetis (synthetic consumer modeling) mulai menjadi kenyataan.
Generative AI sudah diadopsi oleh pembeli sungguhan. Survei konsumen Capgemini 2025 terhadap 12.000 responden menemukan bahwa hampir satu dari empat konsumen telah menggunakan AI generatif untuk berbelanja, dan 68% siap bertindak berdasarkan rekomendasinya. Di kalangan Gen Z, 55% sudah membeli produk yang direkomendasikan oleh alat AI generatif . BCG melaporkan penggunaan GenAI terkait belanja tumbuh 35% antara Februari dan November 2025 .
Kepercayaan konsumen dan privasi tetap menjadi faktor penengah utama. Sebuah tinjauan sistematis berbasis Scopus (2025) menemukan bahwa sikap konsumen (kepercayaan, masalah privasi) dan niat perilaku menjadi mediator utama adopsi AI di bidang ini, sementara masalah etika menekankan perlunya arsitektur algoritmik yang transparan .
Peringatan penting. Akurasi prediktif bisa menurun jika data yang digunakan jarang atau bias, dan model mungkin kesulitan dengan peristiwa langka, tren baru yang radikal, atau pergeseran sentimen konsumen yang tidak tercermin dalam data historis. Beberapa studi mencatat bahwa AI paling baik digunakan sebagai pelengkap—bukan pengganti—penilaian manusia dan riset pasar kualitatif .
LLM bisa menyamai atau melampaui akurasi survei manusia. Peneliti dari ETH Zürich dan University of Mannheim menunjukkan bahwa large language models (LLM) dapat memprediksi apa yang akan dibeli seseorang dengan akurasi sekitar 90% dari akurasi manusia, menggunakan 9.300 respons survei nyata tanpa perlu melakukan satu pun survei baru . Ini menandakan bahwa pemodelan konsumen sintetis (synthetic consumer modeling) mulai menjadi kenyataan.
Generative AI sudah diadopsi oleh pembeli sungguhan. Survei konsumen Capgemini 2025 terhadap 12.000 responden menemukan bahwa hampir satu dari empat konsumen telah menggunakan AI generatif untuk berbelanja, dan 68% siap bertindak berdasarkan rekomendasinya. Di kalangan Gen Z, 55% sudah membeli produk yang direkomendasikan oleh alat AI generatif . BCG melaporkan penggunaan GenAI terkait belanja tumbuh 35% antara Februari dan November 2025 .
Kepercayaan konsumen dan privasi tetap menjadi faktor penengah utama. Sebuah tinjauan sistematis berbasis Scopus (2025) menemukan bahwa sikap konsumen (kepercayaan, masalah privasi) dan niat perilaku menjadi mediator utama adopsi AI di bidang ini, sementara masalah etika menekankan perlunya arsitektur algoritmik yang transparan .
Peringatan penting. Akurasi prediktif bisa menurun jika data yang digunakan jarang atau bias, dan model mungkin kesulitan dengan peristiwa langka, tren baru yang radikal, atau pergeseran sentimen konsumen yang tidak tercermin dalam data historis. Beberapa studi mencatat bahwa AI paling baik digunakan sebagai pelengkap—bukan pengganti—penilaian manusia dan riset pasar kualitatif .