Kesepakatan sewa gas alam senilai $11 miliar — Pada pertengahan 2025, grup yang dipimpin oleh BlackRock (Global Infrastructure Partners) menandatangani perjanjian sewa infrastruktur gas alam yang melayani proyek gas raksasa Jafurah milik Aramco, dengan struktur sewa-balik selama 20 tahun . Proyek Jafurah sendiri memiliki biaya pengembangan lebih dari $100 miliar
.
Penjualan pembangkit listrik hingga $4 miliar — Aramco menjajaki penjualan hingga lima pembangkit listrik berbasis gas yang memasok energi ke kilang minyaknya. Sumber Reuters mengatakan langkah ini sendiri bisa menghasilkan sekitar $4 miliar, sebagai bagian dari program yang lebih luas .
Divestasi operasi sulfur — Pada 17 Juni 2026, Aramco mengonfirmasi sedang mempertimbangkan penjualan sebagian dari operasi sulfur, melanjutkan langkah monetisasi infrastruktur non-inti .
Saham terminal ekspor dan penyimpanan minyak — Bank-bank termasuk Citigroup telah ditunjuk untuk mengkaji penjualan saham di terminal ekspor dan penyimpanan minyak, dengan nilai potensial melebihi $10 miliar. Aramco diperkirakan akan meluncurkan proses penjualan resmi pada awal 2026 dengan struktur yang mirip dengan kesepakatan pipa sebelumnya .
Strategi penjualan aset ini memiliki preseden kuat: pada 2021, Aramco menjual 49% saham pipa minyaknya seharga $12,4 miliar, dan kemudian di tahun yang sama menjual 49% saham pipa gasnya seharga $15,5 miliar — keduanya dengan pengaturan sewa-balik jangka panjang yang memungkinkan Aramco tetap memegang kendali operasional .
Pada 15 Juni 2026, Arab Saudi dan Korea Selatan menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk memperluas kerja sama di sektor minyak dan gas, secara spesifik untuk meningkatkan penyimpanan minyak mentah Saudi di cadangan minyak strategis Korea Selatan . Kedua menteri berkomitmen memastikan volume minyak mentah dan nafta yang dijanjikan akan dipasok "tanpa gangguan" hingga akhir tahun
.
MoU ini adalah respons langsung terhadap kerentanan rantai pasok yang terungkap akibat krisis Hormuz. Tujuannya: meningkatkan stabilitas pasokan dan memastikan adanya cadangan minyak mentah Saudi yang siap pakai di hub Asia . Kesepakatan ini dibangun di atas perjanjian fondasi tahun 2023, di mana Korea National Oil Corp. (KNOC) setuju untuk menyimpan 5,3 juta barel minyak mentah Saudi — sebagian besar jenis Arab Light — di fasilitas penyimpanan Ulsan di tenggara Korea Selatan, dengan target penyelesaian pada 2028. Berdasarkan kesepakatan itu, Korea Selatan mendapat hak beli prioritas jika terjadi krisis pasokan dan memperoleh pendapatan sewa selama periode lima tahun
.
Perluasan kerja sama ini juga mencakup penjajakan peluang proyek infrastruktur terkait pipa minyak mentah yang menghubungkan fasilitas produksi dan ekspor . Bagi Korea Selatan — yang bergantung pada Selat Hormuz untuk sekitar 70% impor minyaknya — pengaturan ini menjadi lindung nilai ketahanan energi yang sangat kritis
.
Penutupan Selat Hormuz — dipicu oleh konflik AS-Israel dengan Iran pada akhir Februari 2026 — telah menghasilkan apa yang disebut para analis sebagai gangguan terbesar terhadap pasokan energi dunia sejak krisis energi 1970-an .
Sebelum konflik, sekitar 20% pasokan minyak global — sekitar 15 juta barel per hari (bph) minyak mentah dan 5 juta bph produk olahan — melintasi selat tersebut . Hampir 15 juta bph minyak mentah terganggu, menghilangkan pasokan yang setara dengan hampir seperlima konsumsi harian global
. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan produksi minyak dari negara-negara yang terkena dampak penutupan turun lebih dari 14 juta bph
. Wikipedia tentang krisis ini mencatat bahwa pembatasan pengiriman lebih dari 90% (sekitar 10 juta bph produksi minyak) adalah gangguan terbesar dalam sejarah pasar minyak dunia
.
Harga minyak Brent menembus $100 per barel pada 8 Maret untuk pertama kalinya dalam empat tahun, memuncak di $126 per barel, dengan kenaikan harga minyak bulanan terbesar sepanjang sejarah terjadi pada Maret 2026 . Harga minyak Dubai sempat melonjak hingga $170 dalam beberapa skenario
.
Krisis ini telah mengekspos kerentanan sistem minyak global yang menjadi sangat bergantung pada satu titik rawan maritim. Seperti dicatat analis Brookings, pasar Asia "terpukul awal dan keras" karena jarak geografis mereka yang dekat dengan Teluk Persia dan ketergantungan pada pemasok Teluk . Peristiwa ini telah memicu pencarian rute pasokan alternatif, mempercepat investasi di penyimpanan strategis (seperti terlihat di kesepakatan Saudi-Korsel), dan menghidupkan kembali perdebatan tentang diversifikasi energi secara global. Para analis menekankan bahwa bahkan jika selat dibuka kembali, penumpukan pengiriman yang signifikan — yang berpotensi membutuhkan waktu satu bulan atau lebih untuk dibersihkan — akan memperpanjang gangguan
.
Langkah simultan Saudi Aramco — menjalankan program penjualan aset senilai $35 miliar di satu sisi dan memperluas penyimpanan minyak mentah strategis di Korea Selatan di sisi lain — menceritakan kisah yang lebih besar: eksportir minyak dominan dunia sedang merestrukturisasi keuangannya secara agresif sambil membangun keamanan hilir di pasar paling kritisnya. Krisis Selat Hormuz telah mempercepat kedua upaya ini, mengubah strategi monetisasi yang sudah direncanakan menjadi keharusan finansial yang mendesak dan menjadikan kemitraan penyimpanan Asia sebagai kebutuhan geopolitik. Bagi pasar minyak global, krisis ini telah menjadi pengingat brutal tentang seberapa cepat keseimbangan bisa bergeser dari perkiraan kelebihan pasokan menjadi kelangkaan akut — dan betapa lamanya waktu yang dibutuhkan untuk membangun kembali ketahanan.
Comments
0 comments