Penelitian terbaru mengembangkan AMIE untuk menangani penyakit kronis secara longitudinal, yakni dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya. Sistem ini memanfaatkan kemampuan konteks panjang model Gemini dan menggunakan dua agen: agen dialog yang berfokus pada percakapan empatik dengan pasien, serta agen penalaran manajemen yang menelaah ratusan halaman pedoman klinis tepercaya .
Dalam evaluasi tersamar terhadap 100 skenario tiga kunjungan di bidang kardiologi, pulmonologi, neurologi, OBGYN/urologi, dan gastroenterologi, rekomendasi AMIE untuk pemeriksaan dan terapi dinilai lebih presisi secara konsisten. Pada kunjungan kedua, rekomendasi pemeriksaan AMIE cocok dengan jawaban acuan sebesar 99%, dibandingkan 84% pada dokter. Pada kunjungan ketiga, angkanya 100% berbanding 88%. Rencana tersebut juga menyertakan rujukan eksplisit ke pedoman NICE dan BMJ Best Practice .
MIRA mengambil pendekatan yang berbeda. Alih-alih berfokus terutama pada percakapan, agen ini dirancang untuk bekerja di dalam sistem EHR. Dalam simulasi sistem informasi rumah sakit, MIRA mengevaluasi informasi medis, memesan pemeriksaan, serta menyiapkan keputusan diagnosis dan terapi berdasarkan kasus pasien nyata .
Dalam simulasi retrospektif, MIRA mencatat akurasi diagnosis keseluruhan 87,8%, dibandingkan 78,1% pada dokter bersertifikasi. Perbedaannya terlihat pada beberapa diagnosis tertentu, seperti pankreatitis—95,2% berbanding 78,6%—dan apendisitis, dengan 100% berbanding 88% .
MIRA memesan lebih banyak tes darah daripada dokter, yaitu 51% berbanding 28%. Namun, hal itu sebagian diimbangi dengan penggunaan pemindaian pencitraan yang jauh lebih sedikit . Sistem ini memiliki akses ke lebih dari 85.000 kemungkinan tindakan klinis dan diuji dengan 880 perintah adversarial—instruksi yang sengaja dirancang untuk menyesatkan AI. Dalam pengujian tersebut tidak ditemukan kasus kebocoran data .
Keterbatasan terbesar AMIE dan MIRA cukup mendasar: keduanya belum diuji sebagai sistem yang menangani pasien nyata dalam praktik klinis rutin. Tinjauan cakupan tentang agen AI di bidang kesehatan menyebut kurangnya validasi klinis yang kuat di lingkungan dunia nyata sebagai tantangan utama. Banyak evaluasi masih menggunakan data sintetis atau kondisi ideal yang tidak mencerminkan catatan medis nyata dengan data yang hilang, tidak seimbang, dan tidak rapi .
Beberapa keterbatasan penting lainnya adalah:
Para ilmuwan yang mengomentari dua studi Nature tersebut mengakui bahwa hasilnya merupakan kemajuan penting. Salah satu reaksi ahli yang dihimpun UK Science Media Centre bahkan menyebutnya sebagai “lompatan kualitatif” dibandingkan generasi AI medis sebelumnya. Namun, para ahli juga menekankan bahwa penelitian itu dilakukan dalam kondisi yang terkendali .
Kajian yang lebih luas tentang agen AI untuk layanan kesehatan menunjukkan setidaknya empat persoalan besar.
Ketika agen AI menghasilkan rekomendasi diagnosis atau terapi, proses penalarannya sering kali tidak cukup transparan. Dokter dapat kesulitan mengetahui bagaimana sistem sampai pada suatu kesimpulan. Kurangnya keterjelasan ini dapat mengurangi kepercayaan dan menghambat penerapan .
Jika rekomendasi AI berujung pada kesalahan medis, belum ada kesepakatan yang jelas mengenai pihak yang memikul tanggung jawab hukum dan etis: pengembang AI, rumah sakit yang menggunakannya, atau dokter yang mengawasi. Kerangka regulasi seperti aturan FDA dan EU AI Act juga belum sepenuhnya menjawab kebutuhan tata kelola khusus untuk AI medis yang bersifat agentik .
Sistem yang dilatih dan diuji menggunakan data dari satu pusat medis atau dataset tertentu, seperti MIMIC-IV, belum tentu bekerja dengan baik pada kelompok demografis, prosedur administrasi, dan sistem kesehatan yang berbeda .
Para peneliti yang mengembangkan versi AMIE dengan pengaman, yaitu g-AMIE, secara eksplisit membatasi sistem agar hanya melakukan pengambilan riwayat kesehatan dan tidak memberikan nasihat medis yang dipersonalisasi. Batasan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI secara bebas tanpa pengawasan masih dianggap terlalu dini dan berisiko .
Untuk saat ini, AMIE maupun MIRA belum siap digunakan secara rutin sebagai pengambil keputusan klinis otonom.
AMIE memang sudah mulai memasuki tahap validasi dunia nyata. Studi kelayakan prospektif satu lengan yang dilakukan bersama Beth Israel Deaconess Medical Center mengeksplorasi kemampuan AMIE mengumpulkan informasi pasien sebelum kunjungan layanan primer rawat jalan . Dalam studi kelayakan terpisah di layanan urgent care yang melibatkan 100 pasien, diagnosis banding AMIE mencakup diagnosis akhir pada 90% kasus, dengan akurasi 75% untuk tiga kemungkinan diagnosis teratas. Namun, dokter layanan primer tetap mengungguli AMIE dalam menilai kepraktisan dan efektivitas biaya rencana penatalaksanaan .
Temuan ini merupakan sinyal awal yang menjanjikan, tetapi masih berupa studi kelayakan. Hasil tersebut belum sama dengan uji terkontrol acak berskala besar yang diperlukan untuk membuktikan bahwa AI benar-benar meningkatkan keselamatan dan hasil kesehatan pasien.
Sebelum deployment klinis berskala luas menjadi realistis, masih ada sejumlah prasyarat:
Studi Juni 2026 menunjukkan kemajuan nyata. AMIE berkembang dari AI percakapan untuk satu kali diagnosis menjadi sistem yang dapat membantu menyusun rencana pengelolaan penyakit lintas kunjungan dengan merujuk pada pedoman klinis. MIRA menunjukkan bahwa agen AI dapat menavigasi rekam medis elektronik serta menyarankan tindakan klinis dalam simulasi retrospektif dengan performa yang menyamai atau melampaui dokter pada metrik tertentu .
Namun, jarak antara demonstrasi laboratorium dan praktik kedokteran masih lebar. Lingkungan klinis nyata dipenuhi data yang tidak lengkap, gejala yang ambigu, keterbatasan sumber daya, variasi prosedur, serta kebutuhan akan akuntabilitas yang jelas .
Tonggak berikutnya harus berupa penelitian prospektif pada pasien nyata, kerangka regulasi yang tegas, bukti keselamatan pada populasi beragam, dan demonstrasi bahwa sistem ini benar-benar memperbaiki hasil pasien—bukan sekadar memperoleh nilai tinggi dalam skenario pengujian.
Untuk sekarang, AMIE dan MIRA lebih tepat dipandang sebagai prototipe riset yang menjanjikan. Keduanya mungkin kelak menjadi alat bantu dokter, tetapi belum dapat dianggap sebagai pengganti dokter atau digunakan tanpa pengawasan klinis.
Penelitian terbaru mengembangkan AMIE untuk menangani penyakit kronis secara longitudinal, yakni dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya. Sistem ini memanfaatkan kemampuan konteks panjang model Gemini dan menggunakan dua agen: agen dialog yang berfokus pada percakapan empatik dengan pasien, serta agen penalaran manajemen yang menelaah ratusan halaman pedoman klinis tepercaya .
Dalam evaluasi tersamar terhadap 100 skenario tiga kunjungan di bidang kardiologi, pulmonologi, neurologi, OBGYN/urologi, dan gastroenterologi, rekomendasi AMIE untuk pemeriksaan dan terapi dinilai lebih presisi secara konsisten. Pada kunjungan kedua, rekomendasi pemeriksaan AMIE cocok dengan jawaban acuan sebesar 99%, dibandingkan 84% pada dokter. Pada kunjungan ketiga, angkanya 100% berbanding 88%. Rencana tersebut juga menyertakan rujukan eksplisit ke pedoman NICE dan BMJ Best Practice .
MIRA mengambil pendekatan yang berbeda. Alih-alih berfokus terutama pada percakapan, agen ini dirancang untuk bekerja di dalam sistem EHR. Dalam simulasi sistem informasi rumah sakit, MIRA mengevaluasi informasi medis, memesan pemeriksaan, serta menyiapkan keputusan diagnosis dan terapi berdasarkan kasus pasien nyata .
Dalam simulasi retrospektif, MIRA mencatat akurasi diagnosis keseluruhan 87,8%, dibandingkan 78,1% pada dokter bersertifikasi. Perbedaannya terlihat pada beberapa diagnosis tertentu, seperti pankreatitis—95,2% berbanding 78,6%—dan apendisitis, dengan 100% berbanding 88% .
MIRA memesan lebih banyak tes darah daripada dokter, yaitu 51% berbanding 28%. Namun, hal itu sebagian diimbangi dengan penggunaan pemindaian pencitraan yang jauh lebih sedikit . Sistem ini memiliki akses ke lebih dari 85.000 kemungkinan tindakan klinis dan diuji dengan 880 perintah adversarial—instruksi yang sengaja dirancang untuk menyesatkan AI. Dalam pengujian tersebut tidak ditemukan kasus kebocoran data .
Keterbatasan terbesar AMIE dan MIRA cukup mendasar: keduanya belum diuji sebagai sistem yang menangani pasien nyata dalam praktik klinis rutin. Tinjauan cakupan tentang agen AI di bidang kesehatan menyebut kurangnya validasi klinis yang kuat di lingkungan dunia nyata sebagai tantangan utama. Banyak evaluasi masih menggunakan data sintetis atau kondisi ideal yang tidak mencerminkan catatan medis nyata dengan data yang hilang, tidak seimbang, dan tidak rapi .
Beberapa keterbatasan penting lainnya adalah:
Para ilmuwan yang mengomentari dua studi Nature tersebut mengakui bahwa hasilnya merupakan kemajuan penting. Salah satu reaksi ahli yang dihimpun UK Science Media Centre bahkan menyebutnya sebagai “lompatan kualitatif” dibandingkan generasi AI medis sebelumnya. Namun, para ahli juga menekankan bahwa penelitian itu dilakukan dalam kondisi yang terkendali .
Kajian yang lebih luas tentang agen AI untuk layanan kesehatan menunjukkan setidaknya empat persoalan besar.
Ketika agen AI menghasilkan rekomendasi diagnosis atau terapi, proses penalarannya sering kali tidak cukup transparan. Dokter dapat kesulitan mengetahui bagaimana sistem sampai pada suatu kesimpulan. Kurangnya keterjelasan ini dapat mengurangi kepercayaan dan menghambat penerapan .
Jika rekomendasi AI berujung pada kesalahan medis, belum ada kesepakatan yang jelas mengenai pihak yang memikul tanggung jawab hukum dan etis: pengembang AI, rumah sakit yang menggunakannya, atau dokter yang mengawasi. Kerangka regulasi seperti aturan FDA dan EU AI Act juga belum sepenuhnya menjawab kebutuhan tata kelola khusus untuk AI medis yang bersifat agentik .
Sistem yang dilatih dan diuji menggunakan data dari satu pusat medis atau dataset tertentu, seperti MIMIC-IV, belum tentu bekerja dengan baik pada kelompok demografis, prosedur administrasi, dan sistem kesehatan yang berbeda .
Para peneliti yang mengembangkan versi AMIE dengan pengaman, yaitu g-AMIE, secara eksplisit membatasi sistem agar hanya melakukan pengambilan riwayat kesehatan dan tidak memberikan nasihat medis yang dipersonalisasi. Batasan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI secara bebas tanpa pengawasan masih dianggap terlalu dini dan berisiko .
Untuk saat ini, AMIE maupun MIRA belum siap digunakan secara rutin sebagai pengambil keputusan klinis otonom.
AMIE memang sudah mulai memasuki tahap validasi dunia nyata. Studi kelayakan prospektif satu lengan yang dilakukan bersama Beth Israel Deaconess Medical Center mengeksplorasi kemampuan AMIE mengumpulkan informasi pasien sebelum kunjungan layanan primer rawat jalan . Dalam studi kelayakan terpisah di layanan urgent care yang melibatkan 100 pasien, diagnosis banding AMIE mencakup diagnosis akhir pada 90% kasus, dengan akurasi 75% untuk tiga kemungkinan diagnosis teratas. Namun, dokter layanan primer tetap mengungguli AMIE dalam menilai kepraktisan dan efektivitas biaya rencana penatalaksanaan .
Temuan ini merupakan sinyal awal yang menjanjikan, tetapi masih berupa studi kelayakan. Hasil tersebut belum sama dengan uji terkontrol acak berskala besar yang diperlukan untuk membuktikan bahwa AI benar-benar meningkatkan keselamatan dan hasil kesehatan pasien.
Sebelum deployment klinis berskala luas menjadi realistis, masih ada sejumlah prasyarat:
Studi Juni 2026 menunjukkan kemajuan nyata. AMIE berkembang dari AI percakapan untuk satu kali diagnosis menjadi sistem yang dapat membantu menyusun rencana pengelolaan penyakit lintas kunjungan dengan merujuk pada pedoman klinis. MIRA menunjukkan bahwa agen AI dapat menavigasi rekam medis elektronik serta menyarankan tindakan klinis dalam simulasi retrospektif dengan performa yang menyamai atau melampaui dokter pada metrik tertentu .
Namun, jarak antara demonstrasi laboratorium dan praktik kedokteran masih lebar. Lingkungan klinis nyata dipenuhi data yang tidak lengkap, gejala yang ambigu, keterbatasan sumber daya, variasi prosedur, serta kebutuhan akan akuntabilitas yang jelas .
Tonggak berikutnya harus berupa penelitian prospektif pada pasien nyata, kerangka regulasi yang tegas, bukti keselamatan pada populasi beragam, dan demonstrasi bahwa sistem ini benar-benar memperbaiki hasil pasien—bukan sekadar memperoleh nilai tinggi dalam skenario pengujian.
Untuk sekarang, AMIE dan MIRA lebih tepat dipandang sebagai prototipe riset yang menjanjikan. Keduanya mungkin kelak menjadi alat bantu dokter, tetapi belum dapat dianggap sebagai pengganti dokter atau digunakan tanpa pengawasan klinis.