Pengumuman awal yang gagal. Pada awal Mei 2026, Presiden Trump meluncurkan "Project Freedom," operasi besar-besaran dengan kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat, platform tak berawak, dan 15.000 personel militer. Tujuannya: mengawal kapal-kapal komersial melewati selat .
Namun, rencana pengawalan terbuka ini dengan cepat ditinggalkan karena dianggap terlalu konfrontatif. Meski begitu, operasi terus berjalan dalam bentuk yang kurang terlihat .
Operasi rahasia. Alih-alih menantang Iran secara terbuka, militer AS mulai berkoordinasi diam-diam dengan perusahaan pelayaran. Kapal-kapal diminta mematikan transponder, merapat ke pantai Oman di sisi selatan selat untuk menghindari ranjau laut Iran, dan bergerak di bawah pengawasan AS yang tak kasatmata . Hingga akhir Mei, CENTCOM (Komando Pusat AS) telah memandu sekitar 70 kapal melewati selat
.
Puncaknya, pada 10 Juni, Trump mengungkapkan bahwa militer AS telah secara rahasia membantu 200 kapal komersial dan memfasilitasi perjalanan lebih dari 100 juta barel minyak melalui selat itu . Ini adalah pengakuan paling jelas bahwa AS tetap berperan besar di selat itu walau tanpa deklarasi resmi.
Meski ada operasi rahasia, volume kapal yang melintas masih sangat jauh dari normal. Dari 1 Maret hingga 19 Mei, hanya 895 kapal yang melintasi selat itu—bandingkan dengan sekitar 138 kapal per hari sebelum perang .
Saat ini, hanya sekitar 5-10 kapal yang transit setiap harinya . Sebagai gambaran, sebelum konflik, arus kapal di selat ini seperti jalan tol yang padat; kini lebih mirip jalan pedesaan yang sesekali dilewati kendaraan.
Pada 14-15 Juni 2026, AS dan Iran mengumumkan perjanjian pendahuluan—sebuah nota kesepahaman (MoU) sementara—yang bertujuan mengakhiri perang lebih dari tiga bulan . Upacara penandatanganan resmi dijadwalkan pada 19 Juni di Swiss.
Poin-poin pentingnya:
Perlu dicatat bahwa perjanjian ini bersifat sementara. Menurut The Guardian, ini adalah langkah awal yang memberikan kelegaan segera—membuka selat dan menunda isu nuklir yang merupakan alasan awal perang .
Setelah blokade laut AS berlaku pada April 2026, lalu lintas tanker minyak Iran nyaris berhenti total. Baru pada 4 Juni, empat kapal tanker berbendera Iran melintas untuk pertama kalinya sejak 15 April .
Kemudian pada 17 Juni 2026, setidaknya tiga kapal tanker Iran membawa hampir lima juta barel minyak mentah berhasil melewati blokade AL AS. Ini adalah pengiriman keluar pertama dalam dua bulan. Menurut CNBC, operator kapal bergerak dengan hati-hati, "dalam ketidakpercayaan yang waspada" menjelang perjanjian kerangka itu .
Analis dari firma data perdagangan Kpler memperkirakan bahwa jika perjanjian berjalan tanpa kendala besar, lalu lintas kapal bisa naik hingga mendekati setengah dari tingkat pra-perang dalam waktu satu bulan . CEO perusahaan tanker minyak terkemuka Frontline juga memperkirakan peningkatan signifikan jika ada stabilitas yang terjamin di selat ini
.
Publik dan pelaku pasar kini menanti hasil nyata dari penandatanganan di Swiss. Yang jelas adalah bahwa meski perjanjian damai mungkin diteken, penilaian intelijen AS sudah memberikan sinyal peringatan: Iran memiliki kemampuan untuk menutup kembali selat itu kapan saja. Ini menjadikan Selat Hormuz bukan sekadar jalur perdagangan, melainkan kartu truf geopolitik yang bisa dimainkan Teheran di masa depan .
Bagi ekonomi global, ini berarti ketergantungan pada stabilitas Timur Tengah tetap tinggi, dan setiap perkembangan—baik eskalasi maupun diplomasi—akan langsung tercermin di harga minyak dunia.
Sumber utama: Departemen Perang AS,
CNN,
CNBC,
Bloomberg,
CNBC (pernyataan Trump),
CNBC (kapal tanker Iran),
US News/AFP,
Moneycontrol,
Economic Times,
Fortune,
CNBC,
CNN,
The Guardian,
Moneycontrol,
Ahram Online.
Comments
0 comments