Valuasi yang fantastis. Entitas gabungan dengan kapitalisasi pasar Tesla sekitar Rp 28.900 triliun ($1,7 triliun) ditambah valuasi IPO SpaceX sekitar Rp 29.750 triliun ($1,75 triliun) bisa mendekati monster bisnis senilai Rp 57.800–59.500 triliun ($3,4–3,5 triliun), menjadikannya salah satu perusahaan paling bernilai di dunia .
Nol laba gabungan. Fortune mencatat bahwa meskipun kapitalisasi pasar teoritis hampir Rp 57.800 triliun, perusahaan gabungan ini pada dasarnya tidak akan menghasilkan laba (nol profit). SpaceX sangat padat modal dan berinvestasi besar-besaran, sementara Tesla menghadapi tekanan margin . Kalangan skeptis melihat ini sebagai resep gelembung spekulatif.
Berlawanan dengan tren industri. The Motley Fool menunjukkan bahwa raksasa industri seperti General Electric, Honeywell, United Technologies, dan Siemens semuanya telah memecah diri dalam beberapa tahun terakhir. Investor lebih memilih perusahaan yang fokus dan murni daripada konglomerat yang luas .
Masalah tata kelola dan konflik kepentingan. Kritikus seperti Electrek menyebut ini sebagai langkah "self-dealing bernilai miliaran dolar ke-4" Musk, setelah merger Tesla–SolarCity, akuisisi Twitter, dan transfer sumber daya ke xAI. Kekhawatirannya adalah Musk akan memanfaatkan merger untuk menutupi kerugian di bawah satu payung besar dengan mengorbankan pemegang saham minoritas Tesla .
Pemegang saham SpaceX terdelusi oleh utang Tesla. Beberapa analis memperingatkan jika SpaceX mengakuisisi atau merger dengan Tesla, harga saham SpaceX akan turun karena harus menanggung beban utang dan kewajiban lama Tesla .
Memperumit narasi IPO SpaceX. SpaceX baru saja melantai di bursa sebagai perusahaan luar angkasa dan AI yang fokus. Merger yang cepat akan mengaburkan strategi itu dan berpotensi mengasingkan investor IPO yang membeli narasi perusahaan murni .
Dan Ives (Wedbush) — Banteng paling agresif. Ia berulang kali menempatkan peluang di angka 80–90% untuk merger pada awal 2027, menyebutnya "cawan suci" (holy grail) dan mengatakan cetak birunya sudah siap . Ia percaya struktur kesepakatan kemungkinan besar adalah merger saham antara dua setara atau akuisisi Tesla oleh SpaceX, menciptakan raksasa "AI fisik" tunggal
.
Anthony Pompliano — Sangat mendukung. Ia secara terbuka mendesak Musk di X untuk merger "secepat mungkin," dengan alasan investor ritel layak mendapatkan eksposur penuh ke visi Musk dalam satu instrumen . Ia melihat ini sebagai cara terbersih bagi investor kecil untuk ikut serta dalam kerajaan bisnis Musk.
Ross Gerber (Gerber Kawasaki) — Menyebut merger sebagai "kesimpulan yang tak terelakkan" (foregone conclusion) dan mengatakan antisipasinya saja sudah menopang harga saham Tesla . Namun, ia kritis terhadap struktur: ia menyatakan ini "lebih terlihat seperti SpaceX akan menalangi Tesla" dan semuanya akan "dibungkus jadi satu bola Elon"
. Ia juga mengeluh bahwa chip dan insinyur Tesla digunakan untuk membangun teknologi xAI yang kini dimiliki entitas terpisah, dan khawatir dinamika serupa bisa terulang dalam penggabungan Tesla–SpaceX
.
Gwynne Shotwell (Presiden SpaceX) — Tidak memberi komitmen publik, tetapi tidak menolak gagasan. Ketika ditanya tentang merger pasca-IPO, ia menjawab "Saat ini saya fokus menjaga lampu tetap menyala di sini," yang ditafsirkan analis sebagai non-penolakan yang berarti .
Walter Isaacson — Tidak ditemukan pernyataan publik tentang merger Tesla–SpaceX dalam sumber yang tersedia.
Bagi investor ritel di Indonesia yang mengamati saham teknologi global, merger ini menawarkan sekaligus risiko. Di satu sisi, satu saham yang mencakup seluruh ekosistem Musk akan menyederhanakan eksposur ke tema besar seperti kendaraan otonom, robotika, dan internet satelit—area yang selaras dengan transformasi digital di Indonesia. Di sisi lain, valuasi yang melambung dan konflik kepentingan yang melekat pada kepemilikan silang Musk dapat menciptakan volatilitas yang tidak nyaman. Seperti yang diingatkan Gerber, "investor tahu apa yang mereka hadapi ketika menaruh uang di tangan Musk" .
Spekulasi ini masih cair. Tetapi satu hal yang pasti: jika merger terjadi, itu akan menjadi salah satu kesepakatan korporasi paling monumental dalam sejarah, dengan efek riak yang dirasakan dari Wall Street hingga ke bursa-bursa di Asia.
Comments
0 comments