Kesepakatan awal AS Iran, sebuah nota kesepahaman yang diumumkan pada pertengahan Juni 2026, langsung mencabut blokade laut dan membuka kembali Selat Hormuz dengan imbalan jendela negosiasi 60 hari tentang program nuk... Para pemimpin Israel dari berbagai spektrum politik 'tersingkir dan marah', menggambarkan kesepa...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What were the key criticisms and reactions to the preliminary U.S.-Iran war deal announced in late February 2025, which centers on reopening. Article summary: **Note:** The preliminary U.S.-Iran war deal was not announced in late February 2025. Rather, it was announced in mid-June 2026, following over three months of conflict that began in February 2025. The framework was reve. Topic tags: general, general web, user generated, news. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "# As U.S.-Iran deal nears, Trump ally warns against creating perception Tehran controls Hormuz — ‘it makes one wonder why the war started to begin with’. President Donald Trump ann" source context "As U.S.-Iran deal nears, Trump ally warns against creating perception Tehran controls Hormuz | Fortune" Refere
Ketenangan yang rapuh kini menyelimuti Teluk Persia, namun kesepakatan yang mengamankannya telah memicu badai politik. Pada pertengahan Juni 2026, Amerika Serikat dan Iran mengumumkan nota kesepahaman (MoU) awal untuk mengakhiri konflik terbuka yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan . Kerangka kerja ini menjanjikan pembukaan kembali Selat Hormuz yang vital, pencabutan blokade laut AS yang memberatkan di pelabuhan-pelabuhan Iran, dan perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Dalam periode inilah kedua belah pihak dijadwalkan untuk merundingkan isu-isu yang paling pelik, termasuk program nuklir Iran
. Pasar saham global memang melonjak menanggapi berita ini, tetapi bagi para sekutu utama AS, analis keamanan, dan kritikus politik, perjanjian ini justru merupakan jeda yang sangat kontroversial—sebuah langkah yang menghadiahi Teheran sembari menendang masalah paling berbahaya ke lain waktu.
Tak ada pihak yang bereaksi dengan lebih waspada selain Israel. Kesepakatan awal ini telah menyatukan spektrum luas pemimpin Israel dalam kecaman, terutama karena negara mereka sama sekali dikucilkan dari proses negosiasi, meskipun mereka adalah pihak yang berperang bersama AS saat konflik dimulai pada Februari 2025 .
Para pejabat Israel, baik dari koalisi pemerintah maupun oposisi, memperingatkan bahwa kerangka kerja yang dirundingkan sepenuhnya di belakang Israel ini membuat tujuan keamanan inti negara mereka sama sekali tidak terselesaikan . Isu-isu paling mendesak untuk keamanan Israel—penghentian program nuklir secara langsung, pembatasan yang terverifikasi pada program rudal balistik Iran, dan pengekangan terhadap jaringan proksi regional seperti Hizbullah—semuanya ditunda ke negosiasi lanjutan dalam 60 hari ke depan
. Bagi Israel, proses ini tidak memberikan jaminan apa pun untuk mengatasi ancaman-ancaman tersebut. Kenyataan ini membuat para analis menggambarkan kesepakatan itu sebagai sebuah "malapetaka" yang secara efektif mengunci keuntungan strategis Iran
.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang sebelumnya mengutip jaminan pribadi dari mantan Presiden Trump bahwa AS akan bersikeras pada perlucutan senjata nuklir total, tetap bungkam di depan publik soal perjanjian ini . Namun, para sekutu koalisinya tidak menahan diri. Wall Street Journal melaporkan bahwa para pemimpin senior Israel tengah merenungkan implikasi strategis dari berkurangnya tekanan AS terhadap Teheran dan keretakan hubungan yang kian lebar dengan Washington terkait konflik paralel dengan Hizbullah di Lebanon, yang tidak diselesaikan oleh kesepakatan ini
.
Kritik paling tajam terhadap MoU ini, dari Washington hingga Yerusalem, tertuju pada apa yang tidak ada di dalamnya. Kesepakatan ini mencapai pertukaran langsung—AS mencabut blokade lautnya sebagai imbalan Iran membuka kembali Selat Hormuz—tetapi menunda setiap isu keamanan fundamental yang menjadi pemicu perang itu sendiri.
Para kritikus menunjuk pada beberapa kelalaian yang berbahaya:
Penundaan yang menyeluruh ini memicu pertanyaan pedas di kalangan konservatif AS, seperti dilaporkan oleh Chosun Ilbo: "Jika begini jadinya, untuk apa kita memulai perang?" . Kritik ini mencerminkan pandangan bahwa AS menggunakan kekuatan militer yang luar biasa dan menderita kerugian signifikan hanya untuk merundingkan sebuah kesepakatan yang memberi Iran keringanan ekonomi langsung tanpa membongkar ancaman-ancaman yang membuat konflik ini perlu dijalani.
Perang ini tanpa ragu telah menimbulkan kerusakan berat pada kemampuan militer konvensional dan strategis Iran. Berbagai penilaian mengonfirmasi bahwa persentase signifikan dari persenjataan rudal, sistem pertahanan udara, angkatan udara, dan infrastruktur drone Iran telah didegradasi oleh serangan berkelanjutan dari Israel dan AS . Program nuklirnya, yang selama ini menjadi pilar bayangan pencegahan mereka, juga mengalami kerusakan serius, meskipun besarannya masih belum terkuantifikasi secara publik
.
Namun, terlepas dari hantaman ini, putusan strategis utama dari para analis yang fokus pada kawasan ini tetaplah serius. The Straits Times, mengutip sumber dan diplomat Teluk, menyimpulkan bahwa kesepakatan ini "tidak dapat mengubah putusan dari perang lebih dari tiga bulan" . Keseimbangan kekuatan di Timur Tengah sebagian besar tetap tidak berubah. Jauh dari kata takluk, Iran justru keluar dari konflik ini dengan "semakin percaya diri secara politik", dengan rezimnya yang utuh dan narasi perlawanannya yang kian diperkuat
.
Korban sekunder yang signifikan dari perang ini adalah kepercayaan negara-negara Arab Teluk terhadap jaminan keamanan AS. Para analis yang sama menggambarkan kepercayaan ini sebagai "sangat terguncang", karena ibu kota-ibu kota Teluk menyaksikan koalisi yang dipimpin negara adidaya gagal secara meyakinkan mengalahkan rival regional mereka . Kini mereka melihat Iran yang, bahkan dengan persenjataan yang terdegradasi, masih memiliki kapasitas yang cukup untuk mengganggu jalur pelayaran dan pasar energi secara bertahap, tanpa melewati batas ke konfrontasi langsung
.
Kerangka kerja ini telah memicu perhitungan ulang strategis yang cepat di seluruh kawasan. Negara-negara Teluk sedang menilai kembali ketergantungan dan aliansi mereka dalam lanskap di mana perlindungan Amerika terasa kurang dapat diandalkan, sementara Iran berdiri lebih percaya diri daripada sebelum perang dimulai . Sementara itu, AS terguncang oleh kontroversi internalnya sendiri. Meskipun pasar saham bereaksi positif terhadap pembukaan kembali Selat Hormuz—dengan indeks S&P 500 naik 1,9% dan harga minyak turun hampir 5%—kesepakatan ini tetap sangat tidak populer di dalam Partai Republik dan di antara para pemimpin Yahudi AS
. Kekhawatiran mereka mencerminkan Israel: bahwa tidak ada konsesi nuklir yang jelas yang telah diperoleh, dan bahwa ancaman rudal balistik serta jaringan proksi tetap sama sekali tak tertangani
.
Kesepakatan awal AS-Iran telah menghentikan baku tembak selama 60 hari dan membuka kembali arteri kritis energi global. Namun dengan mendiamkan suara dentuman senjata, ia justru memperkuat paduan suara dari pihak-pihak yang khawatir, yang memperingatkan bahwa Amerika Serikat mungkin telah menukar jeda sementara dari perang dengan sebuah kemunduran strategis jangka panjang.
Koreksi: Kesepakatan awal AS-Iran diumumkan pada pertengahan Juni 2026, bukan akhir Februari 2025. Pertanyaan awal mengandung kesalahan tanggal. Konflik itu sendiri dimulai pada Februari 2025, dan kerangka kerja ini terungkap setelah lebih dari tiga bulan permusuhan berlangsung.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Kesepakatan awal AS Iran, sebuah nota kesepahaman yang diumumkan pada pertengahan Juni 2026, langsung mencabut blokade laut dan membuka kembali Selat Hormuz dengan imbalan jendela negosiasi 60 hari tentang program nuk...
Kesepakatan awal AS Iran, sebuah nota kesepahaman yang diumumkan pada pertengahan Juni 2026, langsung mencabut blokade laut dan membuka kembali Selat Hormuz dengan imbalan jendela negosiasi 60 hari tentang program nuk... Para pemimpin Israel dari berbagai spektrum politik 'tersingkir dan marah', menggambarkan kesepakatan itu sebagai 'malapetaka' karena dirundingkan tanpa partisipasi mereka, mengunci keuntungan strategis Iran, dan meng...
Para analis memperingatkan bahwa kerangka kerja ini membuat Iran semakin percaya diri secara politik dan mampu melakukan disrupsi bertahap, sekaligus mengguncang kepercayaan negara negara Teluk terhadap perlindungan AS.